
Dua Minggu telah berlalu, Rara sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya di club' itu, ia juga sudah mulai terbiasa dengan sikap para lelaki hidung belang yang selalu menggodanya, ia tidak pernah merasa ketakutan lagi, ia hanya perlu menolak mereka secara halus dan juga lembut, karna walau bagaimanapun ia di tuntut untuk selalu bersikap ramah kepada para pengunjung club' tersebut, tak jarang ia mendapatkan tips dari para lelaki itu, uang nya selalu ia tabung untuk membayar biaya sekolah Angga dan juga dirinya.
Semenjak saat itu, Farel juga sudah tidak pernah datang lagi ke club' tersebut, hanya teman-temannya saja yang sering datang bersama pasangan mereka, Rara sempat penasaran kenapa Farel tidak pernah muncul lagi ke tempat kerjanya, tapi ia juga tidak berani bertanya kepada teman-teman Angga.
Malam ini Teman-teman Farel sudah tampak berkumpul di club' tersebut, mereka terlihat bersama wanita cantik dan juga se*i, pakaian mereka benar-benar sangat minim.
Entah wanita-wanita itu pacar-pacar mereka atau hanya teman kencan mereka saja, karna mereka terus memamerkan kemesraan di depan umum.
Beberapa saat kemudian , Farel pun tampak datang ke club' tersebut untuk bergabung bersama teman-temannya, mereka saling menyapa satu sama lain, mereka tampak begitu senang melihat Farel datang.
"Akhirnya Lo Dateng juga, gue kira lo udah insyaf" Ledek Jerry.
"Ia El... gak seru kalo gak ada Lo" sahut Bimo
"hallaaaah... ngomong aja gak ada yang bayarin minuman kalo dia gak kesini" Sindir Miko.
"Sialan Lo... gue serius" ucap Bimo lagi.
"Oia El... ngomong-ngomong lo mau kita cariin cewek gak buat nemenin Lo, masa cuman lu doang sih yang gak ada pasangannya"
"Gak usah ... kalian enjoy aja, gak usah mikirin gue" tolak Farel.
"Lo kenapa si El dingin banget sama cewek, Lo masih belom move on dari si Maya" Tanya Jery yang kesal dengan sahabatnya itu.
"Ia brow.... sampai kapan Lo kaya gini terus masih banyak cewek yang lebih cantik dari dia" timpal Bimo.
"Ia bener El... liat tuh, pelayan baru itu, dia gak kalah cantik kok dari si Maya, body nya juga ok, gue perhatiin akhir-akhir ini dia jadi rebutan cowok-cowok di sini" tunjuk Miko kepada Rara yang tengah sibuk melayani pengunjung.
"Kalo Ngomong memang gampang"
"Apalagi kalian belum pernah ngerasain apa yang gue rasain"
"Dan asal Lo tau ya... cewek itu Adeknya Maya"
"liat aja muka mereka mirip"
"Tiap gue ngeliat dia, gue kaya ngeliat Maya, gue jadi kepikiran lagi sama dia" jelas Farel.
"What.... " ucap Mereka bertiga secara bersamaan.
"Lo tau dari mana kalo dia adeknya si Maya"tanya Jerry penasaran.
"Gue liat sendiri pas mereka lagi ngobrol di depan"
"Pantes aja mukanya kaya familiar, cantiknya sebelas dua belas sama si Maya" ucap Bimo seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Yaudah El.. kalo gitu Lo gebet aja tuh cewek, sama aja kan, kalo ibarat pepatah TIDAK ADA ROTAN SINGKONG PUN JADI" ucap Jerry memberikan pendapat.
"Akar kampret" Sembur Riko membenarkan ucapan Jery.
"Ia itu maksud gue, jadi walaupun lo gak dapet kakaknya, Adeknya juga gak apa-apa"sambung Jerry.
"Ya gak segampang itu Jer... Lo pikir cinta itu gampang berpindah-pindah ke lain orang sesuka hati Lo, apalagi muka mereka mirip banget, wajah cewek itu selalu ngingetin gue tentang penghianatan Maya yang selingkuh dengan kakak gue sendiri, gue bener-bener gak bisa terima hal itu" ucap Farel seraya mengepalkan tangannya, mengingat hal itu membuat hatinya terasa panas.
"Gimana kalo Lo manfaatin cewek itu buat balas dendam sama Maya, gue yakin seorang kakak akan ikut merasakan sakit kalo ngeliat sodaranya hancur dan sakit hati" tiba-tiba saja ide tersebut muncul di kepala Miko.
"Nggak... gue gak setuju dengan pendapat lo, itu gak adil buat cewek itu, dia gak tau apa-apa dengan perbuatan kakaknya, keliatannya dia cewek baik-baik" Jerry tidak sependapat dengan Miko.
"Lo tau dari mana kalo dia cewek baik-baik, kalo dia cewek baik-baik mana mungkin di kerja di tempat beginian, sekarang aja dia keliatannya di lugu dan polos, gua yakin lama-lama dia pasti berubah jadi cewek liar, Lo liat aja si Maya, keliatannya dia cewek baik-baik, lugu, pendiam, tapi tau-tau di bunting sama majikannya Sendiri, apa namanya kalo bukan cewek gak bener. buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya, gue yakin sifat cewek itu gak akan beda jauh dari kakaknya" Jelas Miko panjang lebar, Farel hanya menyimak sambil memikirkan perdebatan teman-temannya tanpa berkomentar sedikitpun.
"Pusing gue denger omongan kalian bertiga"
"Makin ngelantur"
"Udah ah gue ke toilet dulu" Farel segera beranjak dari tempat duduknya.
Di depan toilet Farel melihat Rara sedang bersama seorang pria, pria tersebut terlihat sangat tertarik kepada Rara, menginginkan sesuatu dari Rara.
"Kamu Mau kan menemani aku cantik...."ucap Pria tersebut seraya membelai pipi Rara dengan penuh hasrat., walaupun Rara merasa risih tapi ia membiarkannya, yang penting pria itu tidak sampai meniduri nya.
"Aku akan memberikan apapun apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau melayani aku"
"Next time ya Beiiiib..." Tolak Rara secara halus dengan sedikit manja, kemudian ia segera meninggalkan pria tersebut. Cara seperti ini lah yang selalu Rara lakukan untuk mengatasi pria-pria hidung belang. Ia tidak menolak mereka secara terang-terangan, melainkan secara halus, a harus tetap bersikap ramah meskipun ia tidak menyukai pria itu.
Namun adegan tersebut di salah artikan oleh Farel, ia menganggap bahwa Rara sama saja dengan wanita-wanita yang lainnya, keluguan Rara hanya kedok untuk menutupi keburukannya, seperti yang di lakukan Maya, seperti apa yang di katakan Miko tadi.
****
"May... kamu belum tidur" Alvian masuk ke kamar Maya dengan membawakan susu hamil untuk Maya.
"Belum mas... aku lagi ngerjain tugas kampus" jawab Maya yang tengah bersandar di atas tempat tidur sambil memangku laptop nya.
"Ini saya bawain susu buat kamu, kata bibi kamu belum minum Susu malam ini" Tadi Alvian berpapasan dengan bi Sumi yang hendak mengantar susu kepada Maya, kemudian Alvian mengambil alih tugas Bibi.
"Ya ampun Mas... kenapa kamu repot-repot bawain ini, aku bisa bikin sendiri kok, aku memang belum sempet turun ke bawah, tanggung soalnya, tugas aku belum selesai"
"Gak apa-apa May..."
"Ayo sekarang minum dulu susunya,nanti keburu dingin"
"Besok aja di lanjutkan lagi tugasnya"
__ADS_1
"Besok Week end, masih banyak waktu" Alvian menyodorkan gelas tersebut kepada Maya.
"Ia mas... makasih ya" Maya menerima gelas yang diberikan Alvian, kemudian ia langsung meneguk susu tersebut.
"Gimana kandungan kamu sekarang May... apa bayinya sudah terasa bergerak" Tanya Alvian penasaran, sambil memperhatikan perut Maya yang tampak masih rata.
"Belum Mas..."
"Tapi aku suka merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam"
" kamu mau pegang gak?" ucap Maya secara spontan.
"Memangnya boleh" Tanya Alvian ragu-ragu.
"Tentu saja boleh Mas... ini kan juga anak kamu mas"
Perlahan-lahan Alvian mulai meletakan tangannya di atas perut Maya, kemudian ia mengusap perut Maya dengan sangat lembut.
"Sayang... kamu baik-baik ya di dalam perut Mama... kamu harus sehat, Papa udah gak sabar ingin ketemu kamu" Ada kebahagiaan tersendiri saat memegang perut Maya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang Ayah, hal yang sangat ia inginkan sejak dulu, tapi selama ini Bella selalu menolak untuk mempunyai Anak.
Maya pun merasakan hal yang sama seperti Alvian, hatinya terasa lebih tenang saat tangan Alvian menyentuh perutnya, mungkin karna ikatan batin antara ayah dan anak, ia juga bisa melihat pancaran kebahagiaan dari kedua mata Alvian, ia benar-benar bersyukur karna Alvian terlihat sangat menyayangi dan menginginkan anak yang ada di dalam kandungannya, meskipun dulu ia sempat berpikir bahwa Alvian akan memintanya untuk menggugurkan kandungannya
"Makasih ya May... kamu udah ngijinin saya menyapa anak ini" ucap Alvian yang tampak bahagia.
"Sama-sama mas... Justru dokter bilang kalau kita harus sering mengajaknya berbicara, walaupun dia masih di dalam perut, tapi dia bisa merasakan dan mendengar apa yang kita katakan"
"Benarkah.. saya jadi gak sabar ingin segera melihat dia secara langsung, pasti menyenangkan bisa mengajaknya bercanda" Alvian tengah membayangkan serunya menjadi seorang Ayah.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat ya May... jangan tidur terlalu malam" ucap Alvian beranjak dari tempat duduk nya.
"Mas... " tiba-tiba Naya meraih tangan Alvian.
"Ada apa May..." tanya Alvian heran.
"hhhmmmm kamu mau gak malam ini temani aku tidak di sini" Tiba-tiba saja kata-kata itu terlontar dari bibir Maya, entah kenapa ia merasa tidak rela jika Alvian pergi dari kamarnya.
"Baiklah... saya akan tidur si sofa"
"Enggak mas... aku ingin kamu tidur sama aku di sini" Ucap Maya tampak malu-malu.
"Kamu... kamu yakin" Tanya Alvian tidak percaya, karna tidak biasanya Maya bersikap seperti itu.
Maya mengangguk Malu " Mungkin ini permintaan anak kita" Ucapnya lagi.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menemani kamu tidur di sini" ucap Alvian sambil naik ke tempat tidur, Maya sedikit bergeser ke tengah untuk memberikan tempat kepada Alvian, kemudian mereka berdua berbaring di dalam selimut yang sama.
__ADS_1
"Sayang.... sekarang kamu tidur ya... Papa ada di sini, papa akan tidur bersama kalian" Alvian mengusap perut Maya dengan lembut, Maya merasakan kedamaian dalam hatinya, hingga akhirnya dalam sekejap ia terlelap tidur.