
"Tunggu Ra" ucap Adit seraya menggenggam tangan Rara untuk menghentikan Rara masuk ke dalam mobil.
"Ada yang mau gua bicarain sama Lo" sambungnya lagi.
"Mau ngomong apa Dit, tumben muka lo serius banget" Tanya Rara penasaran.
"Gua... gua gak tau harus mulai dari mana, dan bagaimana cara ngomong nya sama lo, yang pasti sekarang gua mau jujur sama lo tentang perasaan gua sama lo, kalo sebenernya gua.... gua...." Adit tampak gugup melanjutkan ucapannya.
"kalo sebenernya Lo suka sama gue... Itu kan yang mau lo omongin" sambung Rara, ia menebak apa yang akan di bicarakan Radit.
"Kok.. kok lo bisa tau Ra"tanya Radit bingung.
"Ya tau lah... Gue kan denger omongan lo waktu di kamar, waktu lo gendong gue ke kamar waktu itu, sebenernya waktu itu gue cuman pura-pura tidur" Jawab Rara. Sebenarnya Rara sudah menduga jika Radit menyukai nya, itu sebab nya ia melakukan hal itu.
"Oooooh jadi waktu itu lo cuma pura-pura tidur aja" Ucap Radit kesal.
"Ia gue sengaja pura-pura tidur, gue pengen tau kepedulian lo ke gue, karna gue udah curiga dengan gerak-gerik lo selama ini, dan ternyata dugaan gue bener, kalo lo suka sama gue" jelas Rara.
"Emang keliatan banget ya ra" tanya Radit seraya menggaruk kepalanya malu.
"Ya ia lah keliatan banget, dasar es batu, cemen, bisanya cuma ngomong sendiri "ledek Rara.
"Gue kan lagi nunggu momen yang tepat aja ra... buat ngomong sama lo" Radit memang tipikal orang yang tidak mudah menyatakan cintanya begitu saja, dia juga kaku, dan tidak bisa bersikap romantis.
"Trus menurut lo sekarang waktunya udah tepat gitu? masa nyatain perasaan di parkiran kaya gini, gak romantis banget . kalo orang-orang tuh biasanya nyatain cinta ke cewenya di restoran mewah, di pantai atau di tempat-tempat romantis " Ledek Rara lagi.
"Ia kan gue spontan Ra, gue takut gak punya kesempatan lagi buat ngomong sama lo, apalagi mulai sekarang kita bakalan jarang ketemu "
"Trus jawaban lo gimana Ra... lo mau kan jadi cewe gue"
"Hmmmm gimana ya..." Rara tampak berpikir untuk menggoda Radit.
__ADS_1
"Ayo dong Ra... jangan lama-lama mikirnya, jantung gue udah mau copot ni" Radit tampak tidak sabar menunggu jawaban Rara.
"Ia gue mau Dit jadi cewe lo" jawab Rara sambil tersenyum.
"Serius Ra? lo gak becanda kan " Radit masih tidak percaya.
"Ia Dit gue serius" ucap Rara seraya menganggukkan kepalanya.
"Thank you Ra... Thank you... lo udah mau nerima cinta gue" ucap Adit seraya memeluk Rara.
"Tin Tin" supir yang menjemput Rara membunyikan klakson mobil nya, sebagai kode agar rara segera masuk ke dalam mobil, sebab Alvian dan Maya pasti sudah menunggu di rumah. bersamaan dengan bunyi klakson itupun pelukan mereka terlepas, dan Rara pun benar-benar harus pergi, tapi Radit sudah merasa lega dan bahagia karna ia sudah menyatakan cintanya dan mempunyai kejelasan atas status mereka.
***
Keesokan harinya Alvian mengikuti keinginan Maya untuk mencari Alma. Maya tidak mau hanya berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan apapun untuk mencari Putrinya.
Alvian memutus untuk menyisir jalanan sekitar rumah orang tua angkat Alma, yang kemungkinan besar di lalui oleh Alma saat Alma melarikan diri. Alvian melajukan mobilnya dengan kecepatan terendah sembari melihat sekeliling jalan tersebut, berharap menemukan putrinya di antara orang-orang yang berada di keramaian tersebut yang sedang berlalu-lalang .
Sebenarnya di televisi dan surat kabar pun sedang ramai memberitakan atas hilangnya Alma, apalagi Alvian berjanji akan memberikan imbalan yang sangat besar jika menemukan putrinya. Orang-orang sangat bersemangat dan berlomba -lomba untuk mencari anak konglomerat itu, tergiur dengan hadiah yang akan mereka dapatkan, namun sampai saat ini belum ada satupun yang menemukan nya.
"Bu... Bapak ke pasar dulu ya, bapak mau menjual sayuran yang kita petik kemarin" pamit pak Joko, mereka memang selalu menjual sayuran atau buah-buahan hasil dari kebun mereka ke pasar.
"Ia pak... nanti pulangnya mampir dulu ke apotek ya, beli obat buat putri, biar dia cepat sembuh" jawab Bu Marni.
"Ia bu.."
Setelah menjual sayuran nya, pak joko memutuskan untuk pergi ke apotek yang ada di sebrang pasar, namun karena ia tidak hati-hati saat menyebrang, ia hampir saja terserempet oleh sebuah mobil yang sedang melaju.
"Pak... bapak tidak apa-apa" tanya si pemilik mobil, dan kebetulan dia adalah Alvian.
"Tidak... saya baik-baik saja" jawab Pak Joko.
__ADS_1
"Maaf ya Pak, tadi saya tidak tau kalau bapak mau nyebrang" Ucap alvian merasa bersalah.
"Nggak... ini salah saya, tadi saya nyebrang nya gak hati-hati, saya buru-buru" jawan Pak Joko.
"Memangnya bapak mau kemana " ucap Maya yang ikut turun dari mobil.
"Saya mau ke apotik, saya mau membeli obat untuk puti saya" jawab Pak Joko.
"Memangnya Putri bapak sakit apa" tanya Maya penasaran.
"Putri saya demam, mungkin karena kemarin kehujanan trus dahinya luka terpleset terbentur batu"jelas Pak Joko.
"Ya ampun kasian sekali putrinya, kenapa tidak di bawa ke klinik aja" ucap Maya lagi.
"Saya tidak punya uang buat ke klinik bu... karna biayanya pasti mahal, penghasilan saya hanya cukup untuk makan sehari-hari" jawab Pak Joko terus terang.
"Kalau begitu bapak tunggu dulu saja di dalam mobil, biar saya yang belikan obat ke apotik" ucap Alvian
"Ia pak biar suami saya saja yang membelikan obatnya, bapak istirahat dulu saja di mobil" sambung Maya.
"Tidak perlu Pak... bu... saya tidak mau merepotkan "
"Tidak apa-apa Pak " jawab Alvian, kemudian ia bergegas pergi ke apotek.
Selain membelikan obat-obatan, Alvian juga membelikan makanan di supermarket, ia juga memberikan sejumlah uang untuk pak Joko.
"Pak ini banyak sekali, saya tidak enak menerima nya" Pak Joko benar-benar terharu atas kebaikan Alvian dan Maya.
"Tidak apa-apa ambil saja, ini semua untuk putri bapak. Oh ia, ini kartu nama saya, kalau bapak butuh pekerjaan, bapak boleh datang kerumah saya, kebetulan saya sedang membutuhkan tukang kebun "
"Makasih banyak Pak... makasih banyak atas kebaikan bapak dan ibu, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian"
__ADS_1
"Sama-sama Pak... salam ya buat istri dan putri Bapak, semoga lekas sembuh. Maaf saya tidak mengantarkan Sampai ke rumah, soalnya kita masih ada urusan " Ucap Maya yang masih khawatir akan putrinya.
"Ia Pak... bu... tidak apa-apa, lagipula rumah saya terpencil jauh dari jalan Raya" Pak Joko pun berpamitan kepada Maya dan alvian.