
Satu Minggu telah berlalu, Maya dan Alvian sudah melewati masa-masa bulan madu mereka, kini keduanya sudah mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasa.
Awalnya Alvian meminta Maya untuk berhenti bekerja di rumah sakit, dengan alasan tidak mau melihat istrinya cape dan tidak mempunyai waktu untuk dirinya, tapi Maya berusaha meyakinkan Alvian untuk mengijinkannya tetap bekerja. Bukan karna uang, melainkan untuk membantu dan menyembuhkan orang-orang yang sedang sakit, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk nya, melihat orang-orang bisa kembali sehat seperti sedia kala.
Akhirnya atas pertimbangan dan kesepakatan bersama, Alvian mengijinkannya untuk tetap bekerja di rumah sakit, dengan syarat untuk tetap meluangkan waktu untuknya, membagi waktu antara suami dan juga pekerjaan.
Sesampainya di rumah sakit Maya mendapatkan sambutan dan ucapan selamat dari para dokter dan juga suster rumah sakit tersebut atas pernikahan nya, mereka sangat senang jika Maya bisa kembali lagi bekerja di sana, sebab kemampuan Maya sangat berarti di rumah sakit tersebut, ia selalu berhasil menyelamatkan dan menyembuhkan pasien, terutama pasien yang mempunyai penyakit serius.
"Na pipi kamu kenapa, kok lebam begitu" tanya Maya kepada Nina.
"Sa-ya jatuh terpeleset dari kamar mandi Dok" jawab Nina bohong.
"Kok lukanya bisa sampai seperti itu, kalau kamu ada apa-apa cerita saja sama saya na, siapa tau saya bisa bantu" Maya tampak curiga, sebab ia sering sekali melihat wajah Nina penuh dengan luka lebam, apalagi jawaban Nina selalu tidak masuk akal. Sebagai dokter Maya bisa membedakan mana luka yang terkena bends dan luka yang di sebabkan pukulan manusia.
"Nggak Dok... saya baik-baik saja" jawab Nina lagi, tapi Maya tidak percaya begitu saja, ia merasa ada yang janggal dengan luka di wajah Nina, apalagi selama ini Nina selalu terlihat murung, seperti sedang mengahadapi masalah serius.
"Sayang kenapa....kamu cape ?" Tanya alvian ketika melihat istrinya tampak melamun, mereka berdua tengah berada di dalam mobil, Alvian menjemput Maya ke rumah sakit untuk pulang bersama, ia tidak mau membiarkan istrinya pulang sendiri, ia sampai meninggalkan pekerjaannya di kantor untuk menjemput sang istri padahal masih banyak berkas yang harus di tandatangani.
"Nggak mas... aku tiba-tiba kepikiran Nina" entah kenapa terasa ada yang mengganjal di hati Maya, antara penasaran dan kasihan.
"Nina. siapa dia" tanya Alvian.
"Nian suster yang mendampingi aku Mas"jawab Maya.
"Memangnya Dia kenapa sayang" tanya alvian lagi
"Tadi aku melihat pipinya lebam seperti bekas tamparan, tapi dia bilangnya jatuh di kamar mandi, aku yakin dia pasti bohong, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu" jelas Maya.
__ADS_1
"Mungkin dia sedang ada masalah keluarga sayang..."
"Tapi aku sering banget melihat wajah nya lebam-lebam "
"Gimana kalo kita coba cari tau mas... soalnya kalau dugaan aku bener, itu udah termasuk kriminal, aku kasian sama Nina"
"Tapi sayang... kita gak boleh seenaknya ikut campur urusan orang, kecuali kalau Dia sendiri yang cerita sama kamu" jelas Alvian.
"Tapi mas... aku gak tega kalau ngeliat Nina lebam-lebam terus setiap hari" Maya tetap bersikeras ingin membantu Nina.
"Ya sudah kalau begitu, nanti saya akan menyewa detektif untuk mencari tahu tentang Nina " Alvian alan melakukan apapun untuk kemauan istrinya.
"Gak perlu Mas... kita ikutin aja dia diem-diem kerumahnya, sebentar lagi juga dia pasti pulang, kita ikutin dari belakang "
"Tapi sayang.." Alvian tampak tidak setuju dengan ide Maya.
"Ayolah mas..." Bujuk Maya
Tak berselang lama Nina pun terlihat keluar dari parkiran Rumah Sakit dengan menggunakan sepeda motor nya, Alvian pun segera mengikuti nya.
Sekitar 30 menit akhirnya Nina sampai di rumah nya, ia tidak sadar jika Maya dan alvian mengikutinya dari belakang. Sebelum pulang ke rumahnya, ia mampir sebentar ke warteg untuk membeli makanan untuk dirinya dan suaminya.
Ketika sampai di depan rumah, Nina melihat sandal wanita di depan pintu, ia penasaran dengan pemilik sandal itu, perasaannya menjadi tidak enak, ia segera membuka pintu tersebut dengan kunci yang selalu ia bawa di tasnya. Tapi saat ia membuka pintu, ia tidak melihat siapapun di ruang tamu. Nina segera bergegas menuju kamarnya, dari dalam kamar ia mendengar suara ******* seorang wanita, hatinya menjadi semakin tidak karuan.
langsung saja ia membuka pintu kamarnya. Begitu terkejutnya Nina ketika melihat Suaminya sedang bersama perempuan lain di atas ranjangnya, berada di atas tubuh wanita tersebut tanpa memakai sehelai kain pun, dengan rambut yang berantakan dan buliran-buliran keringat di tubuh mereka
"Maaaaas... tega-teganya kamu ngelakuin ini sama aku" teriak Nina. Tedi dan pacarnya sangat terkejut dengan kedatangan Nina, mereka berdua segera beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
"Dasar perempuan ******" Nina menjambak perempuan itu dan menampar wajah nya.
"Nina stop" Tedi menarik Nina dan mendorongnya agar melepaskan pacarnya. wanita tersebut pun segera mengambil pakaiannya.
"Mas kenapa kamu belain dia, kenapa kamu tega berbuat seperti ini sama aku, membawa perempuan lain ke kamar kita" ucap Nina sambil menangis.
"Aku sudah bosan sama kamu, kamu udah gak menarik lagi, apalagi sekarang kamu udah gak pernah ngasih duit sama aku" jawab Tedi tanpa merasa berdosa.
"Tega-teganya kamu ngomong kaya gitu sama aku, setelah apa yang aku lakukan dan aku berikan sama kamu. Aku udah gak punya uang lagi mas, uang aku sudah habis sama kamu, selama ini kamu gak pernah kerja, kamu hanya menghabiskan uang aku untuk foya-foya dan mabuk-mabukan"
"Ya memang itu niat aku nikahin kamu, untuk menikmati uang kamu, biar aku gak perlu capek-capek kerja. Dan sekarang kamu udah kere, jadi kamu udah gak ada gunanya lagi buat aku" jawab Tedi secara terang-terangan, ia memang memanfaatkan kebucinan Nina kepada nya untuk menghabiskan uang nya.
"Plak...." untuk pertama kalinya Nina menampar Suaminya.
"Kamu tau sendiri kan mas dari mana aku mendapatkan kan uang itu. Aku mendapatkan uang itu dari dari hasil membuang bayi orang, kamu sendiri yang meminta aku menerima tawaran nyonya Bella untuk membuang bayi itu, sampai-sampai aku harus berhenti bekerja di rumah sakit itu, dan sampai sekarang aku terus di bayang-bayangi dengan rasa bersalah. Dan apakah kamu tau mas... ternyata bayi itu adalah putri Dokter Diana, Dokter di rumah sakit tempat aku bekerja sekarang, orang yang selalu baik sama aku" Jelas Nina dengan buliran air mata penyesalan.
"Persetan dengan semua itu, aku gak peduli" jawab Tedi tanpa merasa bersalah.
sementara di luar sana, maya dan alvian sangat amat terkejut mendengar ucapan Nina, saat mengetahui ternyata Bayi mereka sebenarnya masih hidup, mereka telah di kelabui oleh Bella, mantan istri pertama Alvian, wanita yang sangat licik dan tidak punya hati.
"Nina... jelaskan kepada saya tentang semua ini, kemana kamu membuang bayi saya" Tanya Maya dengan amarah di dadanya, ibu mana yang tidak hancur saat mendengar Bayi nya di buang begitu saja.
"Kalian benar-benar iblis " ucap Alvian seraya mengepalkan tangan nya.
"Do- Dokter... Kenapa Dokter bisa berada di sini" Nina benar-benar terkejut melihat keberadaan Maya di rumahnya, kenapa semua ini bisa kebetulan.
"Jangan banyak tanya, cepat katakan Dimana Bayi kami" bentak Alvian
__ADS_1
"Saya pastikan kalian berdua akan menyesal telah membuang anak saya"
"Ka_kami... kami membuang bayi kalian ke panti asuhan tempat Dokter Maya tinggal" jawab Nina dengan bibir bergetar, ia tidak menyangka jika rahasia yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun akan terbongkar.