
Satu Minggu kemarin, Maya meratapi kepergian Alma, ia benar-benar merasakan kehilangan yang teramat menyakitkan, seperti kehilangan separuh jiwanya. Bagaimana tidak, anak yang ia besarkan sejak bayi, yang ia ajarkan bicara dan juga berjalan, hingga menjadi anak yang pintar, yang selalu mengisi hari-harinya dengan tawa dan keceriaannya, kini Alma sudah pergi meninggalkannya untuk kehidupan yang baru.
Rasanya ia kehilangan semangat untuk melakukan apapun, bahkan untuk tersenyum pun rasanya sulit.
Entah sedang apa Alma saat ini, apakah dia sudah makan, apakah dia tidur teratur, apakah dia nyaman dengan tempat tinggalnya yang baru. Selalu itu yang terlintas dalam benak Maya.
Tapi Maya tidak sendiri, ia di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi nya, mereka semua selalu menghibur dan memberikan kekuatan untuk Maya, salah satunya Raka dan Alvian, mereka selalu menyempatkan waktu untuk menemui Maya, bahkan mereka pernah datang di saat waktu yang bersamaan, membuat suasana menjadi tidak nyaman.
**
Semua orang sangat berharap jika Alma mendapatkan kebahagiaan di kehidupan nya yang baru, mendapatkan kasih sayang dari orang tua angkatnya, namun tampaknya Alma tidak mendapatkan itu semua, sebab orang tua angkatnya tidak benar-benar menyayanginya, mereka mengadopsi Alma hanya untuk mendapatkan harta warisan dari orangtuanya, sebab jika mereka tidak memiliki anak, mereka tidak akan mendapatkan warisan.
Seperti hari ini, Raka dan Alvian datang menemui Maya di saat yang bersamaan, dan mereka berdua juga sama-sama membawakan makanan kesukaan Maya.
Untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, Maya mengajak anak-anak untuk makan bersama, agar suasana nya mencair.
Tapi bedanya kali ini Raka menemui Maya untuk memberitahunya, sekaligus berpamitan bahwa ia akan pergi ke luar kota selama beberapa hari untuk seminar.
"May saya pulang dulu ya, saya harus siap-siap, soalnya besok saya harus berangkat pagi-pagi" Raka terpaksa harus pulang terlebih dahulu.
"Ia aku doain semoga seminar nya sukses" jawab Maya.
"Kamu mau dia bawain oleh-oleh apa"
"Mau aku beliin makanan kesukaan kamu gak ?"
"Yang waktu itu pernah aku beliin" Selama ini setiap Raka pergi keluar kota, biasanya ia selalu membawakan buah tangan untuk Maya dan Alma, termasuk anak-anak panti.
"Aku lagi gak pengen apa-apa"
"Biasanya Alma yang paling seneng kalau di bawain oleh-oleh" Seketika kedua mata Maya tampak sendu
"Kamu pasti masih kepikiran Alma ya"
"Sdah May jangan di inget-inget terus....nanti dia gak betah di sana" ucap Raka seraya mengusap bahu Maya.
"Siap pak Dokter" Maya berusaha untuk tersenyum di hadapan Raka.
"Udah yah jangan galau-galau terus" ucap Raka seraya mengacak-acak rambut Maya.
Alvian hanya bisa diam menyaksikan kedekatan mereka. Tentu saja ia tidak suka melihat hal tersebut.
__ADS_1
Setelah Raka pergi, Alvian bisa lebih leluasa berbicara dengan Maya. Sebenarnya Raka pun terlihat berat meninggalkan Maya dan Alvian berduaan saja, tapi ia harus segera pulang.
**
Perginya Raka ke luar kota, membuat Alvian bisa bergerak bebas mendekati Maya, tanpa ada yang menghalangi. Setiap hari ia selalu datang ke panti untuk menemui Maya, sesekali ia juga mengajak Maya makan di luar, di tempat yang biasa mereka kunjungi dulu, saat mereka masih jadi suami istri.
Alvian memang sengaja mengajak Maya ke tempat-tempat yang mempunyai kenangan bagi mereka, ia berharap jika hati Maya bisa tersentuh dan terbuka kembali untuknya, karna ia yakin jika di dalam hati kecil Maya
masih tersimpan namanya.
Tampaknya cara yang di lakukan Alvian tidaklah sia-sia, karna sepertinya hati Maya sudah sedikit melunak, terlihat dari cara bicara dan sikap Maya yang sudah tidak terlalu kaku kepada Alvian.
Hari ini Alvian berniat untuk mengutarakan perasaannya kepada Maya, dan meminta Maya untuk kembali menjadi pendamping hidupnya. Alvian sudah memikirkan hal itu matang-matang, ia akan terima apapun keputusan Maya.
Malam ini mereka berdua sedang berada di sebuah restoran mewah yang sudah di pesan khusus oleh Alvian, hingga tidak ada pengunjung lain selain mereka. ia juga meminta agar tempat tersebut di dekor seindah mungkin menggunakan bunga-bunga yang di sukai Maya agar terlihat lebih cantik, dan terkesan romantis.
"Kok Restoran nya sepi banget ya"
"Masa restoran sebagus ini gak ada pengunjung nya sama sekali" Tanya Maya bingung, sebab ia tidak menemukan satupun orang di sekitarnya, selain pelayan restoran.
"Mungkin memang sedang sepi aja May" jawab Alvian bohong, Alvian memang tidak memberitahu Maya akan hal itu.
Akhirnya Maya dan Alvian menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Setelah mereka selesai menyantap makan malamnya, tiba-tiba datang beberapa orang dengan membawakan lagu romantis, serta membawa buket bunga mawar putih yang sangat cantik, kemudian di serahkan kepada Alvian.
Maya terlihat terkejut dan terheran-heran dengan semua itu.
"Mas... ini maksudnya apa" tanya Maya bingung.
Alvian segera bangun dari tempat duduknya untuk menghampiri Maya, kemudian ia berlutut si hadapan Maya seraya memberikan sebuah buket bunga tersebut.
"May aku minta maaf kalau aku lancang"
"Mungkin aku gak pantas untuk mengatakan hal ini"
"Tapi aku hanya ingin kamu tau bahwa sampai saat ini aku masih mencintai kamu"
"Saya harap kamu juga memiliki perasaan yang sama"
"Saya ingin kita bisa kembali lagi seperti dulu"
__ADS_1
"Apa kamu mau jadi istri ku lagi May ?"
Maya terlihat semakin bingung setelah mendengar ucapan Alvian.
"May saya tau kamu pasti bingung"
"kamu tidak perlu merasa tidak enak ataupun merasa kasihan kepada saya"
"Kamu hanya perlu mengatakan apa yang ada di dalam hati kamu"
"Aku siap menerima apapun jawaban dari kamu" ucap Alvian ketika melihat Maya tampak kebingungan.
"Mas... bagi aku ini terlalu cepat"
"Aku belum kepikiran sama sekali untuk menikah lagi"
"Aku juga gak tau perasaan aku yang sebenarnya"
"Tolong beri aku waktu untuk berpikir" Maya tidak ingin mengambil keputusan terlalu cepat.
"Baiklah kalau gitu, aku akan menunggu"
"Aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir"
"Satu Minggu lagi aku akan datang ke panti untuk meminta jawaban kamu" Alvian tidak ingin terlalu membebani Maya dengan hal itu, ia tidak mau jika akhirnya Maya menjauh darinya.
***
Hari ini tepat satu Minggu sejak Alvian menyatakan perasaannya kepada Maya.
Dan hari ini merupakan hari yang sangat di nantikan oleh Alvian, rasanya ia sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Maya.
Sesuai dengan janjinya, Alvian akan menemui Maya ke panti asuhan, ia sudah bersiap sejak sore, memilih pakaian yang paling Bagus untuk ia kenakan, ia berusaha berpenampilan sekeren mungkin di hadapan Maya bahkan ia juga sudah mencukur rambutnya terlebih dahulu agar terlihat lebih pangling. Ia juga tidak lupa memakai parfum yang paling wangi yang ia beli di luar negri. Hari itu Alvian bersikap seperti layaknya anak remaja yang sedang kasmaran, yang ingin menemui sang pujaan hati.
Ketika Alvian tiba di panti asuhan, ia melihat mobil Raka sudah terparkir di halaman tempat tersebut, kemudian Alvian segera turun dari dalam mobilnya untuk menemui Maya, ia tidak ingin membiarkan Maya berduaan dengan Maya.
Tapi dugaan Alvian salah, ternyata di dalam sana bukan hanya ada Maya dan Raka, melainkan ada Dokter Diana, Rara dan juga Bu Ambar, sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius.
Alvian memutuskan untuk menunggu di luar, ia tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka.
Dan betapa terkejutnya Alvian ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, ternyata kedatangan Raka bersama Dokter Diana yaitu untuk melamar Maya.
__ADS_1