
Hari ini merupakan lembaran baru bagi Maya dan juga Rara, mereka mulai beraktifitas seperti biasa, dengan tempat tinggal baru, lingkungan baru, pekerjaan baru, dan suasana baru.
Saat ini Maya tengah berusaha melupakan semua pahit yang ia alami saat itu, melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya, membangun kembali puing-puing yang telah hancur berkeping-keping.
Begitupun dengan Rara, ia tak kalah hancurnya seperti Maya, sebab nasib percintaan nya harus kandas dengan cara seperti ini, ia pikir hubungan nya dengan Farel akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius, apalagi setelah apa yang mereka lakukan selama ini. Namun Rara sangat pandai menyembunyikan kesedihannya, ia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya itu, ia selalu bersikap bahwa dirinya baik-baik saja.
Pagi ini adalah hari pertama Maya dan Rara bekerja di tempat yang baru, Rara bekerja di rumah Dokter Diana, sedangkan Maya bekerja di panti asuhan Dokter Diana juga. Maya dan Rara memutuskan untuk tinggal terpisah, Rara tinggal di rumah Dokter Diana, sedangkan Maya tinggal di panti asuhan, hal itu mereka lakukan semata-mata agar mereka bisa totalitas dalam bekerja, terutama Rara yang harus menyiapkan sarapan untuk Bu Diana pagi-pagi, sebelum majikannya itu berangkat ke rumah sakit, jadi rasanya sangat repot sekali jika Rara harus berangkat pagi-pagi sekali ke rumah Bu Diana, ia tidak ingin Sampai kesiangan menyediakan sarapan jika ia harus bolak-balik.
Begitupun dengan Maya, ia ingin menjaga anak-anak sepenuhnya, berjaga-jaga jika ada anak yang tiba-tiba sakit tengah malam,agar ia bisa segera mengobati anak tersebut.
"May... kenalkan ini Bu Ambar yang bekerja di panti asuhan ini sejak panti asuhan ini di dirikan" ucap Dokter Diana memperkenalkan mereka berdua.
"Bu Ambar, ini Maya, yang akan membantu Bu Ambar menjaga anak-anak, terutama jika ada anak yang jatuh sakit, karna Maya ini calon Dokter" ucap Dokter Diana lagi, dan akhirnya Bu Ambar dan Maya pun saling berkenalan dan saling sapa. kemudian mereka bertiga berbincang-bincang sebentar mengenai panti asuhan tersebut dan mengajak Maya berkeliling panti asuhan, dan juga memperkenalkan anak-anak kepada Maya. setelah itu Dokter Diana berpamitan terlebih dahulu, sebab ia harus pergi ke Rumah sakit.
"Ayo Neng... sekarang ibu antar kamu ke ruang bayi" ajak Bu Ambar.
Saat berada di ruang Bayi, pandangan Maya langsung tertuju kepada bayi mungil yang sangat cantik, yang sedang menangis
"Bu.. nama Bayi ini Siapa" Ucap Maya sambil menggendong Bayi tersebut, mencoba menenangkan bayinya. Dan Seketika bayi itu langsung berhenti menangis.
"Ibu belum sempat memberinya nama, sebab bayi ini baru satu hari berada di sini" jelas Bu Ambar.
"Bayinya langsung anteng ya di gendong sama neng Maya"
"Dari semalam bayinya nangis terus"
"Memangnya orang tua Bayi ini kemana Bu..." tanya Maya penasaran.
"Kemarin seorang perempuan menitip kan bayi ini ke sini, katanya orang tua bayi ini sudah meninggal" jelas Bu Ambar lagi.
"Ya Allah... kasian sekali bayi ini" ucap Maya sambil mengelus pipi sang bayi.
"Gimana kalo Maya aja yang memberi nama bayi ini"
"Tentu saja, memang nya Maya mau memberikan nama apa"
"Hmmmmm gimana kalau kita namai bayi ini Alma" Entah kenapa tiba-tiba saja Maya menyebutkan nama tersebut.
"Ia ibu setuju, namanya bagus". Akhirnya mereka sepakat menamai bayi itu dengan Nama Alma.
Sebelum pergi ke panti asuhan, Dokter Diana juga sudah mengajak Rara berkeliling seluruh sudut rumahnya, sekaligus memberi tahu Rara apa saja yang harus Rara kerjakan di rumahnya, dan kebetulan saat itu tidak ada orang di rumahnya, karna anak-anaknya sedang menginap di rumah temannya.
__ADS_1
Seharian ini, Rara sudah mengerjakan semua tugasya sebagai asisten rumah tangga, seperti menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, mencuci baju dan memasak, seperti layaknya asisten rumah tangga pada umumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Dokter Diana belum juga pulang, Rara menunggu Dokter Diana sambil duduk di sofa ruang tamu, agar saat Dokter Diana pulang, ia langsung membukakan pintu, walaupun sebenarnya ia sudah sangat mengantuk.
ketika Rara sudah setengah tidur, Rara mendengar suara pintu yang terbuka secara perlahan, ia juga melihat seseorang berjalan mengendap-endap, tapi penglihatan Rara samar-samar, sebab ia sudah mematikan lampu ruang tamu.
Spontan Rara langsung bangun sambil berteriak "Maling.... Maling..." teriak Rara.
Karna terkejut dengan teriakan Rara, pria tersebut langsung membekap mulut Rara...
"Hei diem Lo... gue bukan maling" ucap Pria tersebut.
"Hmmmmmpppp" Rara kesulitan untuk bicara. kemudian Rara langsung menggigit tangan pria itu.
"Aw.... " teriak pria itu, sambil memegangi tangannya.
"Maling... maling" teriak Rara lagi, pria itu membekap mulut Rara lagi, karna teriakan Rara semakin kencang, ia tidak mau jika orang lain mendengar nya.
"Eh... ada apa ini" kebetulan Dokter Diana pulang.
"Kenapa kamu membekap Rara seperti itu"
"Dok... laki-laki ini mau maling di rumah ini"Rara langsung berlari ke samping Dokter Diana sambil mengadu.
"Enak aja Lo bilang gue maling" jawab laki-laki tersebut.
"Kalo Lo bukan maling, ngapain Lo masuk kerumah ini ngendap-ngendap" jawab Rara lagi.
"Hahaha jadi kamu pikir dia ini maling" ucap Dokter Diana sambil tersenyum.
"Dia itu bukan maling, tapi ini Radit putra saya" jelas Dokter Diana.
"Lo denger tuh... gue ini bukan maling, gue pemilik rumah ini" Ucap Radit kesal.
"Ja_jadi ini anak Dokter Diana"
"Maaf Dok saya tidak tau, saya pikir dia maling"
"Maaf ya mas Radit, saya kira kamu maling, abis jalan nya ngendap-ngendap gitu"
"Enak aja Lo minta maaf, liat ni tangan gue nyampe biru gini bekas gigi Lo" bentak Radit sambil menunjukkan tangannya.
__ADS_1
"Radit... kamu gak boleh bicara seperti itu"
"Kamu juga salah, ngapain coba kamu ngendap-ngendap kaya maling gitu"
"Kamu pasti mau sembunyi-sembunyi dari mami kan, karna kamu udah dua hari gak pulang"
"Sampai kapan sih kamu mau keluyuran gak jelas gitu" omel Dokter Diana.
"Ia maaf Mi... Aku cuman kumpul sama temen-temen aja"
"Lagian cewek ini siapa sih Mih, kok malem-malem ada di rumah kita" tunjuk Radit.
"Ini Rara asisten rumah tangga kita yang baru, mulai sekarang dia akan bekerja di rumah kita"jelas Dokter Diana.
"Kerja...?? Mami gak salah memperkerjakan cewe bar-bar kaya dia, memang nya dia bisa kerja apa, palingan kerjaan nya males-malesan sambil maenin hp" ledek Radit.
"Adit..." bentak Dokter Diana.
"Gak sopan kamu ngomong kaya gitu"
"Rara ini wanita yang baik"
"Walaupun Rara masih muda, tapi Rara anaknya mandiri, mau bekerja keras"
"Gak kaya kamu, yang sukanya cuma keluyuran sama poya-poya" omel Dokter Diana lagi.
"Kok Mami jadi banding-bandingin aku sama dia sih"
"Udah ah aku mau ke kamar dulu cape" ucap Adit sambil pergi.
"Nyebelin banget sih tuh cowok, pake ngatain aku cewek bar-bar segala lagi"
Dasar cowok tengil"
"Beda banget sama ibunya" gumam Rara dalam hati.
"Saya minta maaf ya atas ucapan Adit, dia orangnya emang kayak gitu"
"kamu nggak usah dengerin omongan dia"
"pokoknya kamu hanya perlu dengerin omongan saya aja" ucap Dokter Diana merasa tak enak hati.
__ADS_1