CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 37


__ADS_3

Ketika Maya dan Alvian pulang ke rumah mereka, ternyata Bella sudah pulang terlebih dahulu, ia beberapa kali mencoba menghubungi Alvian namun ponsel Alvian tidak bisa di hubungi.


Bella benar-benar kesal saat melihat Alvian dan Maya turun dari mobil sambil berpegangan tangan, saling melemparkan senyuman, keduanya terlihat semakin dekat.


"Mas... kamu kemana aja, kenapa baru pulang selarut ini" tanya Renata kesal, ia langsung memisahkan tangan mereka berdua dengan berdiri di samping Alvian, di tengah-tengah mereka, ia sedikit mendorong tubuh Maya ke samping dengan sikunya, agar Maya jauh-jauh dari Suaminya.


"Tadi kami mampir dulu ke kantor, ada yang pekerjaan yang harus di selesaikan" Kilah Alvian sedikit berbohong, tadi ia Memang pergi ke kantor, tapi bukan hanya menyelesaikan pekerjaannya saja, melainkan melakukan pekerjaan yang lain bersama Maya di atas tempat tidur, hingga mereka berkeringat dan terkulai lemas. Mereka juga mampir dulu ke restoran untuk makan, karna pekerjaan yang mereka lakukan tadi sangat menguras energi.


"Ya sudah kalo begitu... Ayo kita ke kamar , kamu pasti lelah, nanti aku akan pijitin kamu" Bella menarik Alvian ke kamarnya dengan gaya manjanya, Alvian tampak terpaksa mengikuti Bella, sesekali Alvian melirik ke belakang untuk melihat Maya yang tengah menatap kepergiannya bersama Bella.


Malam sudah larut, tapi Maya masih belum bisa memejamkan matanya, ia terus berguling ke sana kemari mencari posisi yang nyaman untuk tidurz tapi ia tetap tidak bisa memejamkan matanya, rasanya ada sesuatu yang hilang, mungkin karna akhir-akhir ini ia sudah terbiasa tidur ditemani oleh Alvian, memeluknya dan mengusap-usap perut nya, namun malam ini ia terpaksa harus tidur sendiri, merelakan suaminya tidur dengan istri pertamanya.


"Dia sedang apa ya sekarang ?" Maya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apa yang sedang di lakukan oleh suaminya itu.


"Dia pasti sedaaaang....." Maya tengah menerka-nerka tentang apa yang dilakukan oleh suaminya itu, entah kenapa membayangkan nya saja sudah membuat ia cemburu.


"Sadar May sadar.... Kamu itu cuman istri kedua, dia gak bisa terus-terusan di samping kamu, kamu gak boleh egois May" gumam Maya seraya menutup wajah nya dengan bantal.


Maya sangat terkejut saat merasakan tangan seseorang mengusap rambutnya dari belakang, ia langsung menyingkirkan bantal tersebut dan berbalik ke belakang, ternyata itu adalah suaminya, pria yang sedang ia pikirkan sejak tadi.


"Mas... kok kamu ada di sini" Tanya Maya sembari beringsut duduk.


"Saya gak bisa tidur"


"Kamu sendiri kenapa belum tidur? Alvian balik bertanya, Alvian merasakan hal yang sama dengan Maya, ia terus teringat istri keduanya itu, ia sengaja menunggu Bella tidur, setelah itu ia langsung keluar dari kamarnya untuk menemui Maya.


"Aku juga gak bisa tidur" ucap Maya lirih.


"Kenapa ?"


"Kangen ya " Goda Alvian sambil tersenyum, wajah Maya langsung memerah.


"Bukan aku, tapi anak kamu, kayanya dia minta ditemenin" Jawab Maya dengan malu-malu, lagi-lagi ia harus menggunakan bayi yang ada di dalam kandungannya sebagai alasan.


"Benar kah.. Saya pikir Mama nya yang minta di kelonin"


"Ya sudah kalau begitu, ayo papa temenin" ucap Alvian seraya mengusap-usap perut Maya, kemudian ia mengajak Maya untuk berbaring.


"Mas... tapi Mbak Bella gimana, nanti dia pasti marah kalau tau kamu ke sini" Maya tidak ingin ada keributan lagi.

__ADS_1


"Kamu gak usah khawatir May... dia sudah tidur...mungkin dia lelah habis pemotretan"


"Biasanya dia akan bangun nanti siang" jelas Alvian seraya mengelus perut Maya.


Awalnya Alvian memang mengelus-elus perut Maya sembari berbicara Dengan bayi yang ada di perut Maya,, tapi Lama-lama tangan Alvian menelusup Ke dalam pakaian Maya dan mera*as-rem*s gunung kembar yang berada di atas perut Maya.


"Mas... anak kamu ada di bawah, bukan di sini" Maya tampak kegelian saat tangan Alvian bermain-main di atas dada nya.


"Saya hanya ingin memastikan, tabung asi untuk anak kita nanti masih bagus atau tidak, biar nanti ASI nya lancar " kilah Alvian.


"Alasan" ucap Maya seraya mengerucutkan bibirnya.


Melihat hal itu, Alvian mengecup bibir Maya beberapa saat, bibir ranum yang selalu membuat nya gemas dan juga menggoda.


Maya terkesiap saat Alvian mengecup bibirnya secara tiba-tiba, tapi tanpa di duga Maya kembali mengecup bibir suaminya terlebih dahulu, tentu saja Alvian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menahan tengkuk leher Maya dan ******* bibir Istrinya dengan lembut.


Dan sejurus kemudian tubuh Alvian sudah berada di atas tubuh istrinya, ******* dan menyusuri tubuh sang istri dengan penuh gairah, tubuh yang membuat candu baginya, padahal baru tadi sore mereka melakukannya.


Maya pun tampak menikmati nya, ia seolah pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu, membiarkan sang suami melakukan apapun yang ia mau, membiarkan ia bermain-main di atas tubuhnya, dan berusaha memuaskan dan menuntaskan hasrat suaminya itu, karena walau bagaimana semua itu merupakan salah satu kewajibannya seorang istri.


Setelah keduanya sudah mencapai pelepasan, Alvian membawa tubuh sang istri yang sama-sama belum mengenakan pakaian ke dalam dekapannya, hanya tertutup oleh selimut, menjadikan lenganya sebagai bantal untuk Maya, mengecup kening istrinya sebagai ungkapan rasa terimakasihnya terhadap sang istri yang sudah mau melayani nya.


*


*


"Ayo naik" farel memberhentikan motornya di depan Rara yang tengah berjalan menuju Kostan nya, sehabis pulang kerja, Rara merasa senang sekaligus heran terhadap Farel yang tiba-tiba menawari nya tumpangan, padahal selama ini Farel selalu bersikap dingin terhadapnya, bahkan saat mereka berpapasan di bar pun farel tak pernah menyapa nya sama sekali.


"Tidak usah, Deket kok, sebentar lagi juga nyampe " tolak Rara.


"Udah cepetan naik, lo gak liat tuh di ujung jalan Sana banyak cowok-cowok yang lagi pada nongkrong sambil mabok-mabokkan" tunjuk Farel.


"Lagi pula udah gerimis, nanti keburu ujan" sambungnya lagi.


Selama ini Rara memang merasa sangat risi saat melewati jalanan tersebut, para pria itu selalu menggoda Rara dengan kata-kata mesum.


Akhirnya Rara pun terpaksa ikut bersama Farel menggunakan motor sport nya.


Tak sampai sepuluh menit, mereka pun sudah sampai di depan Kostan, sebuah tempat yang di sediakan untuk orang-orang yang bekerja di bar, setiap kamar di isi oleh satu sampai dua orang pekerja, mereka semua bebas membawa siapapun ke tempat tersebut, sekilas tempat tersebut terlihat seperti tempat penginapan, sebab setiap malam penghuni tempat tersebut selalu membawa pasangan-pasangan mereka menginap.

__ADS_1


Pakaian Rara dan Farel tampak basah kuyup, karna di tengah jalan tiba-tiba hujan turun begitu lebat, mau meneduh pun tanggung, sebab kosan Rara sudah tidak jauh lagi, akhirnya Farel memutus untuk menerobos jalanan di bawah guyuran ai hujan.


"Ayo El masuk dulu, keringkan dulu badan kamu" Ajak Rara yang tampak kedinginan.


"Gak usah, gua langsung pulang aja" tolak Farel.


"Ujannya deras banget El... bahaya bawa motor ujan-ujan gini" Bujuk Rara lagi, dan akhirnya Farel pun ikut bersama Rara.


Rara memberikan handuk kepada Farel untuk mengeringkan tubuhnya, ia juga memberikan sebuah kaos milik Farel yang waktu itu tertinggal di sana yang terkena muntahan saat Farel menginap di sana, karna waktu itu farel pulang hanya mengenakan jaket saja.


Rara meminta Farel segera ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, tapi Farel justru meminta Rara untuk berganti pakaian terlebih dahulu, Sebab ia melihat Rara sudah kedinginan.


Rara keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek di atas Paha, dan juga kaos tanpa lengan, ia memang sering mengenakan pakaian seperti itu untuk tidur.


Ia tampak sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan Handuk, dengan sedikit memiringkan kepalanya ke samping, ia sampai tidak menyadari bahwa Farel tengah memperhatikannya sejak tadi.


Entah kenapa setiap melihat Rara, farel merasa seperti melihat Maya, wanita yang sangat ia cintai. karna wajah mereka benar-benar sangat mirip, sama-sama cantik, hanya cara bicara dan gaya berpakaian nya saja yang beda, apalagi saat Rara berpakaian seperti itu dan juga dengan rambut yang basah, Rara terlihat sangat **** dan menggoda.


"Ayo El sekarang giliran kamu, nanti kamu masuk angin" Ucap Rara seraya menghampiri Farel, tapi Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Farel malah merengkuh pinggang Maya dan ******* bibir Rara.


Rara membulatkan Matanya saat Farel tiba-tiba melakukan hal itu, ia sempat berusaha mendorong tubuh Farel, tapi Farel tak bergeming sedikitpun, ia terus ******* bibir Rara dengan rakus. Alih-alih kesal dan marah kepada Farel, Rara malah terbawa oleh suasana, membalas permainan bibir Farel, ia seperti terbuai dan terhipnotis olehnya, hingga lidah mereka saling membelit satu sama lain.


Semakin lama permainan bibir mereka semakin memanas, tangan Farel sudah berkelana ke mana-mana, keduanya sudah sama-sama di kuasai oleh Hawa Nafsu.


Farel menggendong tubuh Rara di perutnya, tanpa melepaskan tautan bibir mereka sedikitpun, Rara melingkarkan kedua kakinya di pinggang Farel, dan melingkarkan tangannya di leher Farel.


Farel membawa Rara duduk di samping tempat tidur, dan otomatis Rara pun duduk di atas pangkuan Farel, saling berhadapan.


Farel mulai melepaskan Pakaian Rara dan membuangnya ke sembarang arah , dan begitupun sebaliknya, Rara pun membantu Farel melepaskan pakaian yang di kenakan Farel.


Melihat Keindahan tubuh Rara tanpa busana, membuat Farel semakin bergairah dan kehilangan akal sehatnya, ia langsung membalikkan tubuh Rara hingga ia berada di atas tubuhnya.


Tanpa Ragu-ragu Farel menjamah seluruh tubuh Rara dengan penuh hawa Nafsu, setelah itu ia menyatukan kedua tubuh mereka hingga dirinya terkulai lemas di atas tubuh Rara, dengan bermandikan keringat.


Farel melakukan hal tersebut dengan rakus, tanpa kelembutan sama sekali, mungkin karna tidak di dasari dengan rasa cinta, melainkan dengan hawa Nafsu, dan sekaligus untuk melampiaskan rasa sakit hatinya terhadap Maya, ia menganggap Rara adalah Maya.


Selain itu Farel juga menganggap jika Rara memang sudah biasa dan sudah sering melakukannya dengan pria lain, ia meyakini bahwa dirinya bukanlah orang pertama yang menidurinya, apalagi saat melihat permainan Rara yang sangat Agresif.


Tapi kenyataannya semua itu salah besar, Karna pada kenyataannya hal itu adalah yang pertama untuk Rara, Ia berusaha mengimbangi permainan Farel agar tidak terlihat seperti wanita polos dan Norak, seperti yang selalu di ucap kan oleh Melly, ia tidak ingin Farel menertawakan dirinya karna ia belum pernah melakukannya sama sekali, bahkan Rara berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan saat itu, ia juga sampai menutup noda darah yang ada di tempat tidurnya saat Farel tertidur.

__ADS_1


__ADS_2