
Semenjak malam itu, Farel dan Rara terlihat semakin dekat , lebih akrab, dan lebih sering bertemu, bahkan Farel beberapa kali mengantarkan Rara pulang ke kosannya dan menginap disana.
Hubungan mereka sudah seperti layaknya sepasang kekasih yang di mabuk asmara, namun tidak ada kejelasan dari hubungan mereka, karna farel tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Rara ataupun meminta Rara menjadi kekasihnya, baik Rara maupun Farel sama-sama bungkam dengan perasaan mereka masing-masing, namun mereka tampak menikmati hubungan tersebut.
"Mel... gue bingung dengan hubungan gue sama Farel, sampe sekarang dia masih belum nyatain perasaannya ke gue, padahal hampir tiap malem kita tidur bareng, gue takut dia cuman main-main doang sama gue" Rara mulai resah dengan kedekatan mereka berdua, ia ingin kepastian dari hubungan mereka.
"Ya Ampun Ra... lu kolot banget sih jadi orang, sekarang udah gak jaman nya lagi acara tembak-tembakan kaya anak ABG, perasaan itu gak usah di ungkapin dengan kata-kata, cukup lewat, sentuhaaaa, kecupaaan, dan belaiaaan, itu semua udah cukup buat nyatain perasaan seseorang" Jelas Melly dengan gaya centil nya.
"Tapi Mel... gue pengen punya kejelasan dalam hubungan gue sama dia"
"Gini Ya Ra... lo itu jangan gampang pake hati sama cowok, Bawa have fun aja, jangan terlalu di bawa serius, gunain waktu Lo buat bersenang-senang, Lo ikutin semua permintaan dia, dan berikan dia servis yang terbaik, gue jamin dia bakalan tergila-gila sama Lo, dia gak bakalan bisa jauh-jauh dari Lo" jelas Melly lagi, selama ini ia selalu meracuni Rara dengan hal-hal seperti itu.
"Lo liat aja tuh si Jimy, dari pertama kali gue kencan sama dia, dia nempel terus sama gue, tiap malem nyamperin gue terus, tapi gue gak pernah pake hati, yang penting dia royal sama gue, mau nurutin semua permintaan gue"
"Dan gua denger-denger dia itu udah punya cewek, dan bentar lagi mau married, tapi gua mah bodo amat, toh bukan gue ini yang ngejar-ngejar dia, dia sendiri yang datang terus ke gue, gue sih gak masalah di jadiin yang kedua juga, yang penting hidup gue sejahtera" Demi melunasi hutang-hutangnorang tuanya membuat Melly menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.
*
*
"May... Lo yakin gak mau bareng sama kita" Tanya Mita saat Maya tengah menunggu Alvian menjemput nya.
"Nggak Mit... suami aku udah janji mau jemput, paling lagi di jalan kena macet" tolak Maya, karna selama ini Alvian selalu menepati janjinya.
"Kamu mau kita temenim gak May sampai suami kamu datang" Della merasa tidak tega meninggalkan Maya sendiri, sedangkan kampus sudah hampir sepi.
"Gak usah Del... kalian pulang aja duluan, bukannya kamu bilang tadi mau kerumah pacar kamu" ucap Maya lagi.
"Ya sudah kalo gitu, kita pulang duluan ya May" pamit Mita dan Rara.
"Bel... kamu ngapain kesini" tanya Alvian heran saat istri pertamanya tiba-tiba datang ke kantor.
"Tadi kebetulan lokasi pemotretan aku di deket sini, jadi aku mampir kesini untuk mengajak kamu pulang bareng"
"Memangnya gak boleh aku nyamperin suami aku sendiri"
"Muka kamu kaya gak suka gitu liat aku dateng" jelas Bella sambil menghampiri Alvian yang tengah duduk di kursi kerjanya, kemudian Bella duduk di pangkuan suaminya.
"Bukan gitu Bel... aku cuman heran aja kamu nyamperin aku ke sini, biasanya kamu gak pernah mau kalo aku minta kamu dateng ke sini, kamu suka bilang bosan" ucap Alvian lagi.
"Kan aku udah pernah bilang sama kamu Al... aku mau berubah, aku ingin hubungan kita bisa deket lagi kaya dulu, kamu mau kan Al bantu aku" ucap Bella seraya membelai-belai pipi suaminya
"Tentu saja, asalkan kamu sungguh-sungguh mau berubah"
"Ayo sekarang kita pulang"
"Kita harus menjemput Maya dulu di kampusnya" Ucap Alvian meminta Bella untuk berdiri.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Bella mengeluh sakit kepala, ia meminta Alvian mengantarkan dirinya terlebih dahulu ke rumah.
Alvian sempat kebingungan saat harus memilih antara mengantarkan Bella terlebih dahulu atau menjemput Maya, Ia tidak tega melihat Bella yang terus mengeluh kepalanya pusing, tapi ia juga khawatir kepada Maya yang pasti tengah menunggu dirinya. Dan sialnya ponsel Alvian tertinggal di kantor, karna tadi Bella membuatnya terburu-buru untuk pulang, hingga ia melupakan ponsel nya itu.
Akhirnya Alvian memutuskan untuk mengantarkan Bella terlebih dahulu, karna Bella terus memaksa ingin pulang.
Alvian mengemudikan mobilnya dengan sangat gelisah, karna hati dan pikirannya sedang cemas memikirkan Maya.
Sesampainya di rumah, Alvian mengantarkan Bella ke kamarnya terlebih,l dahulu, tapi saat tiba di kamar, Bella terus berusaha menghalangi Alvian untuk pergi, ia terus mengulur-ulur waktu. Ya... Bella hanya berpura-pura sakit kepala untuk membuat Alvian terlambat menjemput Bella, Bella juga sengaja menyembunyikan ponsel Alvian di laci meja kerjanya agar Alvian lupa membawanya.
Sudah satu jam lebih Maya menunggu Alvian di depan kampus, ia juga sudah mencoba menghubungi Alvian namun tidak ada jawaban.
Maya tampak bingung antara tetap menunggu suaminya menjemput atau memutuskan untuk pulang sendiri. Karna jika ia memutuskan untuk pulang sendiri, khawatir Alvian akan datang dan mencarinya di sana, sebab selam ini Alvian tidak pernah lupa untuk menjemputnya, meskipun ia dalam keadaan sesibuk apapun, Alvian selalu menyempatkan waktu untuk menjemputnya.
"Suami kamu belum jemput" Tiba-tiba saja Farel berhenti di depan Maya, tadi ia ke perpustakaan dulu untuk mengerjakan tugasnya.
"Fa_rel.. kamu juga masih di sini" Maya tampak terkejut melihat Farel tiba-tiba menyapa nya.
"Mas Al kayanya sedang banyak kerjaan di kantor, jadi telat jemput aku"
"Ayo naik, saya antar kamu pulang" ucap Farel tanpa basa basi dengan raut wajah yang dingin, walaupun ia masih sangat marah dan kecewa kepada Maya , tapi hatinya tidak bisa di bohongi bahwa ia masih sangat peduli kepada Maya.
"Tidak usah El... mungkin mas Al sedang di jalan menuju ke sini "tolak Maya.
"Mau sampai kapan kamu nunggu di sini, sepertinya suami kamu gak bakalan jemput, ayo cepetan naik" ucap Alvian lagi.
"Tapi" ucap Maya bingung.
Akhirnya Maya pun terpaksa menerima ajakan Farel, lehernya sudah terasa sangat pegal karna menunggu suaminya terlalu lama, badan nya pun sudah terasa lelah ingin segera istirahat.
"El... makasih ya kamu udah nganterin aku pulang" ucap Maya saat turun dari motor Farel di depan rumah Alvian.
"Kamu tidak perlu berterima kasih sama saya, dan jangan kamu pikir saya melakukan ini karna saya sudah memaafkan kamu, saya melakukanya karna merasa iba kepada wanita yang sedang hamil yang di abaikan oleh suaminya sendiri" Ucap Farel dingin.
Dan ternyata kedatangan Farel dan Maya di saksikan oleh Alvian, tadi ia hendak bergegas menjemput Maya tapi Maya sudah datang bersama Farel.
"Ternyata selama ini mereka masih tetap berhubungan ya Al... sampe nganterin pulang segala, seperti masih pacaran, kalo di lihat-lihat mereka berdua masih sama-sama memiliki perasaan" ucap Bella memanas-manasi Alvian.
"Diam kamu"
"Kenapa kamu bangun dari tempat tidur"
"Bukannya kamu sedang sakit kepala"
"Sebaik kamu kembali lagi ke kamar" Ucap Alvian kesal, kemudian ia keluar menghampiri Maya, tetapi Bella tetap mengikut Alvian.
"Wah wah wah... sepertinya ada yang lagi CLBK ni..." sindir Bella seraya melingkarkan tangannya di lengan Alvian, Maya tampak terkejut melihat Alvian sudah berada di rumah dengan Bella.
__ADS_1
"El... ayo masuk dulu, kamu sudah lama gak mampir ke rumah kita" ucap Bella basa-basi.
"Tidak terima kasih, saya buru-buru" Jawab Farel yang langsung pergi dari sana dengan motornya, tanpa menyapa Alvian sama sekali.
"Kalau begitu saya juga permisi ke kamar " Pamit Maya yang tampak kecewa, karna orang yang ia tunggu selama berjam-jam ternyata berada di rumah bersama istri pertamanya.
Sama hal nya dengan Alvian yang tampak kesal melihat Maya pulang bersama Farel, bahkan Maya juga tidak mencoba menjelaskan kenapa ia pulang bersama Farel.
Bella tampak tersenyum puas melihat kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"May... kenapa kamu pulang bersama Farel, bukan kah saya sudah bilang sama kamu, kamu jangan kemana-mana Sebelum saya menjemput kamu" ucap Alvian yang menyusul Maya ke kamarnya.
"Terus aku harus nunggu sampai kapan Mas..."
"Aku udah nunggu kamu selama berjam-jam, sampe kaki dan leher aku pegel"
"Aku pikir kamu sedang sibuk dengan pekerjaan kamu di kantor"
"Tapi ternyata kamu sedang berduaan bersama Bella di rumah"
"Aku gak masalah kalau kamu mau menghabiskan waktu bersama Bella"
"Tapi setidaknya kamu kasih kabar ke aku, biar aku gak nungguin kamu seperti orang bodoh"
"Untung saja ada adik kamu yang merasa kasihan sama aku, dan menawari aku tumpangan"
"Bukan kasihan sebagai mantan pacarnya, tapi hanya kasihan kepada wanita hamil yang terlunta-lunta di pinggir jalan" Jelas Maya panjang lebar, kemudian ia pergi ke kamar mandi meninggalkan Alvian yang tengah mematung setelah mendengarkan ucapan Maya, ia tidak bisa berbicara apa-apa lagi karna ia sadar dengan kesalahannya.
Setelah perdebatan itu, Maya terus mengurung diri di kamarnya, bahkan ia tidak ikut makan malam bersama Alvian dan Bella, hingga akhirnya Alvian membawakan makanan ke kamar Maya.
"May... saya bawakan makan malam untuk kamu" ucap Alvian seraya meletakan nampan tersebut di atas meja. sedangkan Maya tengah berbaring membelakangi Alvian.
"Saya tau kamu belum tidur, Kamu harus makan dulu May... kasian bayi kita" Maya masih tidak merespon sama sakali
Alvian merangkak naik ke atas tempat tidur, kemudian ia memeluk Maya dari belakang
"May saya minta maaf karna telah membuat kamu menunggu terlalu lama"
"Tapi saya tidak bermaksud melakukan itu sama kamu"
"Tadi Bella datang ke kantor dan mengajak pulang bersama"
"Tapi saat perjalanan menjemput kamu, Bella mengeluh sakit kepala"
"Dan dia meminta saya untuk mengantarkan nya terlebih dahulu"
"Dan kebetulan hp saya juga tertinggal di kantor"
__ADS_1
"Jadi saya gak bisa mengabari kamu".
"Saya bener-bener minta maaf May... saya janji, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi" Kini giliran Alvian yang menjelaskan kepada Maya panjang lebar, seraya mendekap tubuh istrinya, membenamkan kepalanya di leher Maya dan menghirup wangi rambut Maya yang selalu membuatnya tenang. Maya tampak meneteskan air mata saat Alvian mengatakan semua itu kepadanya, tapi ia belum berani untuk berbalik dan menatap wajah Alvian.