
Maya mengetuk pintu rumahnya dengan sedikit ragu, rasanya ia ingin berlari dan pergi meninggalkan rumah itu, tapi ucapan Alvian benar, masalah itu harus di hadapi, bukan untuk di hindari, walaupun kita tidak tau hasilnya nanti, ucapan Alvian tadi memberikan kekuatannya kepada Maya.
Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka, ternyata yang membuka pintu tersebut adalah Rara, Adik perempuan Maya.
"Kakak... ngapain kakak datang kesini, apa belum cukup kakak membuat Ibu malu, termasuk aku dan juga Angga" Rara tampak tidak senang melihat kedalam kakaknya, apalagi dengan membawa Alvian.
"Kakak mau ketemu Ibu Dek... kakak mau minta maaf sama Ibu" Maya sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Tapi Ibu gak mau ketemu sama kakak, Ibu jadi sakit gara-gara kakak, ibu sangat kecewa sama kakak" ucap Rara lagi.
"I_Ibu sakit ?" Maya benar-benar terkejut mendengar hal itu, ternyata kekhawatiran nya benar-benar terjadi.
"Ibu di mana dek... kakak ingin melihat keadaan ibu" Walaupun Rara sudah melarangnya masuk tapi Maya tetap menerobos masuk, ia berlari untuk menemui ibunya.
Ternyata bu sari tangah duduk di sebuah kursi kayu yang ada di dalam ruang tamu, sedangkan Angga adik bungsu Siska tengah berdiri di belakang ibunya sambil memijit pundak sang ibu yang terlihat sedang sakit, dan juga raut wajahnya tampak sedih.
Saat melihat ibunya, Maya langsung bersimpuh dan memeluk kaki ibunya.
"Ibu... maafin Maya Bu... Maafin Maya.... Maya sudah mengecewakan ibu, Maya tidak bisa menjaga kepercayaan ibu, Maya sudah gagal menjaga kehormatan Maya, Maya sudah mempermalukan ibu, ampuni Maya Bu... ampuni Maya" Maya tidak bisa lagi membendung perasaan bersalahnya terhadap sang ibu, ia menangis di kaki ibunya.
"Ibu benar-benar kecewa sama kamu, kamu sudah merusak kepercayaan yang sudah Ibu berikan selama ini, dari kecil ibu selalu mendidik kamu dengan baik, ibu tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu, hati ibu sakit May... melihat kamu menjadi wanita seperti itu, ibu malu... ibu malu mempunyai anak seperti kamu" Terlihat jelas betapa kecewanya Bu Sari terhadap anak yang selama ini ia didik dengan kasih sayang dan ia besarkan dengan sekuat tenaganya.
"Maafin Maya Bu... maafin Maya, Maya sudah membuat hati ibu terluka, Maya tidak bisa menjadi anak yang ibu harapkan selama ini, Maya mohon maafin Maya Bu..." Hanya kata maaf yang bisa Maya ucapkan kepada ibunya itu.
Melihat hal itu, hati Alvian terasa sangat sakit, ia sudah tidak tahan lagi melihat Maya harus menanggung semuanya
"Bu sari... sebenarnya ini semua bukan kesalahan Maya, ini semua salah saya, Maya hanyalah korban, saya yang sudah membuat semua kekacauan ini, dan saya datang ke sini untuk bertanggung jawab kepada Maya." akhirnya Alvian angkat suara, ia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Mendengar perkataan Alvian, semua orang-orang tiba-tiba terdiam, karna berita yang mereka dengar di TV sangat bertolak belakang dengan apa yang di katakan Alvian.
"May... apa benar yang di katakan oleh tuan Alvian, apa benar dia yang sudah melecehkan kamu, ibu gak terima jika benar dia yang sudah merenggut kehormatan kamu, ibu akan melaporkan nya ke polisi, kita memang orang miskin tapi kita punya harga diri May... kamu gak perlu takut " ucap ibu meminta penjelasan dari Maya, ternyata yang di katakan Maya memang benar, ibunya itu tidak akan tinggal diam saat putrinya di lecehkan.
"Jawab ibu May...kenapa kamu diam saja" Ibu tampak tidak sabar mendengar jawaban Maya.
__ADS_1
"Tidak bu... itu semua tidak benar, Ini semua salah Maya, Maya yang sudah menggoda tuan Alvian, Maya yang sudah menjebaknya, tapi sekarang Maya menyesal Bu... Maya benar-benar menyesal melakukan hal itu..." walaupun dalam keadaan seperti itu, Maya masih tetap melindungi Alvian, apalagi saat mendengar Ibunya akan melaporkan Alvian ke polisi.
"Kenapa kamu melakukan semua itu May.... Kenapa..." ucap Ibu dengan tangis kekecewaan, hatinya seperti ter iris dengan pisau yang sangat tajam mendengar perkataannya Maya.
"Ibu benar-benar kecewa sama kamu May... ibu kecewa... ibu juga malu sama Tuan Alvian, tega-teganya kamu berbuat seperti itu kepada tuan Alvian, selama ini dia sudah sangat berjasa kepada keluarga kita, di sudah sering membantu kita"
"Coba liat dia sekarang May... walaupun kamu sudah berbuat seperti itu kepadanya tapi dia masih mau bertanggung jawab sama kamu, dia masih mau menikahi kamu, coba pikirkan perasaan istri tuan Alvian juga, bagaimana perasaannya saat melihat suaminya menikah lagi, kamu juga perempuan May... seharusnya kamu bisa memahami perasaan perempuan"
"Ibu benar-benar malu mempunyai anak seperti kamu May..., ibu malu..." ucap Ibu sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Bu... tolong jangan bicara seperti itu Bu..." ucap Maya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ibu malu mengakui kamu sebagai anak ibu, ibu sangat kecewa sama kamu May... sekarang juga kamu pergi dari rumah ini, jangan pernah menemui ibu lagi, anggap saja ibu kamu ini sudah mati" hatinya terasa sakit saat mengatakan hal itu.
"Nggak bu... nggak... tolong jangan bicara seperti itu, Maya mohon maafin Maya Bu... Maya gak bisa hidup tanpa ibu" Uang paling menyakitkan untuk Maya adalah saat ibunya tidak mau mengakuinya sebagai anak.
"Ibu mohon pergi dari sini sekarang juga May... ibu sudah tidak mau melihat wajah kamu lagi, jangan pernah injakan kaki kamu di rumah ini lagi" Bu sari mengatakan hal itu sambil memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat Maya, ia benar-benar kecewa.
"Kak... kakak jangan keras kepala, sebaik kakak pergi dari sini sekarang juga, ibu sudah gak mau ketemu kakak lagi" ucap Rara sambil menarik lengan kakaknya untuk bangun
"Nggak Dek... kakak gak mau" Ucap Maya berusaha menahan tubuhnya.
"Bu... tolong Bu... dengarkan penjelasan saya dulu, ini semua tidak seperti yang ibu bayangkan" Alvian berusaha untuk meyakinkan Bu sari.
"Sudahlah Tuan, tuan tidak perlu membela Maya lagi, tuan tidak perlu menutupi kesalahannya, selama ini tuan sudah terlalu baik kepada keluarga saya, saya benar-benar minta maaf atas perbuatan Maya, saya sudah gagal mendidik putri saya" Bu sari merasa sudah gagal menjadi seorang ibu.
"Tapi Bu..." Alvian masih berusaha meyakinkan bu sari.
"Ra... bawa kakak kamu pergi dari sini" ucap Bu sari berusaha tetap kuat walaupun sebenernya ia tidak rela kehilangan Maya.
"Nggak bu... Maya gak mau, jangan lakuin ini sama Maya..." ucap Maya histeris.
"Ayo cepetan bangun kak... jangan bikin keributan di sini, apa kakak mau ngeliat ibu tambah sakit" Ucap Rara menarik tangan Maya dengan sekuat tenaga, ia menyeret Maya ke luar rumah.
__ADS_1
"Dek... kakak masih mau ketemu sama Ibu, ijinin kakak masuk" Maya masih belum menyerah, ia hendak menerobos lagi ke dalam.
"Kakak lupa ucapan ibu tadi, ibu udah gak mau ketemu kakak, begitu juga sama aku, aku sangat Kecewa sama kakak, kakak udah bikin kita semua malu, semua tetangga di sini terus menerus menghina Keluarga kita, aku juga di buli sama temen-temen aku di sekolah karna perbuatan kakak, Rara benci sama kakak, Rara nyesel punya kakak seperti kak Maya" ucap Rara dengan penuh rasa kecewa.
"Rara jaga ucapan kamu, kamu gak boleh bicara seperti itu sama kakak kamu sendiri, kamu gak tau apa yang sebenarnya terjadi" Alvian tampak kesal melihat Rara berbicara seperti itu kepada Maya.
"Aku bukan anak kecil kak, aku udah ngerti semuanya, aku bisa bedain mana yang baik dan mana yang buruk, dan Kak Maya adalah contoh yang buruk buat aku dan Angga" jawab Rara lagi.
Berbeda halnya dengan Angga yang sejak tadi hanya bisa diam melihat permasalahan yang ada di dalam keluarganya, ia merasa tidak punya hak untuk bicara karna usianya masih terlalu muda.
"Tunggu kak..." ucap Angga mengejar kakaknya yang hendak masuk kedalam mobil.
"Angga" Maya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil tersebut. Angga langsung memeluk Maya dan menangis di pelukan kakaknya itu.
"Maafin kakak ya dek... karna kakak udah ngecewain kamu, kakak gak bisa jadi kakak yang baik untuk kalian" Ucap Maya sambil mengelus punggung adiknya.
"Nggak kak... kakak gak perlu minta maaf, kak Maya adalah kakak yang terbaik bagi Angga, Angga sangat sayang sama kakak, Angga gak peduli dengan ucapan semua orang, Angga percaya sama kakak, Angga yakin kakak gak seperti yang orang lain bilang" Maya sangat terharu mendengar ucapan adiknya itu, Selama ini Angga dan Maya memang sangat dekat.
"Makasih banyak dek... makasih karna kamu sudah mau percaya sama kakak, kakak sangat bersyukur karna masih ada yang percaya sama kakak, dan masih ada yang sayang sama kakak"
"Sampai kapanpun Angga akan selalu percaya sama kakak, Angga akan selalu menyayangi kakak"
"Kakak juga sayang sama kamu Dek... kakak titip Ibu dan Rara ya, tolong jaga mereka, kakak percayakan semua nya sama kamu, kamu anak kaki satu-satunya, kamu adalah pengganti bapak, kakak yakin kamu bisa melakukan nya" Hanya Angga yang bisa Maya andalkan saat ini.
"Kakak juga jaga diri kakak baik-baik ya, Angga akan bujuk Ibu sama kak Rara untuk maafin kakak" ucap Alvian sambil menggenggam tangan kiri kakaknya
"Makasih ya dek... kakak pamit dulu, sekolah yang bener ya dek... buat ibu bangga sama kamu" ucap Maya seraya mengusap rambut Angga.
"Ia kak..."
"Kak Alvian... tolong jagain kak Maya ya, jangan bikin kak Maya sedih, kak Maya orang yang sangat baik" Ucap Angga kepada Alvian.
"Tentu saja Ga... kakak janji" Jawab Alvian, ia pun ikut mengelus kepala Angga.
__ADS_1