
Dari mulai pesawat lepas landas sampai pesawat tersebut landing pun, baik Alvian dan juga Maya tidak ada yang menyadari bahwa mereka berdua tengah berada di dalam satu pesawat yang sama, keduanya hanya fokus dengan kegiatan mereka masing-masing, Maya menghabiskan waktunya dengan membaca buku, sedangkan Alvian sibuk membaca berkas yang akan ia serahkan kepada kliennya.
Di saat pesawat sudah mendarat dengan sempurna, Alvian bergegas keluar dari pesawat tersebut dengan tergesa-gesa, sebab ia harus secepatnya menemui klien yang sudah menunggunya, bahkan ia sampai tidak sadar bahwa ia melewati Maya.
"Maaf permisi saya buru-buru" Alvian menerobos orang-orang yang berada di depannya termasuk Maya, bahkan saat itu tubuhnya tak sengaja menabrak Maya, tapi karna ia buru-buru, ia tidak sempat meminta maaf.
"Hei pelan-pelan dong kalau jalan" teriak Farel yang kesal dengan Alvian, karna berjalan seenaknya.
"Suara itu seperti suara Mas Alvian"
"Wangi farpum nya juga sama"
" perawakannya juga sama persis" gumam Maya ketika melihat pria yang menabraknya tadi.
"Tapi kalo itu mas Alvian, Kenapa dia gak nyapa aku"
"Masa dia gak ngenalin aku"
"Mungkin itu cuma perasaan aku aja"
"mungkin orang itu cuman mirip aja"
"Lagian, bukan cuma mas Alvian aja yang punya farpum kaya gitu" Gumam nya lagi.
"May...kok kamu malah bengong"
"Kamu lagi mikirin apa" Tanya Raka yang melihat Maya terdiam.
"Ng_nggak mas Raka, aku gak mikirin apa-apa" Ucap Maya sedikit terkejut.
"Kalo gitu ayo kita turun" ajak Raka.
Sesampainya di Paris, Dokter Diana membawa rombongan nya ke sebuah hotel mewah yang memang sudah ia pesan sebelumnya, ia memesan tiga kamar sekaligus, satu kamar untuk Raka dan Radit, satu kamar untuk Maya dan Rara, dan satu kamar lagi untuk dirinya sendiri, sebab ia ingin memberikan kebebasan untuk mereka, agar mereka bisa leluasa dan mereka tidak merasa kurang nyaman dengan kehadirannya, ataupun mengganggu privasi mereka. sebab tujuan Dokter Diana membawa mereka semua liburan ke Paris agar mereka semua bisa happy dan bersenang-senang di sana, pergi kemanapun yang mereka mau.
Setelah mereka sampai di hotel, Dokter Diana meminta anak-anaknya untuk beristirahat terlebih dahulu di kamar mereka masing-masing, dan merapihkan barang bawaan mereka, stelah itu mereka bebas mau jalan-jalan kemanapun.
"Wah.... kamarnya bagus banget" ucap Rara terkagum-kagum saat masuk kedalam kamar hotel.
"Lihat deh kak pasilitas nya juga lengkap"
"Terus kita bisa melihat menara Eiffel dari sini" Lanjut nya lagi, seraya membuka tirai jendela.
"Pasti hotel ini mahal banget ya kak"Tanya Rara, tapi Maya sama sekali tidak menyimak ucapan Rara, semenjak di pesawat tadi wajah Maya tampak murung.
"Kak... kakak kenapa, kok diem terus dari tadi"
"Kakak sakit" Tanya Rara cemas.
"Nggak Dek... Kaka baik-baik aja"
"Oia Dek... Tadi di pesawat kamu liat mas Alvian gak" Maya malah balik bertanya.
"Hah... memangnya tadi dia satu pesawat sama kita" Rara tampak terkejut.
"Nggak... kakak juga gak tau, tapi tadi pas di pesawat kakak kaya denger suara mas Al... trus kakak juga ngeliat perawakan orang itu mirip banget sama mas Al"Jelas Maya.
"Ah... itu cuman perasaan kakak aja kali"
"mungkin cuma mirip aja"
"Ia sih Dek... kakak juga mikirnya kaya gitu"
"Makanya kakak move on dong..."
"Kenapa sih kakak masih belum bisa move on dari laki-laki itu"
"Padahal dia sama keluarganya udah nyakitin kakak"
"Memangnya kakak gak sakit hati sama mereka, gak benci gitu?"
"Kalau sakit hati pasti ada Dek..."
"Tapi kakak gak pernah benci sama mereka"jawab Maya jujur
__ADS_1
"Coba deh Kaka itu jangan terlalu baik jadi orang"
"Jangan mudah luluh gitu aja Kak..."
"Harus bisa bersikap tegas"
"Biar orang-orang gak seenaknya sama kakak" Rara benar-benar heran dengan sikap kakaknya itu.
"Ia ia... bawel"
"Udah ah kakak mau mandi dulu" Ucap Maya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Setelah merasa cukup untuk beristirahat, Raka menemui Maya dan Rara di kamarnya untuk mengajak mereka makan.
"Tok tok tok" Raka mengetuk pintu kamar Maya dan Rara.
Tak butuh waktu lama, Maya langsung membuka pintu tersebut.
"Mas Raka ada perlu apa" tanya Maya.
"Saya mau ngajak kalian makan"
"Kalian pasti lapar kan belum makan dari tadi siang" ajak Raka.
"Ia mas... tapi tunggu Rara siap-siap dulu ya, soalnya dia baru bangun tidur" jawab Maya melihat adiknya masih rebahan di tempat tidur.
"Kalian pergi duluan aja... aku mau mandi dulu"
"Nanti aku nyusul" ucap Rara seraya mengambil handuk.
"Ini di Paris Ra... bukan di Jakarta"
"Nanti kamu tersesat"
"Kamu bareng aja sama kita" protes Maya.
"Ya udah gak apa-apa, Rara bareng sama farel aja"
"Ia kak nanti aku ke bareng sama farel aja" jawab Rara
"Beneran kamu gak apa-apa kami tinggal" Maya masih merasa khawtir meninggalkan adiknya.
"Ia kak... kan aku bareng sama farel"
"Lagian Kalau aku nyasar, aku kan tinggal telpon kakak" Jawab Rara meyakinkan kakak nya
"Oia Dokter Diana gak ikut kita makan" tanya Maya yang tak melihat Dokter Diana
"Mami mau ketemuan sama temen kuliah nya yang tinggal di sini"
"Jadi Mami minta kita makan berempat tanpa Mami"jelas Raka
"Kalau gitu ayo kita pergi duluan May" aja Raka kemudian.
***
Ketika Alvian baru selesai Meeting, ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi.
Namun dari arah kejauhan, ia melihat seorang wanita yang wajah nya benar-benar tidak asing baginya, wajah yang selalu membayang-bayanginya pikirannya selama ini.
Alvian hendak mendekat ke arah wanita itu, untuk memastikan bahwa kali ini ia tidak salah lihat, ia yakin jika perempuan itu adalah Maya, wanita yang sedang ia cari selama ini.
Namun ketika Alvian baru saja melangkahkan kaki nya satu langkah, tiba-tiba ada seorang wanita yang menahan lengannya.
"Mau kemana Lo" Ucap Rara yang baru saja datang bersama Radit untuk menyusul kakaknya.
"Rara... kamu ada di sini juga" Tanya Alvian tak percaya.
"Berarti wanita yang ada di sana benar-benar Maya?"
"Kalo dia kak Maya memangnya kenapa"
"Buat apa Lo nyamperin dia"tanya Rara sinis.
__ADS_1
"Saya mau minta maaf sama kakak kamu, dan sama kamu juga"
"Saya benar-benar menyesal udah menuduh Maya yang nggak-nggak"
"BASI..." Bentak Rara.
"Mentang-mentang kalian orang kaya, kalian bisa memperlakukan kami seenaknya"
"Memfitnah kami dan merendahkan kami sesuka hati kalian"
"Dan setelah itu dengan mudahnya kalian minta maaf"
"Menganggap kami orang bodoh, yang pasrah saja menerima perlakuan kalian"
"Saya bener-bener gak bermaksud ngelakuin hal itu sama Maya"
"Saat itu saya sudah termakan oleh jebakan Rara" jelas Alvian
"Apapun alasannya, tetep aja perbuatan Lo salah"
"Seharusnya Lo cari dulu kebenarannya"
"Jangan asal tuduh aja"
"Coba pikir pake logika, mana mungkin cewe polos dan lugu kaya kak Maya bisa tega nyelakain mertuanya sendiri"
"Masa sih Lo gak tau karakter istri Lo Sendiri" sembur Maya.
"Ia Ra... saya memang salah"
"Saya bener-bener menyesal"
"Tolong ijinkan saya bertemu dengan Maya"
"Saya ingin meminta maaf sama maya secara langsung"
"Tidak perlu..."
"Gue gak mau kakak gue berurusan lagi sama laki-laki pengecut kaya Lo"
"Ya udah ngebuang kakak gue kaya sampah"
"Sebaiknya mulai sekarang Lo gak usah gangguin kakak gue lagi"
"Dia udah bahagia sekarang, dia udah nemuin cowok yang bener-bener tulus mencintainya"
"Dan sebentar lagi mereka berdua akan menikah" Rara sengaja berbohong agar Alvian tidak menggangu kakaknya lagi, sebab jika Maya bertemu dengan Alvian, Maya pasti akan luluh dengan semua ucapan nya.
Alvian benar-benar terkejut mendengar hal itu , ia tidak percaya dengan ucapan Rara.
"Nggak... gak mungkin, kamu pasti bohong"
"Kamu sengaja kan bilang kaya gitu agar saya gak nemuin kakak kamu"
"Terserah kamu percaya atau tidak"
"Tapi yang pasti kak Maya udah melupakan kamu dari kehidupannya"
"Kamu bisa lihat sendiri kan, kak Maya lagi ketawa-ketawa sama pria yang ada di depannya, wajahnya kelihatan bahagia banget"
"Laki-laki di depannya itu adalah calon suaminya"
"Laki-laki yang sangat baik, yang selalu ada untuk kak Maya"
"Jadi gua peringatkan sama lo, jangan pernah muncul lagi di hadapan kakak gue, jangan pernah mengganggu kehidupannya nya"
"Biarkan kakak gue bahagia" ucap Rara memperingatkan Alvian, sebelum ia pergi meninggalkan Alvian.
Awalnya Alvian tidak percaya, tapi saat itu Alvian bisa melihat bahwa Maya sangat ceria, tidak ada lagi kesedihan di wajah Maya.
Sebenarnyasaat itu Raka sedang menghibur Maya agar Maya tersenyum karena ia menyadari bahwa Maya sedang sedih semenjak di pesawat.
Apalagi Alvian juga ingat bahwa laki-laki yang bersama Maya itu adalah laki-laki yang pernah membela Maya waktu itu. hal itu membuat Alvian percaya bahwa dia adalah kekasih Maya.
__ADS_1