
Alvian benar-benar terkejut ketika ia mendengar bahwa Raka tengah melamar Maya, wanita yang juga akan ia lamar, namun ternyata ia kalah cepat oleh Raka.
Hal tersebut juga membuat Maya terkejut, ia tidak menyangka jika Raka akan melamarnya secara tiba-tiba, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, padahal selama ini ia sudah menganggap Raka sebagai kakak nya sendiri.
Sebelum memberikan jawaban kepada Raka dan juga Dokter Diana, Rara meminta ijin kepada mereka untuk berbicara empat mata dengan Maya, ia mengajak Maya ke kamarnya.
"Kamu mau bicara apa Dek... Kenapa bawa kakak ke kamar" tanya Maya bingung.
"Sebelum kakak memberikan jawaban kepada mereka, aku ingin mendengar secara langsung jawaban kakak.. apa kakak mau menerima lamaran kak Raka ?" tanya Rara penasaran.
"Hmmmm" Maya tampak menghela nafas
"Kakak bingung Dek... Kakak gak punya perasaan lebih sama mas Raka, Kakak sudah menganggap dia sebagai kakak sendiri" jawab Maya.
"Jangan bilang kakak mau nolak kak Raka ?" Tebak Rara.
Maya mengangguk pelan tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Kak... Coba deh kakak pikirin baik-baik, masa Kakak tega sih nolak lamaran kak Raka, kakak tega nyakitin perasaan dia ?"
Kaka lupa selama ini Kak Raka dan keluarganya udah berbuat baik sama kita, mereka semua yang nolong kita, kalau bukan karna mereka, kita berdua gak akan seperti ini" ucap Rara kesal.
"Ia dek kakak juga berpikir seperti itu, tapi kakak gak bisa ngebohongin perasaan kakak sendiri"
"kenapa ?"tanya Rara kesal
"Oh... Aku tau, pasti karna kak Alvian kan"
"kakak masih cinta kan sama dia" Tebak Rara.
"Inget kak... Kak Alvian dan keluarga nya udah nyakitin kakak dulu, dia udah ngebuang kakak, bisa-bisanya kakak lebih memilih kak Alvian dari pada kak Raka yang udah jelas-jelas baik sama kita"
"Mau di taro di mana muka kita kalau kakak menolak kak Raka, kakak mau kita di anggap tidak tau terimakasih" jelas Rara.
"Tapi Dek..." Maya masih tampak bingung.
"Pokoknya kalo sampai kakak menolak kak Raka, aku gak mau kenal lagi sama kakak" ucap Rara sembari meninggalkan Maya.
**
karna ucapan Rara tadi, akhirnya Maya menerima lamaran Raka, ia mempertimbangkan semua ucapan Rara, karna menurutnya ucapan Rara memang ada benarnya, ia tidak mungkin menyakiti perasaan orang yang sudah benar-benar baik kepadanya, terutama keluarga nya.
Jawaban Maya tadi di sambut gembira oleh Raka dan juga Dokter Diana, Dokter Diana pun segera menentukan hari baik untuk menggelar pernikahan putranya dengan Maya, ia tampak bahagia dan juga bersemangat, bagaimana tidak, ia memang sejak dulu menginginkan Raka segera menikah dan mempunyai keluarga, dan pasti nya mendapatkan cucu dari mereka.
Namun ada satu orang di luar sana yang sangat kecewa dengan jawaban Maya, padahal ia sangat berharap jika Maya menolak lamaran Raka, ia juga yakin jika Maya masih mencintainya.
Semua harapan Alvian hancur seketika saat itu juga. Alvian memutuskan untuk pulang, ia tidak ingin berlama-lama lagi berada di sana, Alvian membuang bunga yang ia bawa begitu saja sekaligus membuang semua angan-angan nya bersama Maya, ia pulang dengan perasaan kecewa.
Setelah mendapatkan jawaban dari Maya, Raka mengajak Maya untuk berbicara berdua dari hati ke hati.
"May... saya tau kamu pasti terkejut dan juga bingung dengan semua ini, karna tiba-tiba saja saya melamar kamu" Ucap Raka ketika mereka tengah berdua di taman.
"Mungkin kamu juga menyangka kalau saya ngelakuin hal ini karna paksaan dari Mami"
"Karna sebelumnya saya gak pernah membicarakan tentang hal ini, ataupun memperlihatkan perasaan saya ke kamu"
"Dan sekarang saya ingin kamu tau, kalau selama ini saya memang memiliki perasaan lebih sama kamu"
"Tapi saya tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaan saya sama kamu, atau sekedar memperlihatkan perasaan itu"
"Saya tidak mau jika hal itu akan membuat kamu menjauh"
__ADS_1
"Tapi ternyata selama ini Mami memperhatikan saya secara diam-diam, beliau tau kalau saya memiliki perasaan sama kamu"
"Dan sejak saat itu Mami terus menerus meminta saya untuk menyatakan perasaan saya ke kamu"
"Tapi karna saya tidak juga melakukan hal itu, akhirnya Mami mengajak saya untuk langsung melamar kamu, tanpa harus pacaran terlebih dahulu"
"Awal nya saya ragu dan takut jika kamu akan menolak lamaran saya"
"Tapi mami berhasil meyakinkan saya"
"Bahwa kita tidak bisa menyimpulkan sesuatu sebelum dilakukan"
"Dan akhirnya Saya memberanikan diri untuk melamar kamu"Raka menjelaskan semuanya panjang lebar.
"Saya sangat bersyukur karna kamu mau menerima lamaran saya"
"Tapi ada satu hal yang mau saya tanyakan sama kamu"
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ?"
"Saya gak mau kalau kamu ngelakuin hal ini karna terpaksa atau karena merasa tidak enak kepada saya"
"saya ingin kamu ngelakuin ini dari hati kamu sendiri"
"Bukan karena terpaksa"
"Kalo kamu memang gak mau menikah sama saya, saya gak akan marah ataupun benci sama kamu"
"Saya akan menerimanya"
"Dan kalau kamu merasa tidak enak kepada Mami, biar nanti saya yang akan menjelaskannya sama Mami, Mami pasti ngerti"
"Aku_aku juga selama ini memang mempunyai perasaan kepada Mas Raka, tapi Aku malu buat ngungkapin nya"
"Aku menunggu Mas Raka duluan yang nyatain ke aku" Maya terpaksa berbohong kepada Raka.
"Kamu serius May... kamu gak bohong kan" Tanya Raka tampak tidak yakin.
"Ia Mas... aku gak bohong" Jawab Maya lagi.
"Syukurlah kalau seperti itu, itu tandanya kita berdua memiliki perasaan yang sama"
"Saya gak mau jika pernikahan kita di landasi karna keterpaksaan.
"Kalau begitu besok kita kerumah ibu kamu ya, saya akan meminta restu kepada Ibu kamu"
"Ia mas..."
**
Setelah selesai membicarakan rencana pernikahan Maya dan Raka, Raka dan Dokter Diana berpamitan untuk pulang, Maya dan juga Bu Ambar mengantarkan mereka sampai ke depan.
Ketika Maya hendak kembali ke dalam rumah, ia tidak sengaja melihat sebuh buket bunga yang sangat cantik tergeletak begitu saja di bawah.
"Bunga siapa ini" Gumam Maya seraya berjongkok mengambil bunga tersebut.
"Ini kan bunga kesukaan aku" gumamnya lagi.
"Dan yang tau aku menyukai bunga ini cuma mas Al"
"Berarti Mas Al tadi ada di sini" Ucap Maya seraya mencari keberadaan Alvian, namun ia tidak menemukan nya.
__ADS_1
Maya pun mencoba menghubungi Alvian tapi Alvian tidak menjawab panggilan Maya.
"Kak... kakak sedang apa di sini" Tanya Rara yang baru saja keluar dari dalam, tadi ia sengaja tidak ikut pulang bersama Dokter Diana dan Raka.
"Itu bunga siapa Kak" ucapnya lagi.
"Kakak juga gak tau ini punya siapa, kakak nemuin bunga ini di sini" jelas Maya.
"Aneh... apa mungkin itu punya kak Raka ya ketinggalan disini"
"Mungkin dia lupa ngasih bunga nya ke kakak"
"Kakak juga gak tau Dek" Jawab Maya lagi.
"Oia kak... maksih banyak ya.. kakak udah mau nerima lamaran kak Raka"
"Maafin aku karna udah maksa kakak ngelakuin hal itu"
"Aku tau kakak pasti bingung dengan semua ini"
"Tapi kita harus tau diri kak"
"Anggap saja ini semua sebagai bentuk balas Budi kepada mereka yang selama ini selalu menolong kita, hingga kita menjadi seperti sekarang ini"
"Tapi aku juga yakin kakak pasti akan bahagia bersama kak Raka"
"Karna kak Raka itu orang yang sangat baik"
"Dia pasti akan selalu bahagiain kak" Sebenarnya Rara merasa sangat bersalah kepada kakaknya, karna sudah memaksa Maya untuk melakukan hal yang tidak ia inginkan, apalagi hal ini menyangkut perasaan dan kehidupan nya ke depan.
"Nggak dek... kamu gak perlu minta maaf"
"Apa yang kamu katakan memang benar Dek"
"Kakak gak mau nyakitin perasaan mas Raka dan juga Dokter Diana yang sudah sangat baik kepada kita"
"kakak gak mau jadi orang yang tidak tau berterima kasih"
"Mungkin ini semua adalah yang terbaik untuk kakak"
"Kamu doain aja ya, semoga nanti kakak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Raka" jawab Maya.
"Ia kak... Rara pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kakak"
"Oia.. kapan kakak mau memberitahu ibu"
"Ibu pasti seneng mendengar kabar ini"
"Besok Dek..."
"Tadi Mas Raka mengajak kakak untuk menemui ibu"
"Dia ingin meminta restu Ibu secara langsung"
"Kamu mau ikut ?"
"Kalo besok aku gak bisa ikut kak"
"Soalnya aku ada meeting sama client"
"Titip salam aja buat ibu"
__ADS_1