CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 43


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Maya berdiri di depan restoran untuk menunggu kendaraan umum ataupun Taxi yang melintas untuk pulang kerumah. Dan tampaknya langit pun sudah mulai gelap, namun tak ada satupun kendaraan yang kosong, semuanya selalu penuh, dan jalanan pun tampak macet, mungkin karna karna hari ini adalah hari libur.


"May... kamu lagi apa di sini" Tanya Farel yang kebetulan sedang membeli kue di restoran tersebut untuk Mami nya.


"Mas Al minta aku buat beliin kue kesukaan nya di sini"


"Kamu sendiri sedang apa di sini" jawab Maya


"Aku juga abis beli kue buat Mami" jawab Farel sambil memperlihatkan kantong belanjaan nya. "Keluarga kita emang udah langganan beli di sini"


"Oh... gitu pantes aja mas Al suka banget sama kue ini"


"Trus bang Al nya mana"


"Atau kamu lagi nungguin dia jemput kesini ?" tanya Farel lagi.


"Nggak aku lagi nunggu taxi, mas Al lagi di rumah sama Bak Bella" jelas Maya. Farel sangat terkejut mendengar hal itu.


"Bener-bener keterlaluan bang Al... bisa-bisanya dia biarin istrinya yang lagi hamil pergi sendirian, sedangkan dia enak-enakan diem di rumah sama istri pertamanya" gumam Farel kesal di dalam hati.


"Ya udah kalo gitu kamu pulang bareng aku aja, kalo jam segini kendaraan umum emang suka telat, nanti kamu kemaleman sampe ke rumah" Akhirnya Maya pun ikut pulang bersama Farel, karna ia tidak mempunyai pilihan lain, selain itu ia pun sudah merasa sangat lelah menunggu Taxi dari tadi.


"Makasih Ya El... kamu udah nganterin aku ke rumah, mungkin kalo gak ada kamu, aku gak tau nyampe ke rumah jam berapa" ucap Maya saat turun dari motor Farel.


"Sama-sama May... aku duluan ya" Jawab Farel yang langsung buru-buru pergi.


"Al liat deh... ternyata Maya jalan sama Farel" ucap Bella yang melihat Maya dari balik jendela kamarnya. Alvian langsung bangun dari tempat tidurnya untuk melihat apa yang di katakan Bella. Tampaknya dia sudah lebih baik sekarang, karena tadi dia sudah meminum obat yang di berikan Bella.


Alvian terlihat sangat kesal melihat hal itu, ia langsung keluar dari kamarnya untuk menemui Maya. Bella tersenyum puas melihat semua itu.


"Mas... ini kue kesukaan kamu" Ucap Maya memberikan kue yang di bawanya saat bertemu dengan Alvian di depan kamarnya, Namun Ekspresi wajah Alvian terlihat sangat kesal.


"Kamu gak perlu nyogok saya dengan kue ini" Alvian menepis tangan Maya hingga kue tersebut jatuh ke lantai.


"Dari mana saja kamu dengan farel seharian ini" Alvian menatap Maya dengan tatapan yang sulit di artikan, Maya belum pernah melihat Alvian semarah ini.


"Aku gak jalan sama Farel mas... tadi Aku gak sengaja ketemu dengan Farel di depan restoran, itu aja gak lebih" Jelas Maya yang sudah hampir menangis.


"Jangan bohong kamu, bilang aja kamu masih suka sama dia, jadi kamu sengaja ketemuan sama dia di luar rumah, kalian masih berhubungan kan di belakang saya" Alvian sama sekali tidak percaya dengan ucapan Maya.


"Aku gak bohong Mas... aku gak ada hubungan apa-apa sama Farel, bukannya tadi itu___" Maya hendak mengatakan bahwa Alvian Sendiri yang memintanya membelikan kue.


"Cukup... saya sudah tidak mau mendengarkan penjelasan kamu lagi, saya bener-bener kecewa sama kamu" Ucap Alvian sebelum meninggalkan Maya.


Maya hanya bisa berdiri mematung dan menangis melihat kepergian suaminya yang penuh dengan amarah, ia benar-benar tidak menyangka akan seperti ini, ia tidak tau bagaimana caranya membuat Alvian percaya.


Malam ini Maya kembali tidur sendiri tanpa di temani oleh Alvian, sepanjang malam ia tampak gelisah dan sulit untuk tidur, ia sangat berharap jika Alvian akan datang ke kamarnya dan tidur bersamanya, namun semua itu hanyalah angan-angannya saja, sebab hingga menjelang pagi pun Alvian sama sekali tidak datang menemui Maya di kamarnya, mungkin Alvian masih sangat marah kepada Maya.


Pagi-pagi sekali Maya sudah turun ke bawah untuk membuatkan sarapan untuk Alvian, berharap jika kemarahan Alvian sudah mereda.


"Pagi Mas... pagi bak Bella" sapa Maya saat Alvian dan Bella turun dari kamarnya, bahkan Bella sampai menggandeng tangan Alvian, seolah ia ingin memperlihatkan kemesraannya dengan Alvian.


Alvian sama sekali tidak menjawab sapaan Maya, bahkan melirik wajah Maya pun tidak.


"Mas... kamu mau makan sama apa, aku ambilin ya" ucap Maya yang hendak mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Tidak perlu, biarkan Bella saja yang mengambilkan untuk saya" tolak Alvian. Tentu saja hal itu membuat Maya merasa sedih.


"Ini sayang sarapan kamu, kamu harus makan yang banyak biar badan kamu kuat" Ucap Bella dengan senyum mengembang di bibirnya, ia benar-benar merasa puas telah mengalahkan Maya.


Seperti biasa sebelum pergi ke kantor, Alvian selalu mengantarkan kedua istrinya terlebih dahulu. Bella duduk di kursi depan bersama Alvian sedangkan Maya duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan Bella tidak berhenti memanas-manasi Maya, ia terus bermanja-manjaan kepada Alvian dengan menggelayuti tangan Alvian dan menyandarkan kepalanya di pundak Alvian, bahkan saat ia turun pun, ia tidak segan-segan mengecup bibir Alvian di depan Maya, hingga Maya hanya bisa menunduk melihat kemesraan mereka berdua.


"Sampai ketemu nanti malam ya sayang...." ucap Bella seraya melambaikan tangannya.


Setelah Bella turun, Maya pun Segera pindah ke kursi depan, namun Alvian tidak berbicara sepatah katapun kepada Maya, bahkan Alvian tidak mau mendengarkan penjelasan Maya.


***


Setelah selesai kuliah, Maya langsung pulang ke rumahnya menggunakan Taxi, sebab tadi pagi Alvian sudah mengatakan kepadanya kalau dia tidak bisa menjemput Maya, Alvian meminta Maya untuk pulang sendiri.

__ADS_1


Namun sesampainya di rumah, Maya di buat heran melihat rumahnya begitu ramai dengan kehadiran orang tua Alvian dan juga sanak sodaranya, rumah tersebut juga sudah di hias sedemikian rupa seperti hendak mengadakan pesta.


Semua orang yang ada di sana sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Maya, mereka malah berbisik-bisik dan menatap Maya dengan tatapan sinis.


"Bi... di rumah ini mau ada acara apa, kok ramai sekali" tanya Maya bingung. di rumah itu hanya bibi saja yang bisa Maya ajak bicara.


"Memangnya neng Maya gak tau, kan hari ini Hari ini hari ulang tahun Mas Al, jadi Non Bella dan Nyonya besar mau bikin pesta kejutan buat mas Al... denger-denger mereka jugangundang sodara dan teman-teman Tuan Al" jelas bibi.


"Maya bener-bener gak tau Bi kalo hari ini hari ulangtahun Mas Al... Maya belum sempet nanya sama mas Al tentang hari kelahirannya, apalagi dari kemarin Mas Al gak mau bicara sama Maya" ucap Maya sedih karna ia sama sekali tidak tau hari penting suaminya.


"Neng Maya gak usah sedih, lebih baik sekarang neng Maya siap-siap dan dandan yang cantik buat menyambut kedatangan Tuan" Ucap bibi.


"Siapa bilang kamu boleh ikut acara ini" tiba-tiba saja Mami Alvian datang ke dapur dan mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu itu cuman pembantu, jadi tugas kamu untuk melayani tamu-tamu, nyiapin makanan dan minuman buat mereka, ngerti kamu"


"Ia Mih... Maya ngerti"


"Dan satu lagi, jangan pernah panggil saya dengan sebutan Mami, karna saya gak sudi punya menantu seperti kamu"


"Panggil saya NYONYA. Paham"


"I_ia Nyonya"? jawab Maya lagi.


"Sabar ya Neng... bibi yakin suatu saat nanti, mami nya Tuan Al pasti bisa nerima neng Maya" Ucap bibi memberikan kekuatan kepada Maya.


"Ia Bi... Maya gak apa-apa kok"


**


Saat ini semua orang sudah berkumpul dan bersiap menanti kedatangannya Alvian, termasuk Farel yang di paksa oleh Maminya untuk datang, padahal ia sangat malas datang ke rumah kakaknya itu.


"May... kamu sedang apa di sini, ayo gabung di depan sama yang lainnya" ucap Farel yang melihat Maya malah sibuk di dapur dengan bibi.


"Aku lagi bantuin bibi, kasian gak ada yang bantuin" jawab Maya.


"Tapi ini bukan kerjaan kamu May, seharusnya kamu diem di depan, apalagi kamu sedang hamil, kamu gak boleh cape-cape" ucap Farel lagi.


"Ya udah kalo gitu, nanti kalo udah beres kamu langsung ke depan ya, katanya bentar lagi bang Al nyampe, dia udah di jalan sama Bella" ucap Farel mengingatkan Maya.


**


Akhirnya orang yang di tunggu-tunggu pun tiba, Alvian datang bersama Bella, Bella memangnya sengaja membuat Alvian pulang agak terlambat agar memberikan waktu kepada orang-orang yang berada di rumah untuk menyelesaikan semua persiapan nya.


"HAPPY BIRTHDAY ALVIAN" Teriak semua orang sambil meniup terompet . Dan setelah itu mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun dengan di iringi oleh musik yang di bawakan oleh sebuah band ternama, seraya membawakan kue ulang tahun dengan lilin di atasnya.


Alvian benar-benar terkejut saat mendapati semua keluarga dan sahabatnya sudah berkumpul di rumahnya, apalagi saat melihat rumahnya sudah di sulap menjadi tempat pesta


"Happy Birthday Al... " ucap Bella seraya mencium dan memeluk suaminya.


" Makasih Bel..." jawab Alvian.


"Selamat ulang tahun Al... semoga kamu panjang umur dan makin sukses Mami dan Papi selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu." ucap Mami dan juga Papi Al.


"Makasih Mih... pih..."


"Selamat ulangtahun bang..." ucap Farel singkat.


Semua orang silih berganti mengucapkan selamat kepada Alvian, namun ada satu orang yang Alvian tunggu, yang belum mengucapkan selamat kepadanya, Yaitu Maya. sejak tadi Alvian belum melihat keberadaan istrinya itu.


Pesta ulangtahun Alvian pun di mual, pesta tersebut benar-benar sangat meriah, dan tamu yang hadir pun cukup banyak, hingga Alvian kesulitan untuk mencari Maya, karna ia sangat sibuk menyapa dan berbincang dengan para tamu yang menghampiri nya.


Sedangkan orang yang Alvian cari sedang sibuk melayani tamu-tamu yang datang, menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, seperti layaknya pelayanan Caffe. Bahkan tak sedikit yang mencibir dan merendahkan nya.


"May sudah cukup May... kamu gak perlu Ngelakuin hal ini, kamu belum istirahat sama sama sekali dari tadi, sini biar aku saja yang bawa minumannya ke depan" Ucap Farel merasa tidak tega melihat Maya tampak kelelahan.


"Gak apa-apa El... aku masih kuat kok"


"Ia neng... biar bibi aja yang bawa minumannya ke depan"


"Gak usah Bi... bibi juga kan masih banyak kerjaan"

__ADS_1


"Tapi neng..."ucap bibi lagi.


"Gak apa-apa bi..."


"Maya ke depan dulu ya, kasian tamu-tamunya udah nungguin minumannya dari tadi"


Setelah memberikan minuman kepada para tamu, Maya hendak kembali lagi ke dapur untuk membantu bibi m, tapi tiba-tiba saja kepalnya pusing dan penglihatannya buram, ia sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri hingga tubuhnya terkulai lemas, untung saja ada farel yang dengan sigap menangkap tubuh Maya hingga Maya tidak sampai jatuh ke lantai.


"May... kamu kenapa Maya" Ucap Farel tampak cemas. hal tersebut menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana, dan menyebabkan kerumunan.


Alvian yang saat itu berada tidak jauh dari sana, juga ikut penasaran melihat kerumunan tersebut, hingga akhirnya ia mendekat untuk melihat apa yang terjadi.


"Maya..." Alvian sangat terkejut melihat istrinya tidak sadarkan diri.


"El... Maya kenapa" tanya Alvian khawatir


"Sini El... biar saya yang bawa Maya ke kamar" Alvian hendak mengambil Maya dari Farel.


"Minggir Lo... Lo gak udah sok-sok'an peduli sama Maya"


"Dari tadi Lo kemana aja, Lo sampai lupa sama istri Lo sendiri" ucap Farel kesal.


"Tapi dia istri gua El... gue yang berhak buat bawa Maya"


"Istri Lo bilang ? gua gak salah denger ?"


"Kok yang gue liat lo m memperlakukan istri Lo seperti pembantu"


"Dari tadi sore, Maya sibuk di dapur nyiapin makanan buat tamu, dia ngelayanin tamu-tamu kaya pelayan Cafe"


"Tapi Lo malah enak-enakan ngobrol sama temen-temen lo"


"Dan satu hal lagi, kemaren Lo nyuruh istri Lo yang lagi hamil buat beli kue kesukaan Lo, padahal tempatnya jauh banget, sedangkan Lo malah enak-enakan di rumah sama istri pertama Lo"


"Sebenarnya dimana sih bang hati nurani Lo"


"Dan Sebenarnya Lo anggap Maya sebagai apa" Farel meluapkan semua kekesalannya yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Tunggu-tunggu gua gak ngerti maksud Lo, gue sama sekali gak pernah minta Maya buat beliin kue"


"Malah gua pikir kemaren kalian jalan bareng" ucap Alvian bingung.


"Gua gak nyangka Lo punya pikiran kaya gitu ? Mana mungkin gua jalan bareng sama kakak ipar gua sendiri, gua gak sepicik itu bang"


"Jadi kemaren Maya__" Alvian tampak berpikir dan mengingat-ingat kejadian kemarin.


"Bella..." bentak Alvian seraya menatap Bella dengan penuh selidik, "ini pasti ulah kamu kan" akhirnya Alvian paham dan menyadari siapa sumber kesalahpahaman kemaren.


"Aku__aku sama sekali gak tau apa-apa Al..."


"Kemarin aku ngomong yang sebenarnya kok" kilah Bella.


"Cukup... saya gak mau dengerin penjelasan kamu, kamu sengaja kan ingin membuat aku dan Maya salah paham" bentak Alvian


"Al... jangan teriak-teriak sama Bella di depan umum, dia itu istri kamu" Mami membela Bella.


"Mami gak perlu belain dia"


"Dia itu sudah benar-benar keterlaluan"


"Dan satu hal lagi, pasti Mami kan yang minta Maya buat ngelayanin tamu-tamu "


"Ia...memangnya kenapa, memang itu kan pekerjaan dia dari dulu, sekali jadi pembantu Sampai kapanpun dia tetap jadi pembantu, jangan harap Mami akan menerima dia jadi menantu Mami"


"Cukup Mi.... Al gak suka Mami ngerendahin Maya seperti itu"


"Al... jaga bicara kamu sama Mami kamu, kamu gak pantes bentak Mami kamu seperti itu demi perempuan seperti dia" Ucap Papi membela istrinya.


" Tapi Mami sudah benar-benar keterangan Pih...Al gak terima kalian memperlakukan Maya seperti itu, kalau kalian ingin Al menghargai kalian, kalian juga harus mau menghargai Maya, Al gak akan segan-segan menentang siapapun yang merendahkan Maya"


"Pesta sudah selesai, sebaiknya kalian semua bubar" Alvian membubarkan pesta tersebut begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2