
Perkataan Farel benar-benar menyakiti hati Maya, andai saja Farel mengetahui semua kebenarannya, apakah Farel masih akan tetap membencinya, atau Farel akan tetap mencintai Maya dan menerima Maya apa adanya.
"May... kamu baik-baik aja kan" Tanya Della khwatir.
"Ia aku baik-baik aja" jawab Maya seraya mendaratkan tubuhnya di tempat duduk.
"May... Del.. ada apa sih tadi, kok ribut-ribut gitu kedengeran nya" tanya Mita yang baru saja datang dengan membawa beberapa makanan.
"Biasa lah, si Mona cari masalah sama Maya, gedek banget gue sama anak itu, pengen gue cakar tuh mukanya" ucap Della kesal
"Trus sekarang orangnya kemana" Mita tampak mencari ke sekeliling kantin ya g tampak luas.
"Cabut sama si farel, kayanya si Mona lagi cari-cari kesempatan sama si Farel, mepetin dia terus" jelas Della sinis
"Coba aja kalau tadi aku ada di sini, udah aku Jambak tuh rambut si nenek lampir" Ucap Mita gemas
"May kenapa sih kamu gak jujur aja sama Farel, biar dia gak mikir yang enggak-enggak tentang kamu"
"Nggak Mit... kalau aku jujur sama dia, dia pasti bakalan makin benci sama kakaknya, selama ini hubungan mereka kurang baik, jadi aku gak mau memperburuk hubungan mereka" jelas Maya.
"Ya ampun May..... ngapain sih Lo mikirin begituan segala, coba deh sekali-kali kamu mikirin diri kamu mau sendiri" Ucap Della bingung dengan kebaikan sahabatnya itu.
"Ia May... kamu jangan mau di perlakukan seperti itu terus, kamu harus berani melawan, jangan mau di injek-injek sama orang" Tambah Mita
"Mita Bener May... kamu harus bisa membela diri kamu sendiri, termasuk dari istri pertamanya Alvian, kamu sudah cukup berkorban dan menderita, kamu jangan mau lagi di atur-atur sama dia. Sekarang status kalian sama, kamu dan dia mempunyai hak yang sama di rumah itu, kamu jangan merasa kalau kamu adalah orang ke tiga dalam hubungan mereka, kamu di sini cuma korban May..." Ucap Della panjang lebar, ia tidak suaka melihat Maya terus menerus di perlakukan semena-mena oleh orang-orang.
*
*
Saat pulang dari kampus, Maya memutuskan untuk mampir ke rumah ibunya, ia ingin melihat keadaan Ibu dan Adik-adiknya, walaupun ia tidak bisa bertemu dengan mereka secara langsung, tapi iya tetap ingin melihat mereka walaupun hanya dari jauh.
Saat Maya tengah berjalan menuju ke rumahnya, tiba-tiba ia melihat seorang anak muda yang sangat ia kenali, sepertinya tengah berkeliling kampung sambil berjualan, ya... dia adalah Angga, Adik laki-laki Maya.
"Adek... " Panggil Maya.
"Kak Maya" jawab Angga seraya menghampiri kakaknya itu.
"Dek... kamu lagi ngapain" Tanya Maya seraya melihat keranjang jinjing yang di bawa Angga.
"Aku sedang bantu ibu jualan kue kak"
"Ini kue buatan ibu, sebagian di titip di warung dan sebagian lagi aku jual keliling" Hati Maya terasa sakit saat mendengar keluarganya harus bekerja keras untuk mencari nafkah.
"Ya ampun De... ibu kan masih sakit, dan kamu juga harus belajar, untuk apa kalian bersusah payah jualan seperti ini, biar kakak yang bertanggung jawab atas kalian" ucap Maya sedih.
"Tidak kak... sekarang ibu sudah tidak mau menerima uang dari kakak lagi, makanya ibu jadi jualan kue, Kak Rara juga sudah mulai bekerja di restoran" Jelas Angga. Maya benar-benar tidak menyangka jika ibunya akan semarah ini sampai-sampai tidak mau menerima uang dari dirinya lagi.
"Memangnya Rara kerja di Mana Dek..." tanya Maya penasaran
"Kak Rada kerja di restoran Kak, kerjanya malem, katanya jaraknya aga jauh dari sini jadi kak Rara pulng ke kostan" jelas Angga lagi.
"Maafin kakak ya de... gara-gara kakak, kalian jadi harus kerja keras seperti ini" ucap Maya seraya memeluk adiknya.
"Oia De... kue nya kakak beli ya semua"
"Kuenya mau kakak bawa pulang, kakak juga kangen sama kue buatan ibu" ucap Maya seraya memasukan kue-kue tersebut kedalam kantong plastik.
"Dan ini uangnya" ucap Maya memberikan beberapa lembar uang.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan bilang ya kalau kue nya di beli sama kakak"
"Tapi ini terlalu banyak kak, nanti ibu curiga" Ucap Angga seraya menghitung jumlah uang tersebut.
"Gak akan dek... bilang aja Ade di kasih tips sama pembelinya"
"Tapi Kak..." ucap Angga bingung
"Kakak pulang dulu ya de, udah sore, nanti keburu gelap" pamit Maya terburu-buru, karna ia yakin Alvian pasti sudah pulang ke rumah.
#
#
"Bagus ya jam segini baru pulang"
"Mentang-mentang sudah menikah dengan suami saya, kamu bebas keluyuran sampai malem seperti ini" Sindir Bella yang saat itu tengah berada di ruang tamu menemani Alvian yang tampak gelisah menunggu Maya.
"Bel... jaga bicara kamu" Bentak Alvian.
"May... kamu dari mana saja, kenapa hp kamu gak bisa di hubungi" tanya Alvian seraya menghampiri Maya khawatir.
"Maaf Mas... hp saya mati, tadi Saya mampir dulu ke rumah ibu" jawab Maya sambil menunduk, ia sadar dengan kesalahannya yang tidak pamit dulu kepada suaminya.
"Alesan aja kamu, bilang aja kamu habis keluyuran sama temen-temen kamu, atau jangan-jangan kamu pergi sama pacar kamu kan, ayah dari anak yang ada di dalam kandungan kamu itu" sindir Bella lagi
"Bel... kamu bisa diem gak, sebaiknya kamu masuk ke kamar duluan" tegas Alvian.
"Tapi Al..."rengek Bella.
"Saya bilang masuk ke kamar sekarang" Bentak Alvian lagi. Dan terpaksa Bella pun masuk ke kamar dengan wajah kesal.
"Saya gak punya niat sebelumnya Mas... tiba-tiba saja saya kangen sama ibu dan adik-adik saya, maaf saya gak ngabarin mas dulu, soalnya dari siang Hp nya mati". jelas Maya.
"Gapapa May... tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya, saya khwatir sama kamu, apalagi sekrang kamu sedang mengandung, saya takut terjadi apa-apa dengan kalian"
"Ia Mas... saya gak akan kaya gitu lagi" jawab Maya dengan wajah sendu.
"Kamu kenapa May... kenapa wajah kamu kelihatannya sedih seperti itu"
"Ayo sekarang kamu duduk dulu" ucap Alvian menggiring Maya untuk duduk di sofa.
"Cerita sama saya May... apa ibu kamu sakit lagi" tanya Alvian penasaran.
"Tidak Mas... ibu baik-baik saja, hanya saja saat ini mereka sedang bekerja keras untuk memenuhi biaya sehari-hari"
"Sekarang ibu jualan kue, dan Angga berkeliling kampung untuk menjual kue-kue tersebut, sedangkan Rara kerja part time di restoran"
"saya benar-benar merasa bersalah terhadap mereka" Jelas Maya panjang lebar.
"Kamu gak perlu khawatir May... mulai sekarang semua kebutuhan keluarga kamu akan menjadi tanggung jawab saya, saya akan memberi mereka uang setiap bulan untuk biaya sehari-hari dan juga biaya sekolah Angga dan Rara, jadi mereka gak perlu capek-capek lagi cari uang" Alvian memang sudah memikirkan hal ini sebelum nya.
"Nggak Mas.... kata Angga Ibu udah gak mau lagi menerima pemberian dari kita"
"Ibu benar-benar marah sama aku" jelas Maya lagi.
"Ya sudah kalau begitu nanti kita pikirkan lagi caranya agar ibu mau menerima uang dari kita"
"Lebih baik sekarang kamu mandi dan ganti baju, dan setelah itu kita makan malam sama-sama"
__ADS_1
"Mas... aku boleh gak minta ijin untuk keluar lagi sebentar" ucap Maya tampak ragu-ragu.
"Kamu mau pergi kemana malam-malam gini May" ucap Alvian mengerutkan keningnya.
"Aku ingin mencari Rara, aku ingin tau dia kerja di mana, aku khawatir sama dia Mas" jelas Maya cemas.
"Tapi kamu baru aja pulang May, kamu harus istirahat" Alvian khawtir dengan kesehatan Maya.l dan bayinya
"Nggak mas... aku gak akan tenang sebelum ketemu Rara" rengek Maya.
"Kamu yakin kamu gak cepe ?"
"Nggak mas... aku mohon ijinkan aku pergi" ucap Maya memelas.
"Ya sudah kalau gitu, aku akan mengantar kamu"
#
#
Sudah hampir satu jam Alvian menemani Maya berkeliling kota untuk mencari Maya, Memeriksa di satu restoran ke restoran yang lainnya.
Alvian juga mengajak Maya untuk makan terlebih dahulu di salah satu restoran yang mereka datangi, sekaligus untuk beristirahat sejenak, agar Maya tidak merasa kelelahan.
Setelah selesai makan, Maya mengajak Alvian untuk bergegas mencari adiknya kembali, ia tidak ingin terlalu banyak membuang-buang waktu.
Walaupun kecil kemungkinan menemukan Rara di kota yang luas ini dan di restoran sebanyak ini, tapi Alvian tetap mengikuti keinginan Maya, untuk mengurangi sedikit kesedihan istrinya itu.
Melihat Raut wajah Maya yang sudah tampak lelah, dan mengantuk Alvian mengajak Maya untuk segera pulang, karna malam pun sudah semakin larut, ia berjanji kepada Maya, akan melanjutkan kembali besok
Namun saat perjalanan pulang, Maya melihat Seorang wanita muda yang sangat ia kenali, orang yang sedang ia cari keberadaan nya, namun Adik perempuannya itu bukan berada di sebuah restoran melainkan menuju ke sebuah club malam.
Langsung saja Maya meminta Alvian menghentikan mobilnya, dan langsung turun dari mobil tersebut, berlari untuk menghampiri adiknya itu, tanpa menunggu Alvian terlebih dahulu.
"Dek tunggu" teriak Maya seraya menarik tangan Rara.
"Kakak... ngapain kakak di sini" ucap Rara sinis.
"Seharusnya kakak yang tanya sama kamu, ngapain kamu datang ke tempat seperti ini malam-malam, bukannya kamu kerja di restoran" tanya Maya dengan segerombol pertanyaan.
"Ini bukan urusan kakak, sebaiknya Kakak pergi dari sini, jangan ikut campur urusan aku" bentak Rara.
"De... aku ini kakak kamu, Kakak berhak tau semuanya tentang kamu"
"Kakak juga berhak melarang kamu untuk berada di tempat seperti ini" Ucap Maya lagi.
"Sebaiknya kakak jangan sok suci, apa bedanya dengan kakak yang sudah menjual harga diri kakak sendiri demi pria kaya itu, jadi jangan sok-sokan ngatur-ngatur hidup aku, kakak sendiri yang sudah memberi contoh tidak baik sama aku, semua ini gara-gara Kaka" teriak Rara.
"Plak" Dengan spontan tangan Maya menampar Rara yang sudah berbicara keterlaluan.
"Kakak jahat... aku benci sama kakak" Rara menangis sambil memegangi pipinya, baru kali ini kakaknya itu berani menampar nya, kemudian berlari ia meninggalkan Maya.
Maya benar-benar merasa bersalah atas apa yang ia lakukan, ia benar-benar tidak sengaja menampar Adiknya itu, semua itu terjadi begitu saja tanpa ia sadari.
"Maafin kakak Dek... maafin kakak" ucap Maya smdenan tangis terisak.
Alvian segera menghampiri Maya dan memeluk istrinya itu, membiarkan Maya menangis di pelukannya, menjadikan dada bidangnya sebagai tempat untuk menumpahkan segala kesedihan istri nya itu, atas semua kekacauan yang telah ia perbuat.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sejak tadi menyaksikan semuanya, menyaksikan antara kakak adik yang sedang berdebat dan juga sepasang suami yang sedang berpelukan.
__ADS_1
Dia adalah Farel ya g kebetulan hendak pergi ke club' tersebut, tangannya mengepal saat melihat orang yang ia cintai tengah berpelukan bersama kakaknya sendiri. harinya panas, dan dan dadanya terasa sesak, amarahnya kembali memuncak.