
Sudah tiga hari Maya terus mengurung diri di dalam kamarnya, ia hanya keluar untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya, itupun ia lakukan saat Alvian tengah berada di kantor, setelah itu ia akan kembali ke dalam kamar, Maya berusaha sebisa untuk untuk tidak bertemu dengan Alvian, saat ini menghindar adalah cara yang paling tepat untuk Maya, ia masih belum bisa untuk melihat wajah Alvian dan melupakan kejadian malam itu.
Berbeda dengan Maya, Alvian justru lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan menghabiskan waktu di kantornya, hal itu ia lakukan semata-mata agar tidak bertemu dengan Maya, ia mengerti kalau saat ini Maya masih belum mau berbicara dengannya, Maya masih membutuhkan waktu untuk sendiri.
setiap hari saat Alvian pulang dari kantor, makan malam untuk dirinya sudah tersedia di meja makan, ternyata Maya benar-benar membuktikan perkataan nya bahwa ia akan bersikap profesional dengan tetap mengerjakan semua pekerjaan nya.
Saat duduk di meja makan, Alvian terus-menerus melirik ke arah arah pintu kamar Maya, ia mengkhawatirkan Maya, ia yakin bahwa saat ini Maya pasti belum makan malam.
Akhirnya Alvian memberikan diri untuk menemui Maya di kamarnya, ia tidak ingin seperti ini terus, secepatnya ia harus mencari jalan keluar dari masalah ini.
"Tok tok tok May.. apa kamu sudah tidur" ucap Alvian seraya mengetuk pintu kamar Maya.
"May... boleh aku bicara sebentar" ucap Alvian lagi, cukup lama Alvian berdiri di depan pintu namun Maya tidak keluar juga.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sama saya"ucap Maya setelah membuka pintu kamarnya.
"May... saya seneng banget kamu mau bicara sama saya, mari kita bicara di meja makan, saya tau kamu juga belum makan malam kan" ucap Alvian mengajak Maya untuk duduk di sana, akhirnya Maya pun mengikuti Alvian dari belakang.
"Ini May... kamu makan dulu" ucap Alvian seraya mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Maya.
__ADS_1
"Terimakasih tapi saya belum lapar" tolak Maya.
"Tapi kamu harus makan May... nanti kamu sakit"ucap Alvian lagi.
"Sudah tidak perlu basa-basi, langsung to the point aja, apa yang mau anda bicarakan sama saya" ucap Maya sinis.
"Begini May... saya sudah membuat keputusan untuk masalah ini" ucap Alvian tampak ragu-ragu. "saya_saya memutuskan Untuk menikahi kamu, saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya sama kamu"
"Menikah ?" Maya benar-benar tak percaya jika Alvian akan berbicara seperti itu.
"Ia May... saya akan menikahi kamu secepatnya" jelas Alvian lagi.
"Nggak... itu bukan jalan keluar yang baik untuk kita, kamu sudah mempunyai istri, aku gak mau merusak pernikahan orang lain" Tolak Maya tidak setuju, mungkin jika Alvian tidak mempunyai istri, Maya tidak akan merasa sebingung ini.
"Saya sudah memaafkan kamu, saya sudah memutuskan untuk melupakan semua ini, saya sadar kalau kamu tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah ini, kamu tidak sengaja melakukan hal itu, jadi mulai sekarang tolong jangan pernah mengungkit-ungkit masalah ini lagi, anggap saja bahwa semua ini tidak pernah terjadi" sebenarnya berat bagi Maya untuk mengatakan hal itu, bagaimana mungkin ia bisa melupakan semua ini begitu saja, tapi ia tidak mempunyai pilihan lain, hanya cara ini satu-satunya untuk menyelesaikan masalah di antara mereka, Maya harus rela berkorban untuk semua ini, anggap saja pengorbanannya merupakan sebuah bentuk balas Budi nya atas semua kebaikan Alvian terhadap keluarganya selama ini, ia tidak ingin menghancurkan keluarga Alvian.
"Tapi May... apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini, apa kamu usudah memikirkan semuanya matang-matang" ucap Alvian lagi.
"Ia saya yakin, bagi saya ini adalah jalan yang terbaik untuk kita, karna jika kita menikah pasti akan menimbulkan masalah yang lainnya, hal itu justru akan membuat semuanya semakin rumit, Aku mohon tolong jangan membahas ini lagi di hadapan saya, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita, tapi kamu juga tidak perlu khawatir, aku akan tetap bekerja dengan baik di sini, Sampai semua hutang-hutang saya lunas, setelah itu... saya akan pergi dari kehidupan kamu" ucap Maya sambil pergi meninggalkan Alvian.
__ADS_1
Di tempat lain Farel benar-benar Frustasi memikirkan Maya, sudah tiga hari ini ia tidak mendapatkan kabar dari kekasihnya itu, Maya sama sekali tidak membalas ataupun menjawab panggilannya, ia juga tidak bisa menemukan Maya di kampus, bahkan teman-teman dekatnya pun tidak tau kabar tentang Maya saat ini.
"El... kamu kenapa, Mami perhatikan beberapa hari ini kami murung terus, kamu sedang ada masalah" ucap Diana saat menghampiri putranya yang tengah merokok di balkon.
"Aku gak apa-apa Mi.. mungkin karna kelelahan saja, soalnya akhir-akhir ini banyak tugas di kampus" kilah Farel.
"Mami tumben masuk ke kamar aku, ada apa"
"Mami mau minta tolong sama kamu, tolong antarkan kue ini ke rumah kakak kamu, ini adalah kue kesukaan kakak kamu, tadi Mami sengaja membuatkan ini untuk kakak kamu, kamu mau kan nak" ucap Diana lagi.
"Kenapa Mami gak minta supir aja, aku sedang malas pergi kemana-mana" tolak Farel.
"Supir kita sedang cuti El...mamih gak berani nyetir malem-malem kaya gini, penglihatan Mami sudah kurang jelas, kamu mau ya El" bujuk Diana.
"Baiklah kalau begitu aku ganti baju dulu" ucap Farel sambil masuk ke dalam kamarnya dengan malas-malasan.
Perjalanan dari rumah Farel ke rumah kakak nya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja, selama ini Farel sangat jarang berkunjung ke rumah kakaknya itu, ia memang tidak terlalu dekat dengan kakaknya karna selama ini Papinya selalu membandingkan dirinya dengan kakaknya itu, karna kakaknya selalu unggul darinya dalam segala hal, bahkan di usia yang masih sangat muda kakak nya sudah bisa memimpin perusahaan milik keluarga mereka hingga perusahaan tersebut naik pesat, namun Farel malah sebaliknya, ia tidak berniat sama sekali untuk bekerja di perusahaan keluarganya, ia justru bercita-cita menjadi seorang dokter, hal itu tentu saja menimbulkan perdebatan di antara Farel dan Papi nya, beliau melarang keras Farel untuk masuk ke universitas kedokteran, namun bukan Farel namanya kalau ia tidak membangkang, Farel tetap bersikeras untuk masuk ke universitas tersebut, hingga akhirnya Papi nya mengalah, namun sampai sekarang ketegangan antara Farel dan Papinya belum juga mereda.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Farel tiba di kediaman Kakaknya, rumah yang cukup besar dan juga mewah, Farel kemudian menekan sebuah bel yang ada di sebelah pintu, ia menunggu seseorang untuk membukakan pintu, dan beberapa saat kemudian pintu tersebut pun terbuka, tampak seorang wanita cantik membukakan pintu untuknya, wanita yang sangat ia kenali, wanita yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Maya " ya di adalah maya.
"Farel" jawab Maya tak kalah terkejut.