
Sedih hancur dan kecewa, mungkin itulah yang di rasakan Maya saat ini. Ia harus kehilangan buah hati yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadirannya. Bahkan yang lebih tragis nya, ia di tuduh atas apa yang tidak pernah ia perbuat, sekaligus di campakkan oleh sang suami yang sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya, tidak percaya kepada istrinya sendiri, dan tidak mau mencari kebenaran terlebih dahulu, Alvian dan keluarganya menghakimi Maya tanpa sebuah bukti yang jelas.
Hati Maya benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Ia merasa jika hidupnya sudah tidak berarti lagi. Kalau saja tidak ada Rara di sampingnya, mungkin ia sudah depresi dan mengakhiri hidupnya Sendiri.
Beruntung ada Rara yang selalu ada di samping Maya, yang selalu memberikan semangat, dukungan dan kekuatan untuk bangkit. Walaupun dulu Rara sempat marah kepada Maya, tapi saat ini hubungan kakak beradikadik itu sudah baik-baik saja.
Rara dan juga Maya sudah sepakat untuk tidak tidak memberitahu ibunya perihal masalah ini, mereka tidak ingin menambah beban pikiran sang ibu, dan membuat beliau kembali jatuh sakit.
"Kalau kakak gak mau pulang ke rumah ibu, kakak mau tinggal dimana, aku juga gak mungkin bawa kakak ke kosan aku, soalnya tempat itu gak baik buat kakak" tanya Rara bingung, mereka berdua tengah memikirkan tentang hal yang akan mereka lakukan kedepannya untuk melanjutkan hidup mereka.
"Kakak masih punya sedikit tabungan Dek... jadi kita cari kontrakan untuk kita berdua, kakak gak mau kalau kamu harus tinggal di tempat seperti itu. Kakak juga mau kalau kamu berhenti dari pekerjaan kamu, biar Kaka aja yang cari kerja" jawab Maya.
"Tapi kak.. kalau aku berhenti kerja, nanti gimana dengan kebutuhan kita sehari-sehari, apalagi sekarang susah cari kerjaan"ucap Rara bingung
"Kamu jangan mikirin itu Dek... tabungan kakak masih cukup untuk biaya hidup kita beberapa bulan kedepan, sambil kakak nyari kerjaan"
"Kali ini tolong kamu nurut ya sama kakak" bujuk Maya.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan berhenti kerja, tapi aku juga akan cari kerjaan yang lain, aku gak mau membebani kakak" Akhirnya Rara setuju.
"Ya sudah gak apa-apa, selama itu tidak menggangu kuliah kamu"
"Setelah ini kita cari kontrakan dulu ya, setelah itu kita pergi ke kosan kamu untuk membawa barang-barang kamu" Hari ini Maya sudah di perbolehkan untuk pulang, karna kondisinya sudah sangat membaik.
Ketika Maya dan Rara tengah bersiap untuk pulang, tiba-tiba datang seorang Dokter yang menangani persalinan Maya waktu itu, Dokter tersebut bernama Diana.
"Maaf saya mengganggu waktu kalian sebentar, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kalian" ucap Dokter tersebut.
"Tidak apa-apa Dok... kalau boleh tau, Dokter mau bicara apa, apa masih ada tagihan yang harus saya bayar" tanya Maya penasaran.
"Tidak-tidak bukan masalah itu, kemarin Pak Alvian sudah membayar semua tagihan nya, tapi saya ingin membicarakan hal yang lain, yang bersifat pribadi" jelas Dokter Diana.
"Sebelumnya saya minta maaf kalau ucapan saya terkesan lancang dan ikut campur dengan urusan pribadi kalian, tapi kemarin saya tidak sengaja mendengar keributan kalian dengan keluarga pak Alvian, dan barusan saya juga mendengar obrolan kalian yang sedang mencari pekerjaan dan tempat tinggal"
__ADS_1
"Jika kalian tidak keberatan, kalian boleh tinggal di rumah saya, kebetulan di rumah saya masih ada kamar kosong, saya hanya tinggal bertiga dengan anak laki-laki saya, sebab suami saya sudah meninggal" Dokter Diana mengutarakan niatnya, ia merasa iba kepada Maya. Sebagai perempuan ia bisa merasakan apa yang Maya rasakan, ia juga bisa melihat bahwa Maya dan juga Rara adalah orang baik, ia sangat salut dengan ketegaran mereka berdua.
Maya dan Rara sangat terkejut mendengar tawaran Dokter Diana "Kami sangat berterimakasih atas kebaikan dan kepedulian Dokter kepada saya dan adik saya, tapi kami mohon Maaf, kami tidak bisa menerima tawaran Dokter, kami tidak mau merepotkan Dokter" tolak Maya secara sopan.
"Ia Dok... bukannya kami tidak menghargai niat baik Dokter, tapi kami tidak mau membebani orang lain" sambung Maya.
"kalian sama sekali tidak merepotkan saya, justru saya sangat senang jika kalian mau tinggal di rumah saya, karena saya selalu merasa kesepian saat berada di rumah, kedua anak laki-laki saya sudah jarang berada di rumah, mereka selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing" jelas Dokter Diana.
"Sekali lagi kami mohon maaf Dok, tapi kami benar-benar tidak bisa menerima bantuan Dokter, kami ingin belajar hidup mandiri dan bekerja keras untuk melanjutkan hidup" jawab Maya
"Ia Dok kami ingin berdiri di atas kaki kami sendiri, tanpa belas kasihan orang lain" sambung Rara.
"Saya sangat salut dengan pendirian kalian"
"Kalau boleh tau kalian mau cari kerja kemana" tanya Dokter Diana.
"Kami belum tau Dok, pokoknya kami mau kerja apa aja yang penting halal jadi pembantu juga gak apa-apa" ucap Rara dengan penuh semangat.
"Tapi memangnya kalian beneran mau kerja jadi ART" Tanya Dokter Diana lagi, ia merasa tidak percaya, wanita secantik mereka, mau bekerja menjadi ART.
"Ia Bu... kami mau"
"Tapi..." ucap Rara bingung.
"Tapi apa" tanya Dokter Diana penasaran.
"Kami masih kuliah dok... apa Dokter keberatan kalau kita kerja sambil kuliah" jawab Rara
"Oh... jadi kalian masih kuliah, memang nya kalian kuliah jurusan apa"
"Saya ambil jurusan Akutansi"
"Kalo kak Maya kuliah kedokteran" jelas Rara.
__ADS_1
"Wah ternyata kamu calon dokter" Ucap Dokter Diana kepada Maya.
"Gimana kalo kamu kerja di yayasan saya saja, kebetulan saya mempunyai sebuah panti asuhan, saya sedang mencari seseorang yang mengerti dengan ilmu medis, jadi jika ada anak yang sakit, bisa langsung di tangani di sana"
"Gimana kamu mau"
"Tentu saja saya mau Dok..."
"Terimakasih banyak Dok atas kebaikan Dokter, padahal kita tidak saling kenal sebelumnya, tapi Dokter sangat berhati mulia" ucap Maya kagum dengan kebaikan Dokter Diana
"Sama-sama... mungkin kita memang di pertemukan di sini untuk saling menolong"
"Rara gak keberatan kan kerja di rumah saya sendirian, lagipula kerjaan di rumah saya tidak terlalu banyak, soalnya saya dan anak-anak saya jarang berada di rumah"
"Ia Dok saya mau" jawab Rara penuh semangat.
"Oia dan untuk masalah tempat tinggal, kalian boleh tinggal di rumah saya, tapi kalau kalian tidak mau tinggal di rumah saya pun tidak apa-apa, kalian boleh datang pagi dan pulang sore, atau jika kalian ada kuliah, kalian bisa datang setelah kuliah" jelas Dokter Diana.
"Makasih banyak Dok... kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti dokter"
"Saya janji, saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh"ucap Rara yakin.
Bagi Maya dan juga Rara, Bu Diana bagaikan malaikat yang di kirim tuhan untuk menolong mereka.
Setelah pulang dari rumah sakit, Maya meminta Rara untuk mengantar nya ke makam Anaknya, sebab waktu itu ia tidak bisa hadir di pemakaman, karna kondisinya masih belum pulih.
Sesampainya di sana, mereka berpapasan dengan Alvian, yang kebetulan baru selesai berjiarah ke makam anak mereka.
"Alvian dan Maya sama-sama menghentikan langkah mereka, namun belum ada yang menyapa satu sama lain, kedua nya hanya dapat terdiam tanpa sepatah katapun.
"May__" Alvian hendak mengatakan sesuatu kepada Maya, namun Rara menarik Maya untuk pergi.
"Ayo kak... gak ada gunanya bicara dengan laki-laki pengecut seperti dia"Sindir Rara seraya menarik tangan Maya.
__ADS_1