
Karna pagi ini Rara harus pergi kuliah, jadi Pagi-pagi sekali Rara sudah bangun untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, ia juga sudah memasak untuk sarapan, hanya tinggal menunggu majikannya bangun dan sarapan, setelah biru ia akan bersiap untuk pergi ke kampus.
"Pagi Bu..." Sapa Rara yang tengah menata sarapan di atas meja makan.
"Pagi Ra..." ucap Dokter Diana seraya menarik sebuah kursi untuk duduk.
"Wah... masakan kamu keliatannya enak" ucap Dokter Diana saat melihat semua masakan Rara.
"Semoga cocok ya rasanya dengan selera Bu Dokter" ucap Rara penuh harap.
"Pagi Mih..." ucap Seorang pria.
"Raka... kamu sudah pulang "
"Kamu sampai jam berapa semalam, kok gak bangunin Mami" ucap Dokter Dian kepada anak sulungnya yang baru saja pulang dari Surabaya untuk urusan pekerjaan.
"Semalem Raka nyampe jam 12 Mih... untung Raka bawa kunci cadangan, jadi Raka gak perlu bangunin Mami"
"Raka gak tega bangunin Mami malem-malem"Jawab Raka.
Rara hanya bisa diam melihat percakapan antar ibu dan anak ini, ia juga kagum melihat Raka yang sangat tampan dan juga sopan kepada Maminya, selain itu Raka juga terlihat dewasa.
"Oia Mami lupa belum ngenalin kalian"
"Raka ini Rara asisten rumah tangga kita yang baru"
"Dan Rara, ini Raka anak pertama saya, Kakaknya Radit" jelas Dokter Diana.
"Pagi Ra...."Sapa Raka sambil tersenyum.
"Pagi mas..." jawab Rara.
"Oh... jadi dia anak sulung nya dokter Diana, kok beda banget ya sama Ade nya yang tengil itu, udah ganteng, ramah lagi"gumam Rara dalam hati.
"Ra... kok kamu bengong" ucap Dokter Diana
"Kamu pasti kagum ya sama Raka"
" Tante tau, kamu pasti naksir sama anak tante" Goda Dokter Diana sambil tersenyum. selain ramah, Dokter Diana juga humoris.
"Ng_nggak bu... tadi Rara lagi ngelamun" ucap Rara malu.
"Mami ini, seneng banget becandain orang"
"Jadi malu kan Rara nya"Tegur Raka.
"Gak apa-apa, biar Rara gak terlalu tegang, biar lebih santai kerjanya, ia kan Ra..." jawab Mami sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ia Bu... gak apa-apa" ucap Rara merasa sangat malu.
"Oia Ra... Tolong bangunin Radit ya di kamarnya, hari ini dia kuliah pagi, dia itu paling susah kalau bangun pagi"
"Baik Bu..."
"Kalau gitu saya permisi dulu ya Bu..." jawab Rara segera bergegas ke lantai atas.
Awalnya Rara mencoba mengetuk pintu kamar Radit berkali-kali, tapi tidak ada jawab sama sekali dari dalam, kemudian Rara mencoba membuka Handle pintu kamar Radit, ternyata pintunya tidak di kunci, kemudian Rara membuka pintu kamar tersebut dan berjalan dengan perlahan.
Sebenarnya ia merasa tidak enak harus masuk ke dalam kamar pria, tapi mau bagaimana lagi, ini merupakan sebuah perintah dari majikannya.
"kebo banget sih tu orang tidurnya, udah di ketuk beberapa kali juga, masa gak denger, nambah-nambah kerjaan gue aja" gerutu Rara dalam hati.
Saat Rara masuk kedalam kamar, ternyata Radit masih tidur pulas, namun saat itu Radit hanya mengenakan celana boxer saja, Dada bidangnya tak tertutup sehelai kain pun
"Aduh .. gimana ini, mana dia gak pake kaos lagi"
"Gak dingin apa tuh orang"
"mentang-mentang dadanya kotak-kotak kaya roti sobek" gerutu Rara lagi.
"Ya ah udah bodo amat ... gua kan cuman ngejalanin tugas aja dari Bu Dokter"
"Mas... mas Radit bangun mas..." ucap Rara sambil berdiri di samping tempat tidur, namun masih tidak ada respon sama sekali dari Radit.
"dasar ******... susah banget sih dibanguninnya"
"lo itu tidur apa latihan mati sih" ucap Rara kesal
"Gimana ya caranya biar dia bangun" ucap Rara sambil berpikir.
"Oh... gue tau, gue siram Lo pake air" ucap Rara yang kebetulan melihat air minum di atas meja.
"Banjir...banjir..." teriak Rara sembari menyipratkan air tersebut ke wajah Radit. seketika Radit langsung loncat dan berdiri di tempat tidur.
"Tolong... banjir tolong..." ucap Adit sambil berdiri di tempat tidur, dengan rambut yang acak-acakan, kesadarannya masih setengah sadar.
"Hahaha....." Rara tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Radit. Dan kemudian Radit pun sadar bahwa dirinya hanya mengigau dan di kerjain oleh Rara.
"Heh... ngapain Lo ada di kamar gue"
"Sembarangan ya masuk-masuk kamar gue seenaknya". ucap Radit kesal.
"Abis gue gedor-gedor kamar lo, tapi Lo nya gak keluar-keluar"
"Yaudah gue masuk aja" jelas Rara.
__ADS_1
"Trus ngapain Lo nyiram gue pake air segala"
"memangnya Lo gak bisa bangunin gue baik-baik"
"Tadi gue udah bangunin Lo dengan baik dan benar, tapi Lo tidur nya kaya kebo"
"Terpaksa deh gue siram pake aer"jelas Rara lagi.
"Sumpah... tadi Lo lucu banget... lompat-lompat di atas kasur sambil teriak-teriak, mana gak pake baju lagi, mirip banget kaya Tarsan" Rara tertawa lucu.
Mendengar ucapan Rara, Radit langsung menunduk untuk melihat tubuhnya, ia baru sadar kalau dirinya memang tidak mengenakan baju.
"Bener-bener ya Lo jadi cewek, gak ada malu-malunya sama sekali liat cowok cuman pake kolor doang"
"Atau... Lo emang kesenangan ya liat badan sixpack gue ini" ucap Radit tak habis pikir.
"Itu mah bukan Sixpack, tapi buncit" ucap Rara bohong, karna pada kenyataannya tubuh Radit memang sangat bagus, berbuku enam"
"Enak aja Lo ngatain gue buncit, emang Lo gak bisa bedain antara Buncit sama sixpack"
"Lihat nih otot-otot gue" ucap Radit sembari mengangkat tangannya ke atas menunjukkan lengan dan perutnya. Rara pun di buat terkagum-kagum melihat tubuh Radit.
"Biasa aja kali gak usah ngecces gitu air liurnya" goda Radit .
"Enak aja Lo... udah ah gue mau turun dulu, mau siap-siap ke kampus"
"cepetan Li mandi"
"Lo udah di tungguin tuh sama ibu di bawah"
Setelah selesai berganti pakaian dan bersiap untuk ke kampus, Rara berpamitan dulu kepada majikannya. Di sana juga sudah ada Radit yang sedang sarapan, tapi Raka sudah berangkat terlebih dahulu ke rumah sakit, karna Raka juga seorang Dokter.
"Bu.. Rara pamit ke kampus dulu ya, tadi Rara udah kerjain semua kerjaan rumah, nanti setelah dari kampus Rara langsung pulang lagi ke sini" ucap Rara berpamitan.
"Ia Ra... kamu fokus kuliah aja, gak usah terlalu memikirkan pekerjaan rumah, kalau kamu mau nongkrong-nongkrong dulu sama temen-temen kamu juga boleh, biar kamu gak bosan di rumah terus" Ucap Dokter Diana.
"Nggak bu... paling nanti Rara ijin ke ibu kalau ada tugas kelompok aja"
"Ia pokoknya kamu jangan terlalu terbebani dengan pekerjaan"
"Kalau kamu mau... kamu juga boleh main ke panti asuhan, sambil menemui kakak kamu"
"Ia Bu... mkasih ya, Ibu udah baik banget sama Rara"
"Sama-sama Ra... Anggap aja saya ini seperti ibu kamu sendiri"
"Pokoknya kalau kamu perlu apa-apa, kamu jangan sungkan ya"
__ADS_1
"Baik Bu..."