
"Bu Rara pergi ke kampus dulu Ya" Pamit Rara kepada Dokter Diana yang tengah menikmati sarapan bersama Radit, sedangkan Raka sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.
..."Kamu mau berangkat naik apa Ra" tanya Dokter Diana....
"Rara mau naik angkot aja Bu" jawab Rara lagi.
"Daripada kamu repot-repot naik angkot, lebih baik kamu bareng Radit aja, kampus kalian searah kan"
"Dit... kamu gak keberatan kan bareng sama Rara"
"Gak mungkin Rara bareng sama Mami, Soalnya Kampus Rara sama Rumah sakit gak searah" ucap Dokter Diana kepada Radit yang tengah asik menikmati sarapannya, spontan Radit langsung menoleh kepada Dokter Diana ketika mendengar ucapan Mami nya itu.
" Nggak nggak nggak, biarin aja dia naik angkot" Ucap Adit cepat, mulutnya masih penuh dengan makanan, ia masih kesal kepada Rata atas kejadian tadi pagi.
"Ia Bu... Rara naik angkot aja" Ucap Rara kepada Dokter Diana.
"Nyebelin banget sih orang ini"
"Memangnya siapa juga yang pengen bareng sama Dia, gue juga ogah kali"
"Kalo gak ada Dokter Diana,gue siram minuman ini ke muka nya "ucap Rara dalam hati.
" Adiiiiit... apa salahnya sih kalau Rara nebeng mobil kamu"
Kasian Rara, jam segini Angkot suka penuh, nanti dia kesiangan" ucap Dokter Diana lagi, berusaha membujuk Putranya.
"Tapi Mih..." protes Adit, ia masih tampak keberatan dengan ucapan Maminya.
"Pokoknya Mami gak mau tau, kamu harus bareng sama Rara"
" Kalo nggak... kartu kredit kamu Mami blokir" ancam Dokter Diana.
"Gak apa-apa Bu... Rara naik angkot aja ya" Rata merasa tidak enak.
" Udah Ra... kamu naik angkot aja, biar cepet" Ucap Dokter Diana.
" Mami ini apaan Sih main ancem-ancem aja"gerutu Radit
"Orang dia nya juga pengen naik angkot" gerutu Radit.
"Udah ah... Mami berangkat ke rumah sakit dulu"
"Pokoknya kalo kamu gak nganterin Rara, siap-siap aja kamu gak bisa pake kartu kredit kamu" ucap Dokter Diana sambil beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Yaudah yaudah, Nanti Adit bareng sama Rara" ucap Adit kesal.
" Tapi bentar ya gue abisin sarapan gue dulu" ucap Adit kepada Rara.
" Ia mas..." ucap Rara sopan, karena masih ada Dokter Diana di sana.
Sudah hampir sepuluh menit Rara menunggu Radit menghabiskan sarapannya, tapi Radit masih belum selesai juga, Radit justru nambah sampai dua kali.
"Mas ko malah nambah lagi Sih... "
"Nanti saya telat ke kampusnya" protes Rara.
"Suka-suka gua dong, mulut-mulut gue, kenapa Lo yang repot"jawab Radit tampak santai.
"Tapi kan ini udah siang Mas Adit..." Protes Rara lagi
"Bisa gak sih, Lo gak usah panggil gua mas, berasa udah tua gua" protes Radit.
"Ya udah atuh cepetan, gua ada kuliah pagi"
"kalo emang gak mau nganterin, gua naik angkot aja" ucap Rara hendak pergi.
"Mampus deh gua kalo Mami tau dia naek angkot, nanti kartu kredit gua di blokir" ucap Radit dalam hati.
"Gak sabaran banget si loh jadi cewe" Radit meneguk minumannya dengan tergesa-gesa bahkan sambil berdiri karena hendak mengejar Rara yang sudah berjalan ke luar.
"Ayo masuk " ajak Radit yang sudah masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu.
Karena tidak mau berdebat lagi, akhirnya Rara pun segera masuk ke dalam mobil Radit tanpa banyak protes, agar ia bisa segera sampai di kampus.
"Heh... ngapain Lo duduk di belakang, Lo pikir gue supir" ucap Radit kesal.
"Pindah ke depan sekarang! "
"Ia ia... ribet banget sih, cuman perkara tempat duduk doang juga" Akhirnya Rara terpaksa duduk di depan.
Di sepanjang perjalanan, Rara dan Radit tidak ada yang berbicara sedikit pun, Rara menyibukkan diri dengan ponselnya, sedangkan Radit tengah asik mendengarkan musik dari earphone nya sembari mengemudikan mobilnya.
"Dah nyampe, ayo turun" ucap Radit ketika mereka sampai di depan kampus Rara.
"Ia ia sabar... ini gue lagi buka seatbelt nya dulu" jawab Rara tampak kesulitan membuka sabuk pengamannya.
"Masa buka gitu doang lama banget sih, sebenernya Lo bisa gak sih" gerutu Radit tampak tidak sabar.
__ADS_1
"Ini seatbelt nya macet" jawab Rara lagi
"Bilang aja lo gak bisa"
"Sini gue bukain" Radit membungkukkan badannya ke samping untuk membantu membuka sabuk pengaman yang di pakai Rara. karena tempat duduk merek terlalu sempit, membuat tubuh mereka hampir bersentuhan, hanya tinggal beberapa centi saja, namun ketika Radit selesai membuka sabuk pengamannya dan hendak beralih ke posisi semula, tiba-tiba saja kening mereka saling bersentuhan.
"Awwww " pekik Rara dan Radit secara bersamaan sebari mengusap-usap kening mereka.
"Gimana sih Lo, bukannya pelan-pelan, udah tau mobilnya sempit" gerutu Rara.
"Kok Lo malah nyalahin gue"
"Lo nya aja yang gak bisa diem"
"Lagian cuma buka ginian aja gak bisa, belum Pernah ya naik mobil bagus kaya gini" ledek Rara.
"kan gue udah bilang, seatbelt nya macet"
"Mobil Lo nya aja kali yang butut"
"Asal lo tau aja ya, mobil mantan pacar gue dulu lebih bagus dari pada mobil Lo ini" jawab Rara tak mau kalah. kata-kata tersebut spontan saja keluar dari bibir Rara yang membanding-bandingkan Radit dengan Farel, sehingga ia kembali mengingat masa lalunya dengan Farel.
"Punya mantan aja bangga"
"Memangnya ada yang mau ya sama cewe galak kaya Lo"
"Palingan mantan lo itu kakek-kakek yang giginya tinggal dua, di tambal pake gigi emas" ledek Radit.
"Sembarang aja kalo ngomong"
"Mantan gue itu, orangnya ganteng, tinggi, putih, badan nya keker"
"Yang pasti dia cowok yang romantis, gak tengil kaya Lo" Rara mengucapkan semua itu tanpa sadar.
"Kok gue jadi muji-muji Farel Sih...." gumam Rara dalam hati. di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tersimpan sebuah kesedihan ketika mengingat nama tersebut.
"Udah ah... cape berdebat terus sama Lo" Ucap Rara mengalihkan pembicaraannya"
"Makasih atas Tebengan nya" ucapnya lagi ketika turun dari mobil Radit.
**
Setelah kisah cintanya dengan Rara kandas, pola hidup Farel sangatlah berantakan, ia selalu mabuk-mabukan setiap malam, selalu uring-uringan tidak jelas, dan menjadi orang yang emosional, bahkan di kampus ia tidak pernah Fokus saat mengikuti kelas, mood nya selalu menjadi tidak bagus ketika bertemu Maya, hingga akhirnya ia sering bolos kuliah.
__ADS_1
Berkali-kali Maya berusaha menemui Farel untuk mengajaknya berbicara dari hati ke hati, untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, berharap farel mau mendengarkan ucapannya, tapi watak Farel sangat keras, tidak ada beda dengan Alvian, sama-sama keras kepala dan tidak mau menerima masukan dari orang lain, mudah terpancing emosi.