
Keluarga Rara dan Radit sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, begitupun dengan Radit dan Rara. Hari ini mereka akan pulang ke rumah baru mereka, rumah yang Radit beli untuk Rara, untuk mereka tempati bersama. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi mereka, untuk menjalani rumah tangga yang bahagia. Tapi tampak nya semua itu hanya angan-angan saja, yang kini sudah hancur dalam semalam.
Bahkan mereka pun menolak hadiah yang di berikan oleh Alvian yaitu tiket honeymoon keliling eropa, dengan alasan bahwa banyak kerjaan yang tidak bisa mereka tinggal kan, jadi mereka berpura-pura untuk menunda bulan madu mereka.
"Silahkan kamu pilih kamar kamu sendiri, karna aku gak mau satu kamar sama kamu" ucap Radit ketika mereka baru saja tiba di rumah.
"Tapi Dit kita kan suami istri" jawab Rara.
"Ia kita memang suami istri, tapi semua Itu gak ada artinya"
"Kamu pasti heran kan kenapa aku gak menceraikan kamu, kalau saja semua itu bisa aku lakukan, pasti aku sudah melakukan nya sejak kemarin"
"Kamu jangan mengira kalau aku tidak menceraikan kamu karna aku gak mau berpisah dengan kamu, tapi aku melakukan ini karna Mami, aku gak mau membuat Mami kecewa" Radit sudah memikirkan semuanya matang-matang, ia akan tetap mempertahankan pernikahan nya demi kebahagiaan mami nya, ia tidak ingin melihat Maminya kecewa untuk yang kedua kalinya, melihat kedua anaknya sama-sama gagal menikah seperti yang di alami kakaknya waktu itu, apalagi Mami nya sangat berharap besar kepada nya.
"Pernikahan ini hanya formalitas saja di depan keluarga kita. Kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau , kamu bebas pergi ke mana saja, aku gak peduli " Jelas Radit lagi.
"Tapi kamu harus ingat, jangan sampai keluarga kita tau tentang semua ini, kita harus berpura-pura pernikahan kita baik-baik saja" ucapnya nya lagi.
Rara tidak berani membantah perkataan Radit sedikitpun, ia hanya bisa mengikuti apa yang Radit inginkan, apalagi saat ini Radit masih emosi, jadi apapun yang Rara katakan pasti akan tetap salah di mata Radit. Mungkin nanti setelah emosinya mereda, Rara akan bicara pelan-pelan kepada nya, dan mengambil hatinya lagi.
"Ucapan aku sudah jelas kan, mulai sekarang kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing, tidak boleh ada yang mengusik satu sama lain, aku gak mau kamu mencampuri kehidupanku dan mengatur hidup ku, anggap saja kalau kita tidak pernah menikah" Radit mempertegas ucapannya, kemudian ia pergi ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.
***
ketika Radit beristirahat di kamarnya, Rara memutuskan untuk memasak untuk makan siang nanti, ia ingin membuatkan makanan kesukaan Radit, biasanya Radit selalu lahap jika memakan makanan yang ia buatkan.
Ketika Rara sedang sibuk memasak, tiba-tiba saja terdengar suara bel pintu berbunyi, Rara segera menghentikan aktivitas nya, mematikan kompor dan bergegas untuk membuka pintu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Rara ketika melihat seseorang yang berada di balik pintu tersebut, ternyata ia adalah Farel, orang yang sudah merusak hidupnya.
"Mau apa kamu kesini, belum puas kamu menghancurkan hidupku" Ucap Rara kesal.
"Sepertinya kalian sudah menerima hadiah yang aku berikan. Kedatangan aku kesini untuk menyampaikan permintaan maaf ku karna aku tidak bisa hadir di pesta pernikahan kalian" Ucap Farel tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Kamu bener-bener udah gila El, kamu gak punya hati, kamu bukan Farel yang aku kenal dulu " Bentak Rara.
"Aku emang udah gila Ra, itu semua gara-gara kamu, karna kamu gak mau balik lagi sama aku, kamu lebih memilih si Adit dari pada aku" teriak Farel.
"Cukup El, pelankan suara kamu, nanti Adit denger, dia pasti akan semakin salah paham kalau melihat kamu di sini" ucap Rara takut.
"Aku gak peduli Ra, memang itu yang aku inginkan, aku mau pernikahan kalian hancur, agar kamu bisa kembali lagi sama aku. k
Kamu jangan khawatir Ra, aku akan selalu setia menunggu kamu, pintu hatiku selalu terbuka lebar untuk kamu, aku hanya tinggal menunggu Adit benar-benar menceraikan kamu" ucap Farel penuh percaya diri.
" Siapa yang datang" Tanya Radit yang tiba-tiba muncul di belakang Rara.
"I-tu... itu tadi ada orang yang salah alamat" jawab Rara gugup, ia menjawab nya dengan asal.
"jangan bohong kamu" bentak Radit.
"Memangnya kamu pikir saya gak tau dia siapa ? dia mantan pacar kamu kan ?" sambung nya lagi.
"Belum juga sehari kita tinggal di rumah ini, tapi kamu udah berani bawa dia ke sini"
"Aku memang memberikan kebebasan kepada kamu untuk melakukan apapun yang kamu mau, bertemu si brengsek itu sesuka hati kamu, tapi tidak di tempat ini. Setidaknya kamu bawa dia ke tempat lain, entah itu ke hotel atau kemanapun yang kamu mau, aku gak peduli, asalkan jangan di rumah ini" ucap Radit kesal.
__ADS_1
"Nggak Dit... aku gak pernah meminta dia datang ke sini" Bantah Rara.
"Cukup... aku udah muak dengan semua alasan kamu" bentak Radit lagi. Ia kemudian membuka pintu dan pergi.
"Dit kamu mau kemana "
"Aku udah masak buat kamu" tanya Rara.
"Kamu gak perlu tau aku mau kemana, aku udah bilang sama kamu, jangan pernah ikut campur dengan kehidupanku, kamu urus aja diri kamu sendiri dan pacar kamu itu" jawab Farel sinis.
Rara berusaha sabar menghadapi sikap Radit yang sangat dingin dan acuh kepada nya, walaupun sikap dan perkataannya itu sangat menyakiti hatinya. Apalagi perkataan nya itu tidak sesuai dengan kenyataannya, ia hanya berasumsi sendiri atas apa ia lihat tanpa mencari kebenaran nya, tapi Rara memaklumi hal itu, karna saat ini Radit masih tersulut emosi.
Malam sudah hampir larut , tapi Radit belum juga kembali ke rumahnya, Rara menunggu Radit dengan sabar, sampai-sampai seharian ini ia tidak makan sama sekali, hanya untuk menunggu Radit untuk makan bersama, hingga akhirnya ia ketiduran di atas sofa di ruang tengah.
Radit kembali ke rumahnya sekitar jam dua belas malam, ia membawa kunci cadangan agar tidak perlu meminta Rara membukakan pintu. Tapi ia terkejut melihat Rara tertidur di atas Sofa, padahal malam sudah sangat larut, pasti ia kedinginan.
Sebenarnya ia tidak tega melihat Rara seperti itu, tapi Ini semua atas ulahnya sendiri.
Radit berjongkok di depan Rara seraya menatap wajahnya, wajah yang selama ini selalu dia rindukan, tak pernah bosan untuk menatapnya.
"Kenapa semua nya jadi seperti ini Ra... kamu sudah menghancurkan semua impian yang sudah kita susun. Kalau saja kamu tidak berbuat seperti itu, saat ini pasti kita menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini, aku tidak akan meninggalkanmu walaupun hanya sebentar" Gumam Radit, tanpa sadar ia membelai rambut Rara.
Sepertinya Rara bisa merasakan sentuhan tangan Radit sehingga ia perlahan membuka matanya, Radit buru-buru pergi untuk menghindar.
"Dit kamu sudah pulang, aku menunggu kamu untuk makan malam bersama" Ucap Rara saat melihat Radit sedang berjalan menuju tangga.
"Kamu makan aja sendiri, gak perlu menunggu aku" Jawab Radit sinis.
__ADS_1