
Maya dan juga Farel akhirnya telah resmi berpacaran, namun mereka sudah membuat kesepakatan untuk merahasiakan semua ini dari teman-teman di kampusnya, ia tidak ingin di musuhi oleh mahasiswi-mahasiswi lain yang menyukai Farel.
"El... aku kembali ke kantin dulu ya, temen-temen aku pasti sedang nungguin aku" pamit Maya.
"Tapi aku masih kangen sama kamu May..." ucap Farel yang merasa tidak rela harus berpisah dengan wanita yang baru beberapa menit menjadi pacarnya, tapi sayang nya ia tidak bisa bersikap seperti pasangan kekasih pada umumnya, tidak ada pegangan tangan, pelukan, apalagi ciuman, mereka harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"El... sebentar lagi kelas di mulai, lagi pula kamu belum makan siang kan, sebaiknya kamu makan siang dulu, nanti kami sakit kalau telat makan siang" bujuk Maya.
"Pacar aku perhatian banget sih...." ucap Farel seraya mencubit hidung mancung Maya "Kalau begitu kita sama-sama ya ke kantinnya" ajak Farel.
"Aw... sakit El..." ucap Maya seraya mengusap-usap hidungnya.
"Maaf ya pacar.... abis aku gemes banget sama kamu" jawab Farel seraya menangkup Pipi Maya.
"Yuk... kita ke kantin sekarang"Ajak Farel seraya beranjak dari tempat duduk dengan menggenggam tangan Maya.
"Kamu duluan aja El... nanti orang-orang curiga sama kita, lagi pula aku mau ke toilet dulu" Jawab Maya seraya melepaskan tangan Farel.
"Kenapa sih kita harus kaya gini, susah banget pengen berduaan dengan pacar sendiri" keluh Farel.
"El... kita kan sudah membahas masalah ini tadi, kalau kamu memang keberatan, sebaiknya kamu cari wanita lain aja untuk jadi pacar kamu" ancam Maya.
"Ia ia pacar... kok kamu ngancemnya kaya gitu terus sih, ya sudah kalau gitu aku ke kantin duluan ya" ucap Farel seraya mengacak rambut Maya.
Saat Maya tengah bercermin sambil mencuci tangannya di toilet tiba-tiba datang beberapa wanita masuk ke dalam toilet tersebut sambil menggebrak pintu toilet tersebut, mereka adalah Mona dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"Heh... cewek kampung, ngapain Lo berduaan di taman sama Farel" tanya Mona seraya mendorong tubuh Maya ke tembok.
"Kami_ kami hanya membahas masalah mata kuliah" jawab Maya bohong, tenyata apa yang ia takutkan benar-benar terjadi juga, berpacaran dengan pria populer di kampus resikonya adalah seperti ini.
"Jangan bohong Lo... Lo pasti godain Farel kan tadi"ucap Mona lagi
"Dia pasti kecentilan tuh sama Farel, mana mungkin cowok sekelas Farel mau deket-deket sama cewe kampung kaya elo"ucap Lita ikut mengompori
"Nggak... aku gak bohong, kami hanya membahas tentang mata kuliah aja" jawab Maya dengan menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Awas ya... kalo Lo berani godain Farel lagi, gua pastiin Lo gak bakalan tenang kuliah di kampus ini" ancam Mona seraya mencengkram pipi Maya, kemudian mereka keluar dari toilet.
Setelah Mona dan teman-temannya pergi, Maya segera merapihkan pakaian dan juga rambutnya, ia benar-benar tidak menyangka jika Mereka melihat dirinya bersama Farel di taman tadi
"Ternyata susah juga ya punya pacar yang di idolakan oleh semua orang, apa orang miskin kaya aku memang gak pantas untuk menjadi pacar seperti Farel, mungkin ke depannya aku harus lebih hati-hati lagi, jangan sampai ada orang yang curiga dengan hubungan aku dan Farel, kalau tidak... hidup aku gak bakalan bisa tenang" gumam Maya.
Maya kembali ke kantin dengan wajah yang tampak sedih, ia melewati Farel yang tengah duduk di bangku lain tanpa melirik ke arahnya, Maya tidak menghiraukan Farel yang tengah memperhatikan dirinya.
"May...kamu lama amat sih, kok kamu gak bareng sama Farel tadi" Tanya Della saat Maya baru saja duduk di sebelah nya.
"A-Aku... aku ke toilet dulu tadi" jawab Maya gugup, ternyata ada Mona dan juga teman-teman nya duduk di meja lain. Tiba-tiba ponsel Maya berbunyi, ia mendapatkan pesan dari seseorang.
"Pacar... kamu kenapa? kenapa wajah kamu terlihat sedih, apa kamu ada masalah" Farel mengirimkan pesan tersebut kepada Maya, padahal jarak mereka hanya terhalang oleh satu meja saja
"Aku baik-baik aja, aku hanya merasa tidak enak badan" jawab Maya membalas pesan Farel.
__ADS_1
"Kamu sakit... apa kamu mau aku antar ke Rumah sakit, atau mau aku belikan obat" jawab Farel khawatir.
"Tidak perlu El... mungkin aku hanya kelelahan aja, sebentar lagi juga akan membaik" jawab Maya.
"Kamu serius gak apa-apa, aku antar kamu pulang aja ya" balas Farel.
"Tidak... aku tidak mau ketinggalan pelajaran" jawab Maya lagi.
"May... kamu chatingan sama siapa sih serius banget" ucap Mita penasaran.
Maya langsung menutup ponselnya dan memasukan ke dalam tas "A-aku... aku sedang membalas pesan dari ibu aku, Ibu nanyain kabar aku" jawab Maya gugup, Sebenarnya ia ingin cerita kepada sahabatnya tapi saat ini Kantin sedang ramai, selain itu ada Mona dan kawan-kawannya yang duduk tidak jauh dari mejanya, ia tidak mau jika ada orang yang mendengar pembicaraan mereka, ia takut jika hal seperti tadi terulang lagi.
"Oia May... ngomong-ngomong tadi kamu sama farel ngapain di taman, Farel nembak kamu May" tanya Della dengan suara sedikit keras, dan sepertinya hal itu terdengar oleh Mona dan kawan-kawannya.
"Ng_Nggak... kamu ngaco banget sih Del... mana mungkin Farel nembak aku, tadi Farel cuma minta bantuan buat menyelesaikan tugas yang tidak ia mengerti" jawab Maya gugup, ia takut jika Mona kembali curiga.
"Masa sih May... kamu cuman ngomongin itu doang, kenapa harus ke taman segala coba, kan bisa ngomong di sini" ucap Della tidak percaya.
"Mmmhh Itu_ tadi di sini rame banget jadi Farel minta aku ke taman biar lebih Fokus" kilah Maya lagi.
"Kamu gak bohong kan May... sama kita" ucap Della tampak curiga.
"Ng_nggak... aku gak bohong, kalau gitu aku ke kelas duluan ya, ada tugas yang belum aku beresin" ucap Maya sambil beranjak dari tempat duduk, ia benar-benar takut dengan tatapan tajam dari Mona yang sejak tadi tidak berhenti mengawasinya.
Maya berjalan tergesa-gesa untuk pergi ke kelasnya, ia tidak mau Mona dan teman-temannya semakin curiga kepadanya, namun saat ia tengah berjalan di tempat yang sepi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah gudang dengan begitu cepat, seketika Maya menjerit ketakutan seraya memejamkan matanya, namun orang tersebut langsung membekap bibir Maya dengan tangannya, Maya belum berani untuk membuka matanya, ia benar-benar takut untuk melihat orang yang tengah membekap dirinya itu, tubuhnya gemetar dan tangannya tampak dingin karna saking takutnya.
__ADS_1