
Saat ini Keadaan Papi Alvian sudah semakin membaik dari sebelumnya, hingga Akhirnya Maya pun memperbolehkannya untuk pulang. Selanjutnya Papi Alvian harus melakukan rawat jalan seminggu sekali ke rumah sakit.
Hari ini Alvian meminta ijin kepada Bu Ambar untuk mengajak Alma bermain, dan untungnya Bu Ambar pun mengijinkan, sebab ia sudah mengenal Alvian dengan baik, karna Alvian sudah sering datang ke panti asuhan.
Alvian menjemput Alma ke sekolahnya, setelah itu ia mengajak Alma jalan-jalannya ke mall, mengajaknya makan dan membeli ice cream, ia juga mengajak Alma ke tempat bermain anak-anak.
"Setelah puas bermain, Alvian mengajaknya untuk pulang, tapi bukan ke panti asuhan melainkan pulang ke rumahnya.
Sesampai di rumah, Alvian memperkenalkan Alma kepada Papinya, Papi Alvian tampak terhibur dengan kedatangan Alma, ia tidak merasa kesepian lagi karna tingkah nya yang menggemaskan dan juga periang, ia mudah berteman dengan siapa saja.
Setelah seharian bermain, akhirnya Alma tertidur, kemudian Alvian menidurkan Alma ke kamar nya, Alvian bingung bagaimana ia mengantarkan Alma, sebab tidak ada orang di rumahnya. Asisten rumah tangganya sedang pulang kampung dan Farel baru saja pergi ada urusan, ia tidak mungkin meninggalkan Papinya sendirian di rumah.
"Bi... Alma belum pulang" tanya Maya ketika pulang dari rumah sakit.
"Belum May... barusan Mas Alvian telepon Ibu, Katanya dia belum bisa mengantarkan Alma ke sini, sebab tidak ada siapa-siapa di rumahnya, jadi gak ada yang jagain Papinya" jelas Bu Ambar.
"Ya udah kalau gitu biar Maya aja yang jemput" ucap Maya kemudian.
"Kamu kan baru pulang May... kamu gak cape memangnya" Bu Ambar merasa kasihan kepada Maya.
"Nggak bu... mumpung masih sore, takutnya nanti keburu malem" Jawab Maya.
"Ya udah kamu hati-hati ya May"
"Ia Bu..."
"Kak... kakak mau kemana" tanya Rara yang kebetulan datang ke sana.
"Kakak mau jemput Alma Dek..." jawab Maya.
"Memangnya Alma kemana kak" tanya Rara penasaran.
"Alma ada di rumah Mas Alvian" jelas Maya
"Kok bisa sih kak Alma ada di rumah itu" Rara tampak terkejut. Maya memang belum sempat cerita mengenai pertemuannya dengan Alvian di ruamah sakit.
"Panjang ceritanya dek... nanti kakak ceritain ya, sekarang kakak buru-buru mau jemput Alma dulu" Maya tidak punya waktu untuk menjelaskan semua itu.
"Ya udah aku ikut ya kak" ucap Rara ketika Maya hendak masuk kedalam mobil
"Tapi pake mobil kakak aja ya" ucap Maya kemudian.
Di dalam perjalanan, Maya menceritakan pertemuannya dengan Alvian kepada Adiknya itu, dari awal sampai akhir.
"Kok kakak baru cerita ke aku sekarang sih"
"Lagian kakak juga ngapain lagi, mau mau aja ngobatin si tua nyebelin itu, dia kan udah jahat banget sama kakak" protes Rara.
"Ia dek... maaf kakak belum sempet cerita ke kamu"
"Kamu gak boleh bicara gitu, kakak kan Dokter, udah jadi kewajiban kakak untuk mengobati orang yang sakit, siapapun dia, tidak ada pengecualian" jelas Maya.
"Susah ngomong sama kakak mah"
"Terlalu baik jadi orang" ucap Rara kesal.
Maya juga menceritakan kejadian saat Alvian hampir menabrak Alma hingga akhirnya Alma dan Alvian menjadi dekat.
"Itu pasti cuman akal-akalan dia aja tuh biar bisa deket lagi sama Kakak, makanya dia sengaja baik-baikin Alma"
"Awas ya kak... kalau kakak kepincut lagi sama dia" Ancam Rara. sampai saat ini ia masih benci kepada Alvian dan kekurangannya.
__ADS_1
"Apaan sih Dek... kok pikirannya sampai ke situ" protes Maya
"Ya kali... kakak masih cinta sama dia, dan ngarep buat rujuk lagi sama dia" Sindir Rara. Seketika Maya terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Ketika Maya menginjakkan kakinya di rumah Alvian, ia merasa seperti kembali ke masa lalu, rasanya seperti mimpi, ia tidak menyangka jika dirinya akan menginjakkan kakinya ke rumah itu lagi.
"Assalamualaikum..." ucap Maya seraya mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Alvian menjawab salam dari Maya. "Waalaikumsalam... ucap Alvian seraya membuka pintu.
"May... kok kamu datang ke sini" tanya Alvian terkejut melihat kedatangan Maya.
"Aku kesini untuk menjemput Alma, soalnya tadi Bu Ambar bilang kalau Mas belum bisa nganterin Alma" jelas Maya
"Maaf ya May... saya jadi merepotkan kamu"
"Ra kamu apa kabar, udah lama banget ya kita gak bertemu" sapa Alvian, tapi Rara tidak menghiraukan ucapan Alvian, saat ini Rara sedang berada di mode jutek nya.
"Ya sudah kalian masuk dulu aja nya ke dalam"
"Soalnya Alma masih tidur"
"Saya gak tega bangunin dia" Alvian mempersilahkan Maya dan Rara untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Alma tidur....?"
"Ya udah kalau gitu biar aku yang bangunin Alma"
"Soalnya ada cara tersendiri buat bangunin dia, kalo salah dia bakalan nangis"jelas Maya.
"Ya udah, ayo kita ke kamar saya sekarang" ajak Alvian.
"Nggak ah" jawab Rara malas.
"Tapi jangan lama-lama ya" tolak Rara
"Awas ya kalo Lo macem-macem sama kakak gue" ancam Rara.
Hati Maya sangat terenyuh ketika ia masuk ke dalam kamar Alvian, terlalu banyak kenangan yang pernah mereka lalui di sana, yang sampai sekarang belum bisa Maya lupakan.
"Lihat deh May... Alma tidur nya pules banget"
"Mungkin dia kecapean abis maen seharian"
"Dia manis banget ya kalau tidur" ucap Alvian seraya mengusap pipi Alma, saat itu Alvian tengah duduk di sisi sebelah kanan, sedangkan Maya duduk si sisi sebelah kiri. Jika diperhatikan mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia
"Ia mas... dia memang anak yang manis dan juga ramah kepada semua orang" jelas Maya.
"Sama seperti kamu May... manis dan juga baik" ucap Alvian seraya memandang wajah Maya, tapi Maya berusaha untuk tidak terhanyut dengan ucapan Alvian.
"Kalau aja anak kita masih ada, dia pasti bakalan cantik dan berhati lembut seperti kamu"
"Dan kalau aja Bella gak memfitnah kamu, kita pasti bakalan hidup bahagia bersama anak kita"
"Saya minta maaf May... saya__"
"Sudah Mas... gak usah bahas masalah itu lagi"
"Saya tidak ingin mengingat masalah itu lagi"
**
__ADS_1
Sedangkan di luar sana, farel yang tadinya pergi untuk urusannya, tiba-tiba ia harus kembali lagi ke rumah karna ada sesuatu yang tertinggal di rumah, ia sangat terkejut ketika melihat Rara berada di rumahnya.
"Rara... kok Lo ada di sini sih" tanya Farel dengan senyum mengembang di bibirnya, berbeda dengan Rara yang malah kesal dengan kedatangan Farel, yang sejak tadi ia takutkan.
"Aduh... kenapa dia bisa tiba-tiba muncul sih"
"Padahal tadi gua udah seneng dia gak ada di rumah" gumam Rara dalam hati.
"Kok Lo gak bilang sih Ra kalo mau kesini"
"Kan gua bisa jemput"
"Atau jangan-jangan Lo memang mau ngasih kejutan ya sama gua"
"Ternyata dugaan gue bener kan, kalo Lo memang masih cinta sama gue"
"Buktinya lo sampe repot-repot dateng ke sini"
"Pasti karna Lo kangen sama gue, ia kan" Farel menyimpulkan sendiri kedatangan Rara kerumahnya.
"Udah nyerocos nya ?" tanya Rara kesal.
" Jadi orang kepedean banget si loh..."
"Lagian Siapa juga coba yang dateng kesini buat nemuin Lo"
"Pake acara kasih kejutan segala"
"Kurang kerjaan banget, sorry ya gua gak mungkin ngelakuin hal kaya yang lo sebutin lagi"
Dam gue ingetin sekali lagi ya sama Lo, gua itu udah move on dari Lo, gua udah gak punya perasaan apa-apa lagi sama Lo"
"Udah lah... gak usah gengsi"
"Akuin aja kalo lo masih cinta sama gua" Farel masih tetap tidak percaya dengan Ucapan Rara.
"Buktinya lo masih jomblo kan sampe sekarang"
"Itu artinya Lo masih belom move on dari gue, ia kan"
"Enak aja..."
"Siapa bilang gua masih jomblo"
"Gue udah punya cowok yang lebih keren dan lebih tajir dari Lo" jawab Rara bohong, ia tidak ingin kalah saing dengan farel.
"Ya udah kalo gitu buktiin dong"
"Besok malam gua tunggu kedatangan Lo sama pacar Lo di restoran yang biasa kita datangi"
Kalo Lo gak Dateng, itu tandanya Lo bo'ong sama gue" tantang Farel.
"BTW makasih loh udah bilang gua keren" sindir Farel sambil tersenyum.
"Ok "
"Siapa takut"
"Gue terima tantangan Lo"
"Tapi setelah itu Lo jangan pernah gangguin gue lagi" Rara menerima tantangan Farel.
__ADS_1