
Sudah hampir seminggu Papi Alvian terbaring tak berdaya di rumah sakit, menjalani semua prosedur pengobatan, namun tidak ada perubahan yang berarti.
Alvian mengeluhkan hal tersebut kepada pihak rumah sakit, ia meminta untuk mengganti Dokter yang sekarang menangani Papi nya dengan Dokter yang lain, Dokter terbaik di rumah sakit tersebut.
Bahkan ia sampai mengancam pihak rumah sakit, bahwa ia akan memindahkan Papinya ke rumah sakit lain jika tidak bisa memenuhi permintaannya, ia akan melakukan hal apapun untuk kesembuhan Papinya itu
"Maaf Pak... Dokter terbaik di rumah sakit ini jadwalnya sangat padat, kuotanya terbatas, Jadi Bapak harus membuat janji dulu sebelum nya" Jelas salah seorang resepsionis, sebab Alvian sangat memaksa ingin menemui dokter tersebut.
"Katakan kepada saya... siapa Dokter itu"
"Bila perlu biar saya sendiri yang akan menemuinya secara langsung"
"Saya akan bayar berapapun yang di mau" Ucap Alvian lagi.
"Pagi Dok..." ketika tengah berbicara dengan Alvian, resepsionis tersebut menyapa seorang Dokter yang baru saja tiba, dan kebetulan Dokter tersebut yang tengah di cari oleh Alvian.
"Pagi..." jawab Dokter tersebut ramah, sambil berjalan menuju ruangannya.
"Pak kebetulan sekali Dokter yang sedang bapak cari baru saja lewat" Ucapnya lagi.
"Mana sus" Alvian mengalihkan pandangannya ke belakang.
"Itu Pak" jawabnya lagi seraya menunjuk seorang Dokter yang tengah berjalan, namun Alvian tidak dapat melihat wajah Dokter itu, karna Dokter tersebut memunggungi nya.
Tanpa menunggu lama Alvian langsung mengejar Dokter tersebut, yang ternyata adalah seorang wanita, rambutnya panjang terurai, berkulit putih dan tubuhnya tinggi. ia berjalan begitu anggun mengenakan rok sepan selutut beserta jas putihnya, di lengkapi dengan high heels yang menghiasi kakinya yang jenjang dan putih mulus.
"Dok tunggu Dok..." teriak Alvian sambil berlari. seketika Dokter tersebut langsung menghentikan langkah kakinya, tapi tidak menoleh, seolah dokter tersebut mengenali suara tersebut.
"Dok ijinkan saya bicara dengan Dokter sebentar saja"
"saya dengar jika anda adalah Dokter terbaik di rumah sakit ini"
"Jadi saya ingin minta bantuan Dokter"ucap Alvian kepada Dokter tersebut yang masih memunggunginya.
"Dok kenapa anda diam saja"
"saya benar-benar butuh bantuan anda sekarang"
"kenapa anda tidak mau mau menoleh sama sekali"
"Setidaknya anda harus menghargai orang yang sedang bicara" ucap Alvian kesal karna merasa tak mendapatkan respon sama sekali oleh Dokter tersebut.
__ADS_1
Sedetik kemudian Dokter tersebut pun berbalik, dan hal itu membuat Alvian sangat terkejut
"Maya" Ucap Alvian tampak tak percaya, ia sangat pangling melihat Maya, hingga tak mengenalinya.
Berbeda dengan Maya yang sudah mengenali Alvian lebih dulu, hanya dengan mendengar suaranya saja.
"Ma_maaf May saya kira itu bukan kamu" ucap Alvian tampak gugup dan salah tingkah.
"Kalau begitu saya permisi dulu" Alvian mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan Maya.
"Tunggu..." cegah Maya ketika Alvian sudah berbalik meninggalkan Maya.
"Tadi Anda bilang kalau anda butuh bantuan Saya"Ucap Maya dengan bahasa Formal.
"Tadinya saya ingin meminta bantuan Dokter untuk memeriksa kesehatan Papi saya"
"Sebab mereka bilang, anda adalah Dokter terbaik di sini, anda sudah sering menyembuhkan pasien yang menderita penyakit seperti yang alami oleh papi saya saat ini" Alvian pun berusaha berbicara formal untuk menghargai Maya.
"Tapi rasanya hal itu tidak mungkin, jika mengingat apa yang telah Papi saya lakukan terhadap anda" lanjut nya lagi. Alvian merasa malu meminta Maya untuk mengobati Papinya yang sudah sangat jahat kepada Maya dulu.
Lagipula Maya pun belum tentu mau melakukannya. Alvian juga tidak ingin memaksa karna ia sadar diri.
"Baiklah dimana ruangan Papi anda"
"Anda serius bersedia mengobati Papi saya" Tanya Alvian tak percaya, sekaligus merasa lega.
"Saya harus melihat dulu rekam medis pasien" ucap Maya kemudian. Bukan Maya namanya kalau ia menolak mengobati Papi Alvian, bersikap egois dan tidak punya belas kasihan.
Mungkin jika orang lain yang berada di posisinya, ia akan tertawa puas mendengar orang yang sudah menyakitinya tengah terbaring sakit, dan menolak mentah-mentah permintaan nya tersebut, bahkan tak akan Sudi untuk melihat wajahnya sekalipun.
Tanpa membuang-buang waktu, Alvian segera mengajak mantan istrinya itu ke kamar Papinya.
Sesampai di sana, Maya langsung di pertemukan dengan Farel yang tengah menjaga Papinya.
"Maya... " ucap Farel terkejut,ekspresi farel saat itu sama persis dengan ekspresi Alvian ketika melihat Maya.
"Selamat pagi..." sapa Maya ramah, hal itu yang sering ia lakukan ketika melakukan kunjungan kepada pasien-pasiennya.
"May... aku seneng banget bisa ketemu kamu"
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu"
__ADS_1
"Aku menyesal pernah melakukan kesalahan yang sangat besar kepada kamu"
"Aku sempat tidak percaya sama kamu"
"Dan berbicara kasar kepada kamu"
"Tapi aku bener-bener gak berniat melakukan hal itu" Farel langsung mengutarakan permintaan maaf yang sejak lama ingin ia sampaikan, karna ini adalah pertemuan kaki6 pertama saat lima tahun yang lalu.
"Maaf... kedatangan saya kemari hanya
untuk melihat keadaan pasien"
"Bukan untuk hal yang lain" Maya masih berusaha bersikap formal dan juga proposional, tidak mau membahas masalah yang bersifat pribadi.
"El... ini Dokter Maya, salah satu Dokter terbaik di rumah sakit ini, yang akan menggantikan Dokter Sebelum nya untuk menangani Papi" Jelas Alvian, berusaha memberikan pengertian kepada Farel. hingga Akhirnya Farel pun mengerti dengan sikap Maya. Dan tidak lagi membahas masa lalu mereka.
Maya berjalan mendekat ke arah Papi Alvian, kemudian ia berdiri di sisi Pria paruh baya itu.
Seketika Papi Alvian langsung menangis saat melihat Maya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Maya namun tidak bisa.
"Pih Papi kenapa" ucap Farel bingung, tidak mengerti apa yang di maksud oleh Papinya.
"Pih... Papi tenang Pih..." Alvian berusaha menenangkan Papinya.
"Tuan... tuan tolong tenang ya, tuan tidak boleh seperti ini" ucap Maya kemudian.
"Jangan terlalu di paksakan untuk bicara"
"Tuan juga tidak boleh terlalu banyak pikiran"
"Hal itu akan semakin memperburuk kondisi tuan"
"Sebaiknya tuan berusaha mengontrol emosi tuan, dan terus berpikiran positif, hanya memikirkan hal-hal yang baik" meskipun dirinya sudah di hina dan di sakiti berkali-kali tapi Maya tak terlihat menaruh dendam sedikitpun, ia masih tetap bersikap ramah kepada Papi Alvian.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan anda"
Sesuai dengan kemampuan saya"
"Besok saya akan melakukan pengecekan secara menyeluruh" ucap Maya sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Papi Alvian sempat melambaikan tangannya kepada Maya dan berusaha untuk mengatakan sesautu, saat Maya tengah berjalan keluar.
__ADS_1
Alvian dan Farel juga berulang kali mengatakan terimakasihnya kepada Maya atas kebaikan dan ketulusan hati Maya, yang sudi untuk mengobati Papinya, entah bagaimana cara mereka untuk menebus kesalahan yang telah mereka perbuat.