
Akhirnya Maya pun memutus untuk menerima tawaran Nina, untuk pulang bersamanya menggunakan sepeda motor, namun Nina masih belum tau bahwa Maya tinggal di panti asuhan, Maya hanya menunjukan arah jalan yang harus mereka lalui.
Nina pun sempat merasa familiar dengan jalan yang mereka lalui itu, tapi ia masih belum sadar bahwa jalan tersebut adalah jalan menuju ke panti asuhan yang pernah ia datangi dulu.
"Kok ini kaya jalan menuju ke panti asuhan " gumam Nina dalam hati, sepertinya ia sudah mulai sadar dengan semua itu.
"Ah gak mungkin, ini pasti cuman kebetulan aja, mungkin emang arah jalan nya sama " gumamnya lagi, ia masih berusaha positif thinking.
"Na stop Na" ucap Maya seraya menepuk punggung Nina ketika mereka sudah sampai di depan panti asuhan, sebab Nina semakin mempercepat laju motornya ketika semakin dekat dengan panti asuhan.
"Kenapa Dokter minta berhenti di sini"
"Ini kan panti asuhan" Tanya Nina bingung
"Ia ini memang panti asuhan"
"Ini tempat tinggal saya Na" jelas Maya.
"Deg..." jantung Nina seperti tersambar petir di siang bolong, entah apa arti dari semua ini, kenapa semuanya serba kebetulan, skenario apa ini sebenarnya.
"Do_Dokter Maya tinggal di sini ?" Tanya Nina bingung, antara percaya dan tidak percaya.
"Ia Na... saya memang tinggal di sini"
"Ko wajah kamu kaya yang kaget gitu " Tanya Maya heran.
"Ng_nggak Dok... saya cuman gak percaya aja, seorang Dokter sekelas Dokter Maya masih mau tinggal di panti asuhan, saya kira Dokter tinggal di apartemen atau di rumah mewah" Nina mencoba memberi alasan yang masuk akal.
"Saya lebih senang tinggal di sini Na bersama anak-anak"
"Melihat mereka semua membuat hidup saya lebih berwarna"
"Dan saya tidak merasa kesepian lagi" jelas Maya.
"Na mampir dulu yuk sebentar, nanti saya kenalkan kamu sama anak-anak" ajak Maya.
"Maaf Dokter ain kali aja, soalnya saya buru-buru" tolak Nina.
"Ayolah Na... sebentar aja, kalau kamu udah ketemu sama anak-anak, kamu pasti suka kepada mereka" bujuk Maya.
Karna merasa tidak enak menolak ajakan Maya, akhirnya Nina memutuskan untuk mampir sebentar.
"Baiklah kalau gitu, saya mampir dulu sebentar"
"Bagaimana ini" gumam Nina dalam hati, ia sangat takut jika Ibu panti asuhan mengenali dirinya.
"Mudah-mudahan Ibu pantinya gak ngenalin aku" gumamnya lagi.
Nina masuk ke panti asuhan tersebut dengan perasaan was-was.
"Assalamualaikum... " ucap Maya ketika menghampiri anak-anak yang sedang bermain.
"Waalaikumsalam salam bunda...." jawab Anak-anak, kebetulan di sana ada Bu Ambar juga.
"Anak-anak kenalin, ini suster Nina, sahabat bunda" Maya memperkenalkan Nina kepada anak-anak
"Halo suster Nina..." sapa anak-anak.
"Ha_halo anak-anak" jawab Nina gugup, ia lebih banyak menunduk apalagi saat Bu Ambar melihat ke arahnya.
__ADS_1
Kemudian Bu Ambar menghampiri Maya dan Nina."Na... kenalkan ini Bu Ambar pengurus panti asuhan ini" ucap Maya memperkenalkan mereka berdua.
"Sa_sa Nina bu" ucap Nina gugup ia sama sekali tidak berani menatap wajah Bu Ambar
"Silahkan duduk dulu suster Nina, ibu mau buatkan minuman dulu" ucap Bu Ambar.
"Ti_dak usah, saya gak akan lama" tolak Nina.
"Loh... kenapa, kan baru aja nyampe" tanya Bu Ambar heran.
"Ti_tidak apa-apa Bu... hanya saja suami saya sedang menunggu di rumah" jawab Nina lagi.
"Oh gitu..."
"Tapi ngomong-ngomong ibu seperti pernah bertemu dengan suster Nina sebelumnya, tapi di mana ya" Ucap Bu Ambar sembari mengingat-ingat. Jantung Nina seperti mau copot mendengar hal itu.
"Ibu pernah bertemu dimana memangnya" tanya Maya penasaran.
"Justru itu ibu lupa May..."
"Suster Nina pernah kesini gak sebelumnya?" Tanya Bu Ambar penasaran.
"Be-belum Bu... ini pertama kalinya saya datang kesini" jawab Nina bohong.
"Mungkin cuman perasaan ibu aja kali" ucap Maya kemudian.
"Ia yah... mungkin karna faktor usia, jadi ibu sering lupa dan sering menghayal" jawab Bu Ambar sambil bercanda.
"Syukurlah.... untung ibu ini gak inget sama aku"
"Mati aku kalau dia sampai inget sama aku" gumam Nina dalam hatinya. Akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega.
"Sekarang dia pasti sudah besar"
"Mungkin umurnya sekitar lima tahunan" gumam Nina seraya mengedarkan pandangannya ke arah anak-anak yang sedang bermain.
"Udah ah ngapain aku cari-cari anak itu, aku harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum Bu Ambar keburu inget sama aku"
"Bu Dokter... Bu Ambar... saya permisi dulu ya"
"Maaf saya gak bisa lama-lama di sini" pamit Nina.
"Ya sudah kalau kamu memang mau pulang"
"Kamu hati-hati ya di jalan" jawab Maya.
"Makasih ya udah mau nganterin saya ke sini"
"Sama-sama Bu..."
"Nanti kapan-kapan main lagi ya ke sini" ucap Bu Ambar.
"Ia Bu... insyaallah nanti saya main lagi ke sini" padahal dalam hatinya ia tidak mau lagi menginjakkan kakinya kesini, karna semakin sering dia datang ke panti asuhan tersebut, semakin besar kemungkinan Bu Ambar mengenalinya, dan semakin besar pula rahasianya akan terbongkar.
Sesampainya di rumah, Nina langsung di hadang oleh suaminya di depan pintu.
"Dari mana aja lo" Tanya Tedi seraya menampar istrinya.
"Jam segini baru pulang"
__ADS_1
"Lo pasti abis kelayaban kan" Bentak nya lagi.
"Saya habis nganterin Dokter Maya dulu ke rumahnya mas" jelas Nina sambil menangis dan memegangi pipinya.
"Alasan aja lo"
"Mana mungkin seorang Dokter minta anter sama perawatannya"
"Mereka kan pasti punya mobil" bentak nya lagi.
"Saya gak bohong mas... tadi Mobil Dokter Maya ban Nya kempes" jawabnya lagi.
"udah cukup, lo gak perlu cari-cari alasan lagi"
"Bilang aja kalau Lo udah gak mau diem di rumah, gak mau ngurusin saya, karna saya pengangguran, ia kan ?" Tedi tidak mau mendengar penjelasan Nina.
"Bukan gitu mas..."
"Udah-udah lo gak perlu ngomong apa-apa lagi"
"Sekarang gua minta duit"
"Gua mau kumpul sama temen-temen gua"
"Mas kan baru kemarin minta uang sama saya"
"Sekarang saya udah gak punya uang lagi mas"
"Uang si simpenan saya udah abis"
"Jangan bohong lo"
"Lo mau perhitungan sama suami lo sendiri"
"Coba sini saya liat dompet kamu" Tedi hendak merebut tas milik Nina.
"Jangan Mas... saya bener-bener udah gak punya uang" Nina mencoba mempertahankan tasnya.
"Lepasin gak, gua cuman mau liat doang" Tedi merebut tas Nina sembari mendorong istrinya itu hingga ia terjatuh ke lantai, kemudian ia mengambil dompet Nina dari dalam tas dan memeriksa nya.
"Ini apaan, katanya lu udah gak punya uang ?"
"lu mau coba-coba bohong ya sama gua" tanya Tedi seraya mengacungkan beberapa lembar uang dari dalam Dompet Nina.
"Itu uang buat biaya kita sehari-hari mas..."
"Tolong jangan di ambil" ucap Nina sambil menangis.
"Ya Lo kan bisa kasbon ke atasan lo di rumah sakit"
"Atau pinjem kek sama Dokter yang Lo anterin tadi" Tedi sama sekali tidak menghiraukan ucapan Nina.
Selama ini Tedi selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk berpoya-poya bersama teman-temannya, berjudi dan bermain perempuan. Dan setelah Nia dipecat dari pekerjaannya, ia selalu meminta uang kepada Nina.
"Dulu Sikap Teri dangat mainia kepada Nina"
"Hak itu yang membuat Nina sangat mencintai Tedi, ia rela melakukan apa saja demi Tedi, bahkan biaya pernikahan mereka pun Nina yang tanggung, dan selama mereka menikah Tedi tidak pernah memberikan uang gajinya kepada Nina, Tedi memanfaatkan kebucinan Nina untuk memerasnya
Dan setelah uang simpanan Nina habis, sikap Tedi langsung berubah, ia selalu kasar kepada Nina, ia tak segan-segan memukul Nina jika keinginannya tidak di penuhi.
__ADS_1