
Bella benar-benar merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh Maya, karna Alvian lebih memilih mempertahankan Maya dari pada dirinya, padahal dulu Alvian sangat tergila-gila kepadanya, bahkan Alvian rela melakukan apapun demi dirinya.
Tapi sekarang Alvian telah berubah, ia bersikap sangat dingin kepada Bella, bahkan Alvian sama sekali tidak mencegah Bella saat Bella mengancam akan pergi dari rumah ini.
Bella tidak sudi jika harus kalah dari Maya, yang hanya seorang pembantu, untuk saat ini ia lebih memilih untuk pura-pura mengalah dan menerima Maya sebagai istri muda Alvian, berpura-pura baik di hadapan Alvian untuk merebut kembali hati Alvian, sembari memikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkan Maya dari rumah ini.
Alvian sudah meminta Maya untuk beristirahat di kamarnya, ia juga meminta maaf atas ucapan dan perbuatan Bella yang telah menyakitinya.
"Al... aku minta maaf ya atas kelakuanku selama ini, aku tau selama ini aku kurang memperhatikan kamu, dan selalu meninggalkan kamu, tapi mulai sekarang aku janji aku akan lebih memperhatikan kamu, aku akan belajar jadi istri yang baik buat kamu" Ucap Bella menghampiri Alvian di kamarnya.
"Kenapa kamu baru melakukannya sekarang Bel... kemana aja kamu selama ini, setelah semua ini terjadi, kamu baru menyadari kesalahan kamu" ucap Alvian sinis.
"Aku akui aku memang salah, aku gak pernah peduli dengan perasaan kamu, tapi aku akan menebus semua kesalahanku, aku akan memperbaiki hubungan kita, aku akan meluangkan lebih banyak waktu untuk kamu, aku janji Al..." Bella berdiri di hadapan Alvian yang tengah duduk di sisi tempat tidur, kemudian ia melingkarkan tangannya di leher Alvian.
"Aku gak perlu janji dari kamu Bel, aku hanya ingin bukti"
"Dan satu hal lagi, aku gak suka kamu bersikap kasar sama Maya, dia itu tidak bersalah, dia hanya korban dari permasalahan rumah tangga kita berdua"ucap Alvian lagi.
"Ia Al... aku janji aku akan berubah, aku akan buktikan sama kamu kalau aku bisa menjadi istri yang baik untuk kamu" ucap Bella sambil duduk di pangkuan Alvian, kemudian ia mencium pipi suaminya itu, tapi Alvian sama sekali tidak merespon.
Tapi Bella tidak berhenti sampai di situ saja, ia kemudian mencium bibir suaminya dengan sangat mesra, ia yakin Alvian pasti tidak akan bisa menolaknya.
Alvian berusaha menghindar, Tapi Bella malah semakin agresif, Bella mendorong Alvian hingga ia terlentang di tempat tidur dan otomatis Bella berada di atas tubuh Alvian.
Perlahan Bella mulai membuka kancing kemeja Alvian satu persatu, bibirnya kini menyusuri leher Alvian untuk membangkitkan gairah suaminya itu.
"Maaf Bel... hari ini aku cape banget" ucap Alvian menghentikan Bella.
"Tapi al... kita sudah lama gak ngelakuin ini" protes Bella.
__ADS_1
"Lain kali saja, aku bener-bener cape banget hari ini" Ucap Alvian lagi, ia menyingkirkan tubuh Bella dari atas tubuhnya, kemudian ia beranjak dari tempat tidur, dan pergi dari kamar itu.
Bella tampak kesal dengan semua itu, ia benar-benar merasa di campakkan oleh Alvian, Alvian benar-benar sudah berubah.
Saat Alvian melewati kamar Maya, ia tidak sengaja mendengar Maya sedang muntah-muntah, kebetulan pintu kamar Maya tampak setengah terbuka, sepertinya Maya lupa menutup pintunya.
Spontan Alvian langsung masuk ke kamar Maya karna khawatir, ia mencari asal suara tersebut, ternyata Maya sedang berada di kamar Mandi, ia tengah berdiri di depan wastafel sambil menundukkan kepalanya.
"May... kamu kenapa" Tanya Alvian saat menghampiri Maya di kamar mandi, namun Maya belum bisa menjawab pertanyaan Alvian, perutnya benar-benar mual, seperti di aduk-aduk, rasanya ia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya tapi ia hanya air yang keluar dari mulutnya, karna ia memang belum makan sejak tadi siang.
Alvian berinisiatif memijit pundak Maya yang sejak tadi terus muntah-muntah , berharap bisa membuat Maya sedikit lebih baik.
Ternyata Pijatan Alvian memang sangat berguna, terbukti setelah Alvian memijat pundak Maya, Maya langsung berhenti muntah-muntah.
"Gimana May.. apa kamu masih merasa mual" Tanya Alvian saat Maya sudah selesai membersihkan bibirnya dengan air.
"Udah nggak Mas... tapi masih sedikit pusing" jawab Maya yang tampak lemas.
"Pelan-pelan May..." Ucap Alvian lagi, saat Maya hendak naik ke tempat tidur.
"Terimakasih banyak Mas... Maaf saya jadi merepotkan" Ucap Maya saat ia sudah berada di tempat tidur, ia menyandarkan kepalanya di Sandaran tempat tidur.
"Sama-sama May... kamu gak boleh bilang seperti itu, saya tidak merasa di repotkan sama sekali"
"Wajah kamu pucet banget May... pasti kamu belum makan kan May" Selidik Alvian.
"Belum Mas... saya belum merasa lapar" semenjak hamil nafsu makan Maya jadi berkurang.
"Tapi sekarang kamu sedang hamil May... kamu harus makan dengan teratur, jangan sampai telat makan, kamu harus pikir kan juga janin yang ada di dalam kandungan kamu, kamu harus memberikannya nutrisi yang baik, agar kalian berdua selalu sehat" jelas Alvian khawtir dengan kesehatan mereka berdua.
__ADS_1
"Kalau gitu saya ambilkan makanan buat kamu dulu ya di bawah, tadi saya sudah memesan makanan dari luar" ucap Alvian yang segera bergegas pergi ke luar tanpa mendengarkan jawaban Maya terlebih dahulu, hal itu membuat Maya semakin merasa tidak enak.
Beberapa saat kemudian Alvian kembali ke kamar Maya dengan membawa sebuah nampan
"Ini May... saya bawakan nasi dan sup daging buat kamu, saya juga membuatkan kamu susu untuk ibu hamil, tadi saya sekalian meminta kurir untuk membelikan nya" ucap Alvian seraya menyimpan nampan tersebut di atas meja yang berada di sebelah tempat tidur, kemudian ia menarik sebuah kursi untuk ia duduki.
"Makasih Mas... saya jadi merepotkan mas terus"
"Tidak apa-apa May... kesehatan kamu kan belum sepenuhnya pulih, jadi kamu tidak boleh terlalu banyak gerak"
"Sekarang kamu makan dulu ya, Mumpung sup nya masih panas"
"kamu bisa makan sendiri... atau mau saya suapin" tanya Alvian seraya mengambil nasi dari atas meja, ia sudah menambahkan sup panas ke dalam nasi tersebut.
"Saya makan sendiri saja mas..." ucap Maya sambil mengambil makanan tersebut dari Alvian, kemudian Maya makan dengan perlahan.
Maya tampak susah payah menelan makanannya, ia benar-benar tidak berseleraz dan perutnya juga terasa mual setelah di isi, Maya menyimpan kembali makanan nya di atas meja.
"Kenapa gak di habiskan May... padahal kamu baru makan sedikit" Tanya Alvian heran.
"Saya sudah kenyang Mas...kalau di paksakan nanti makanan nya malah keluar lagi" Jawab Maya berusaha menahan rasa mualnya.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu minum dulu, setelah itu kamu minum susunya" Alvian memberikan segelas air putih untuk Maya, setelah itu ia juga memberikan susu rasa coklat kepada istrinya itu, Alvian terlihat sangat telaten mengurus Maya, dan juga memperhatikan bayi yang ada di dalam kandungan Maya, ia menemani Maya sampai Maya benar-benar terlelap tidur.
*****
Di dalam masalah ini, bukan hanya Maya yang menjadi korban atas semua kekacauan ini, bukan hanya Maya yang menderita dan patah hati, tapi Farel juga merasakan hal yang sama dengan Maya, hidupnya tiba-tiba hancur dalam sekejap, begitupun dengan hubungannya dengan Maya, semua impian dan angan-angan nya bersama Maya sirna begitu saja.
Farel benar-benar hancur, frustasi, marah, kecewa dan benci dengan semua ini, ia merasa semua ini sangat tidak adil baginya, ia harus kehilangan orang yang ia cinta dengan cara seperti ini, ia benar-benar merasa telah di tipu dan di hianati oleh orang yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Semenjak saat itu, Farel lebih sering menghabiskan waktunya di kelab malam, hampir setiap hari ia datang ke tempat itu untuk mabuk-mabukan, karna hanya dengan cara itu ia bisa melupakan semua masalahnya, terutama melupakan Maya yang kini sudah menjadi istri dari kakaknya sendiri.