CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 49


__ADS_3

Sudah hampir satu Minggu Mami Alvian di rawat di rumah sakit. Setiap hari Alvian selalu menginap di sana untuk menjaga dan merawat Mami nya itu, bergantian dengan Farel. mereka berdua membagi tugas untuk melakukan hal tersebut, Farel berjaga di siang hari, sedangkan Alvian di sore hari sepulang dari kantor, bahkan ia sudah tidak pernah pulang kerumah sama sekali.


Semenjak kejadian waktu itu, hubungan Alvian dan Maya menjadi renggang, Alvian selalu bersikap dingin kepada Maya, sebab Papi Alvian selalu mengawasi mereka, ia mengancam Alvian untuk menjaga jarak dengan Maya sebelum Maya bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.


Namun meskipun ayah mertuanya itu selalu berbicara kasar kepadanya, tapi Maya tetap saja selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu mertua dan juga membawakan keperluan suaminya.


seperti halnya sore ini, Maya membawakan pakaian ganti suaminya dan juga membawakan makanan untuk suami dan juga ayah mertuanya itu.


"Assalamualaikum..." ucap Maya saat masuk ke kamar tempat ibu mertuanya di rawat, di sana ada Alvian dan juga Papi nya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Alvian seraya beranjak dari tempat duduk nya. Lain halnya dengan Papi Alvian yang sama sekali tidak menjawab salam Maya, justru tampak tidak suka dengan kedatangan Maya. bahkan Ia tidak memberikan tangannya saat Maya hendak mencium tangannya.


"Mas... aku bawakan makanan kesukaan kamu, aku juga bawa untuk Papi juga, kalian pasti belum makan" Ucap Maya seraya menguarkan beberapa kotak makanan.


"Ma__" Alvian hendak mengucapkan terimakasih kepada Maya, tapi Papi mencegahnya.


"Gak usah sok perhatian kamu"


"Sudah berapa kali saya bilang, kamu gak perlu datang ke sini"


"Saya tau kamu hanya pura-pura baik untuk menutupi perbuatan kamu kan" bentak Papi.


"Pih..." ucap Alvian hendak membela Maya.


"Cukup Al... kamu gak perlu membela perempuan ini, kamu lupa dengan perjanjian kita, Papi gak mau kamu bersikap baik dengan perempuan ini sebelum dia bisa membuktikan kalo dia tidak bersalah. Atau papi akan menjebloskan dia ke penjara"


"Sebaiknya kamu suruh perempuan itu pergi dari sini"


"Tapi Pih..." Alvian hendak menjawab ucapan Papinya tapi kali ini Maya yang menghentikan ucapan Alvian.


"Sudah mas... aku gak apa-apa kok, aku gak mau kamu bertengkar dengan Papi"


"Sebaiknya aku pulang aja sekarang, aku gak mau ada keributan di sini" ucap Maya


"Ya sudah saya antar kamu pulang ya May" Alvian mengambil kunci mobilnya dari atas meja.


"Tidak perlu mas... aku bisa pulang sendiri, kamu jagain Mami aja"tolak Maya.


"Tapi May" lagi-lagi apwpu memotong ucapan Alvian.


"Sudah lah Al... biarkan saja dia pulang sendiri, dia kan bukan anak kecil lagi"


"Tapi pih... Maya sedang hamil besar, Al gak mau Maya kenapa-napa" bentak Alvian.


"Ayo may... aku antar kamu pulang" Ajak Alvian, ia merangkul tubuh Maya untuk keluar dari ruangan tersebut.


**


"May... saya minta maaf ya atas ucapan dan sikap Papi tadi, saya minta, kamu gak usah ambil hati semua ucapan Papi" ucap Alvian saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Ia mas... aku ngerti kok, Aku juga bisa maklum dengan sikap Papi, ini semua pasti berat untuk Papi" jawab Maya.


"Makasih ya May... maksih kamu sudah sabar menghadapi ini semua" ucap Alvian seraya mengelus rambut Maya.


"Ia mas... bagi aku yang penting kamu selalu percaya sama aku, itu semua udah lebih dari cukup" Ucap Maya sambil tersenyum.


"Oia May... besok saya mau bawa Mami ke Singapur, saya sudah mencari rumah sakit terbaik di sana, kamu gak apa-apa kan saya tinggal" jelas Alvian.


"Gak apa-apa Mas... Mas gak perlu mengkhawatirkan aku, yang penting Mami bisa sehat lagi".


Kalau kamu mau, kamu juga boleh menginap di rumah ibu kamu, biar kamu gak kesepian di sini"


"Ia mas... nanti kalo aku merasa bosan di sini, aku pasti ke rumah ibu, lagi pula di sini kan ada bibi, jadi aku ada temen ngobrol"


"Pokok nya kalo ada apa-apa kamu langsung hubungi saya ya"


"Ia mas...mas tenang aja, aku bisa jaga diri aku baik-baik, sebaiknya mas pokus aja dengan kesembuhan mami" ucap Maya meyakinkan suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah aku siapin dulu ya semua keperluan kamu untuk di bawa kesana"


"Tapi besok pagi aku boleh kan jenguk mami dulu sebelum mami di bawa ke Singapur"


"Tentu saja boleh May... besok kita pergi sama-sama ke rumah sakit"


***


"El... berapa lama kamu di sana" Tanya Rara kepada Farel, malam ini Farel menjemput Rara di club' dan mengantarkannya ke kosan sekalian untuk berpamitan kepada Rara.


"Aku belum tau, yang pasti sampai keadaan Mami membaik"


"Mungkin nanti aku dan kakak aku akan bergantian di sana" Jelas Farel.


"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu" Ucap Rara seraya menyandarkan kepalanya di bahu Farel.


"Ia Ra... aku juga pasti bakalan kangen sama kamu" ucap Farel seraya mengusap-usap pucuk kepala Rara dari samping. saat ini mereka berdua tengah duduk di sofa panjang.


"Kamu jangan macem-macem ya di sini"


"Jangan genit sama cowok-cowok di Club" ucap Farel lagi seraya mencubit pipi Rara.


"Ia ia.... memangnya kapan aku suka genit sama cowok"


"Ya aku takut aja selama aku gak ada, kamu deket-deket cowok lain"


"Pokoknya aku akan sering-sering ngehubungin kamu"


"Aku akan mantau kamu terus dari sana"


"Dasar cowok posesif...." Sekarang giliran Rara yang mencubit pipi Farel.


"Aw... sakit" pekik Farel.


"Berani ya kamu nyubit aku" ucap Farel seraya menggelitiki Rara.


"Siapa suruh nyubit pipi aku kenceng banget, trus pake bilang aku posesif segala lagi"


"Aku seperti itu karna aku sayang sama kamu" jawab Farel yang masih belum berhenti menggelitiki Rara hingga Rara terbaring di sofa, dan Farel mengungkungnya dari atas.


"Ia ampun El ampun... aku gak akan bilang kamu posesif lagi" ucap Rara lagi sambil menahan geli.


"Janji ya kalau kamu gak akan bilang aku posesif lagi" Ucap Farel sambil menatap wajah Rara yang berada di bawah nya, ia sudah berhenti menggelitiki Rara.


"Ia aku janji" Jawab Rara dengan nafas yang yang terengah-engah sambil menatap wajah Farel. hingga tatapan mereka saling bertemu.


Perlahan Farel mulai mendekatkan bibirnya ke bibir ranum Rara, dan kemudian ia melu-mat bibir Rara dengan lembut, Rara pun ikut membalas dan menikmati sentuhan bibir Farel sembari memejamkan kedua matanya.


Semakin lama permainan bibir mereka semakin memanas, tangan Farel sudah mulai tidak terkendali, menginginkan yang lebih dari sekedar berciuman.


Farel mulai membuka kancing kemeja Rara satu persatu, tanpa menghentikan permainan bibir nya sedikitpun, namun di saat Farel hendak membuka kancing terakhir tiba-tiba saja Rara membuka kedua matanya, dan menghentikan Farel.


"El stop El..." ucap Rara seraya mendorong tubuh Farel.


"Ada apa Ra... " tanya Farel bingung.


"Aku lupa..... sekarang aku sedang datang bulan" jawab Rara.


"What... " ucap Farel tampak kecewa.


"kenapa harus sekarang sih... Padahal malam ini malam terakhir kita bertemu untuk waktu yang lama" ucapnya lagi seraya mengacak rambutnya.


"Ya mau gimana lagi El..." ucap Rara tampak kasihan melihat raut wajah Farel.


"Justru aku suka was-was kalo aku telat datang bulan, aku takut kalau aku hamil" ucapnya lagi.


"Kan aku selalu pakai pengaman Ra... jadi mana mungkin kalo kamu hamil" jelas Farel.

__ADS_1


"Ia juga sih... "


"Ya sudah lebih baik sekarang kamu pulang, udah malem"


"Besok kan kamu harus berangkat pagi-pagi"


"Ya udah aku pulang dulu ya"


"Kamu jaga diri kamu baik-baik ya selama kau gak ada"


"Dan inget jangan macem-macem sama cowok lain"


"Ia ia ... telinga aku ampe panas tau gak denger kamu ngomong kaya gitu terus"


"Aku itu bukan anak kecil yang harus di ingetin berulang-ulang" ucap Rara kesal.


***


Mendengar mertuanya akan di bawa ke singapur, Bella merasa sangat gelisah, ia takut jika Mertuanya itu bisa sehat kembali, dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada semua orang.


Namun Bella tidak tinggal diam begitu saja, ia sudah mempunyai rencana untuk menggagalkan Alvian membawa Maminya ke luar negri.


Pagi-pagi sekali Bella pergi ke rumah sakit untuk menjalankan rencananya tersebut. Ia memantau situasi dan menunggu semua orang lengah, dan kebetulan ruang tersebut sedang kosong karena Farel dan Papinya sedang pulang ke rumah untuk mengambil keperluan mereka untuk dibawa ke luar negeri.


Bella memanfaatkan situasi tersebut untuk menjalankan aksinya, ia melepaskan alat bantu pernapasan mertuanya, hingga mertuanya itu tidak bisa bernafas, dan akhirnya meninggal dunia. kemudian ia segera pergi dari ruangan tersebut sebelum ada orang yang melihatnya.


"May kamu ke ruangan Mami duluan ya aku mau beli sarapan dulu untuk kita,:soalnya kita kan tadi belum sempat sarapan" ucap Alvian saat mereka sudah sampai di Rumah sakit.


"iya Mas aku duluan ya"


Sesampainya di ruangan mertuanya, Maya mendengar suara mesin monitor berbunyi sangat kencang Maya sangat panik dan segera menghampiri mertuanya itu.


"Mih Mami kenapa Mih..."


"Mih bangun Mih..." ucap Maya seraya mengguncang lengan mertuanya.


Kemudian Maya menyadari bahwa alat bantu pernapasan mertuanya terlepas "Kenapa ini bisa terlepas" ucap Maya bingung sambil memegang selang tersebut.


Di saat yang bersamaan Alvian pun masuk ke dalam ruangan tersebut, ia pun tak kalah paniknya saat mendengar suara mesin monitor yang ada di ruangan tersebut.


"May... apa yang kamu lakukan sama Mami" ucap Alvian seraya menarik lengan Maya dan menjauhkan Maya dari Mami nya.


"Aku gak ngelakuin apa-apa Mas..."


"Tadi pas aku masuk, Mami udah kaya gini"


"Aku ngeliat sendiri May... kamu ngelepas alat bantu pernapasan Mami"bentak Alvian.


"Bukan aku Mas yang ngelepasin alat itu, tadi pas aku masuk udah kebuka sendiri"


"Jangan bohong kamu May... kamu udah gak bisa mengelak lagi"


"Dokter.... suster... tolong lihat keadaan Mami saya" teriak Alvian panik.


Tak lama kemudian suster dan Dokter pun datang, mereka segera melihat keadaan pasien.


Dan akhirnya dokter pun menyatakan bahwa Mami Alvian meninggal.


Alvian sangat Shock, dan terpukul mendengar kenyataan tersebut, ia tidak percaya jika Maminya sudah tiada.


Kabar tersebut sudah sampai ke telinga Farel dan Papinya, mereka berdua benar-benar terkejut mendengarnya, bahkan Papi sampai tak sadarkan diri, ia tidak rela jika sang istri tercinta meninggalkan dirinya begitu cepat.


Papi benar-benar murka saat mengetahui bahwa Maya lah penyebab kematian istrinya itu, ia mengeluarkan kata-kata kasar kepada Maya dan mengusir Maya dari ruangan tersebut, bahkan ia tidak mengijinkan Maya untuk ikut ke pemakaman.


Kali ini Alvian tidak membela Maya sama sekali, bahkan ia tidak mau menoleh kepada istrinya itu, ia benar-benar kecewa kepada Maya.


sedangkan Bella, ia berpura-pura sedih dan terpukul atas kematian mertuanya itu, bahkan ia sampai menangis histeris untuk mengelabui semua orang.

__ADS_1


__ADS_2