
Disaat Maya merasa sedih karna masakannya ke asinan, justru ada seseorang yang merasa puas. Ya dia adalah Bella, orang yang sudah menyabotase masakan Maya, ia memang sengaja berpura-pura baik di hadapan Maya dan Alvian untuk menusuk Maya dari belakang.
Ternyata cara ini lebih efektif untuk menyerang musuh dengan cara halus, daripada harus memperlihatkan kebenciannya secara terang-terangan.
Untuk menebus kesalahannya semalam, Maya sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan, namun ia kesulitan untuk bangun, sebab sejak semalam Alvian tidak melepaskan pelukannya sama sekali, tidurnya terlihat begitu nyenyak.
perlahan-lahan Maya melepaskan tangan Alvian yang melingkar di tubuhnya dengan sangat hati-hati, agar tidak membangunkan tidur suaminya itu.
"Mau kemana May..." Ucap Alvian dengan suara yang berat dan mata yang masih tertutup seraya melingkarkan kembali tangannya di tubuh Maya.
"Aku mau bikin sarapan Mas" Jawab Maya yang tampak tidak bisa berkutik.
"Tidak usah... biar bibi saja yang meyiapkan nya " ucap Alvian lagi.
"Kamu gak mau ya makan masakan aku lagi, gara-gara kemaren keasinan" Raut wajah Maya tampak sedih
"Bukan gitu May... aku suka kok sama masakan kamu, tapi sekarang aku masih ingin meluk kamu, Lebih baik sekarang kita tidur lagi ya, ini masih terlalu pagi untuk bangun" ucap Alvian seraya mengecup bibir Maya, tapi kemudian tangannya menelusup ke dalam pakaian Maya.
"Mas... kamu mau ngapain, katanya mau tidur " tanya Maya kegelian, ia juga merasakan ada yang mengeras di bawah sana.
"Kamu sudah membangunkan juniorku May... jadi kamu harus bertanggung jawab, kamu menidurkannya lagi" Jawab Alvian dengan seringai di bibirnya dan tatapan penuh damba
"Tapi kan semalem udah Mas... emangnya kamu gak cape" Gerutu Maya.
"Nggak May... nggak sama sekali, itung-itung olahraga pagi" Jawab Alvian tampak bersemangat, kemudian ia menciumi leher jenjang Maya, dan mere mas - re mas sesuatu yang berada di balik pakaian Maya, hingga olahraga babak ke dua pun tak terhindarkan.
***
Alvian Bella dan Maya tengah sarapan bersama di meja makan, mereka semua sudah bersiap untuk pergi melakukan aktifitas mereka masing-masing.
"Bel... May... nanti siang saya mau ke rumah Mami, katanya Mami sakit, kalian mau ikut" Tanya Alvian.
"Kayanya aku gak bisa deh Al... soalnya hari ini pemotretan nya sampe malam" Jawab Bella
"Ya sudah gak apa-apa kalau kamu gak bisa"
"Kalau kamu May" tanya Alvian lagi.
"Aku__ aku sebenarnya pengen ikut, tapi aku takut kalau Mami gak suka dengan kedatangan aku" jawab Maya bingung, mengingat sampai saat ini Mami Alvian masih belum bisa menerima Maya sebagai menantunya.
"Lebih baik kamu ikut saja May... kamu harus tunjukin perhatian kamu sama Mami"
"Kamu juga harus buktiin kalau kamu adalah menantu yang baik" Bella memberi saran.
"Tapi Mbak" Maya merasa tidak yakin dengan saran dari Bella.
"Bella bener May... mungkin dengan kamu ikut, hati Mami akan luluh, tapi kamu harus lebih sabar ngadepin Mami" Kali ini Alvian mendukung Bella.
"Kalian yakin gak apa-apa kalau aku ikut" Maya masih tampak ragu-ragu
"Gak apa-apa May... kan ada saya" Jawab Alvian meyakinkan Maya.
"Ya sudah kalau begitu, aku ikut" ucap Maya lagi.
"Yes..... akhirnya dia ke pancing juga sama omongan aku"
"Mami pasti gak akan suka dengan kedatangan Maya, dia pasti bakalan maki-maki Maya habis-habisan" Gumam bela dalam hati.
***
Hari ini Alvian sengaja pulang lebih cepat dari kantornya, kemudian ia segera menjemput Maya ke kampusnya dan pergi ke rumah orangtuanya bersama-sama.
Sesampainya di sana Maya tampak gugup dan ragu-ragu saat hendak masuk ke dalam rumah tersebut, rumah yang sangat megah, dan lebih besar dari rumah Alvian, ini adalah kali pertama Maya menginjakkan kaki nya di rumah mertuanya.
__ADS_1
"Ayo May... kita masuk" Ajak Alvian ketika salah seorang pembantu sudah membukakan pintu untuk mereka, Maya tampak tertegun di depan pintu.
"Aku pulang aja ya Mas..." Keberanian Maya semakin menciut ketika sudah sampai di sana.
"Tidak apa-apa May... kamu gak usah takut" Alvian menggenggam tangan Maya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
Alvian langsung mengajak Maya ke kamar Maminya, tadi Bibi mengatakan bahwa majikannya sedang beristirahat di kamar.
"Assalamualaikum... " Ucap Alvian ketika masuk ke dalam kamar orangtuanya.
"Waalaikumsalam.... " jawab Mami yang tengah bersandar di tempat tidur, wajahnya tampak pucat.
"Kamu sudah datang Al..." Mami terlihat sangat senang melihat kedatangan putranya, tapi ia tampak tidak suka melihat kehadiran Maya.
"Mi gimana keadaan Mami" Alvian duduk di sebelah Maminya dan menggenggam tangannya.
"Kepala Mami pusing Al... badan Mami juga menggigil, Mami lemes banget" jawab Mami sambil memijat-mijat kepalanya.
"Kalo gitu kita ke rumah sakit ya Mi sekarang"
"Gak Al... mami gak mau ke rumah sakit"
"Barusan Mami sudah minum obat, sebentar lagi juga bakalan sembuh. " tolak Mami.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kalo sampe besok kondisi Mami masih seperti ini, Mami harus mau ya ke rumah sakit"
"Oia Mih... tadi Maya beliin buah untuk Mami"
"Dia sangat khawatir sama Mami"
"Mih... Maya Kupasin ya buah nya" ucap Maya sopan.
"Tidak perlu... saya gak mau makan makanan pemberian kamu, nanti saya malah makin sakit" Ucap Mami sinis.
"Mih... kenapa sih Mami bicara seperti itu, Maya itu istri Al... Maya juga sangat khawatir sama Mami"
"Tapi Mami gak suka sama dia, lebih baik kamu suruh dia pulang Al"
"Kalo Maya pergi dari sini, Al juga akan pergi Mih" Ancam Alvian.
"Sekarang Mami Pilih, Al tetap di sini bersama Maya, atau pergi dari sini"
Mami tampak bingung mendengar ucapan Putranya itu di satu sisi ia tidak suka dengan kedatangan Maya, tapi di sisi lain ia juga tidak mau jika Alvian pergi, sebab sudah lama Alvian tidak pernah datang kerumahnya. "Ya sudah... dia boleh tetap di sini, Tapi kamu jangan ya pergi Al"
"Baiklah kalau gitu, tapi Mami harus janji ya, Mami gak boleh berbicara kasar kepada Maya" ucap Alvian lagi.
Dengan terpaksa Mami pun mengikuti keinginan putranya, membiarkan Maya tetap berada di sana agar Alvian tidak pergi.
"Mih... bentar ya Alvian Angkat telepon dulu dari klien" Pamit Alvian kepada Mami nya.
"May... saya keluar dulu ya, tolong jagain Mami dulu sebentar" Ucap Alvian bergegas pergi keluar.
sepeninggal nya Alvian, Susana di kamar tersebut pun terasa mencekam, Maya Tampak gugup dan bingung harus berbicara apa.
"Mih... Maya pijitin ya, pasti badan Mami pegel-pegel" Maya berinisiatif untuk memijit kaki Mertua nya, sekaligus untuk mencairkan suasana.
"Tidak perlu, nanti yang ada kaki saya malah makin sakit lagi"
"Nggak Mih... Maya udah biasa mijitin ibu di rumah, kata itu pijitan Maya enak" Maya tidak menghiraukan ucapan Mertuanya, ia mulai memijit kaki sang mertua dengan perlahan.
"Saya kan sudah bilang Saya__" Mami hendak memaki Maya lagi, tapi tidak jadi karna ia merasa pijatan Maya sangat nyaman.
"Ya sudah kalau kamu maksa" Akhirnya Mami membiarkan Maya memijat kakinya, kemudian ia menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Tidak hanya sampai di situ saja, Maya juga memijat tangan dan pundak mertuanya itu, dan Mami pun tampak menikmati nya.
Beberapa saat kemudian Alvian pun kembali ke kamar tersebut. "Wah ternyata Mami lagi di pijit, gimana Mih... pijitan Maya enak kan"
"Biasa aja" Jawab Mami yang masih memejamkan matanya, ia masih gengsi untuk mengakui kepiawaian Maya dalam memijit. Bahkan Mami sampai tertidur karna saking nyamannya.
**
Semenjak Farel berpacaran dengan Rara, Farel menjadi sangat posesif kepada Rara, ia selalu menjemput dan mengantarkan Rara ke Club', bahkan Farel selalu mengawasi dan menunggu Rara sampai Rara selesai bekerja, ia tidak mau jika kekasihnya di goda atau di lecehkan oleh pria hidung belang, ia belajar dari pengalamannya saat berpacaran dengan Maya, ia tidak mau jika hal itu Sampai terulang lagi.
"El... hari ini kamu pulang aja ya gak usah nungguin aku sampai pulang, lebih baik kamu jagain Mami kamu yang lagi sakit, aku bisa pulang sendiri kok" Ucap Rara saat turun dari motor Farel.
"Di rumah ada bang Al sama Maya, katanya mereka mau menginap di rumah, buat jagain Mami" jawab Farel seraya membuka helm nya.
"Memangnya kamu gak cape nemenin aku kerja terus tiap hari, lebih baik kamu istirahat di rumah" bujuk Rara.
"Nggak, aku sama sekali gak cape, aku gak mau kamu di godain sama cowok-cowok itu".
"Tapi El..." ucap Rara bingung, ia merasa tidak nyaman selalu terus di awasi oleh farel saat bekerja.
"Kamu kenapa sih Ra, kamu gak suka kalo aku di sini"
"Atau kamu gak nyaman kalo ada aku, kamu jadi gak bebas buat deket-deket sama cowok lain" Farel tampak curiga.
"Bukan gitu El" ucap Rara bingung.
"Ya udah deh terserah kamu aja, aku gak akan ngelarang-larang kamu lagi" Akhirnya Rara pun menyerah dan membiarkan Farel melakukan apa yang dia mau, ia tidak mau berdebat dengan Farel. Rara langsung ke dalam dan mulai bekerja.
Ketika Rara sedang mengantarkan minuman kepada pelanggan, pria tersebut terus menggoda Rara dan mengajak Rara berkenalan. meskipun merasa risih, tapi Rara tetap harus bersikap ramah kepada pria tersebut, karna semua itu sudah menjadi peraturan dari atasannya.
"Cantik... nanti setelah selesai kerja kamu udah ada jadwal belum, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat" Tanya pria tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Rara, ia menganggap bahwa Rara adalah perempuan bayaran yang bisa ia kencani.
"Maaf saya gak bisa" Rara berusaha menghindar dari pria itu, tapi saat Rara hendak pergi, pria tersebut justru menarik tangan Rara.
"Kamu mau kemana, temani dulu aku di sini, kamu tenang aja, aku akan memberikan kamu bayaran yang besar asalkan kamu mau menemani saya malam ini" ucapnya lagi.
"Lepasin cewek gue" tiba-tiba saja Farel datang dan langsung menghantam wajah pria tersebut. Dan tentu saja pria tersebut pun tidak terima, ia langsung bangun dan hendak membalas Farel. Otomatis hal tersebut memancing perhatian orang-orang, dan menimbulkan keributan.
"El... Stop" Teriak Rara saat melihat Farel hendak menyerang kembali pria tersebut. Rara segera menarik Farel dan membawa Farel ke luar
"El... kamu apa-apaan sih kasar kaya gitu sama cowok tadi, maen pukul-pukul orang sembarang" ucap Rara kesal.
"Ra... dia udah bersikap kurang ajar sama kamu, aku gak mungkin diem aja ngeliat kamu di gituin"
"Dia cuman pegang tangan aku aja El... kamu gak usah berlebihan El"ucap Rara lagi.
"Cuman... kamu bilang ? kamu suka dia pegang-pegang tangan kamu, ia" bentak Farel.
"Bukan gitu El... kamu tau kan kerjaan aku kaya gimana, hal kaya gitu udah biasa di sini, aku harus bersikap proporsional, aku harus bersikap ramah sama mereka, ini adalah tuntutan pekerjaan aku El, lagian aku juga bisa jaga diri kok, aku juga gak akan diem aja kalo mereka udah bener-bener kelewatan" jelas Rara.
"Tapi aku gak suka liat kamu di perlakukan seperti itu sama cowok-cowok brengsek itu" keluh Farel.
"Lebih baik mulai sekarang kamu berhenti kerja dari sini Ra"
" Kalo aku berhenti kerja dari sini, dari mana aku dapet uang buat biaya aku sehari-hari, apalagi sebentar lagi aku harus daftar kuliah"
"Inget El... aku itu bukan kamu yang terlahir dari keluarga kaya raya, yang bisa dapetin apapun yang kamu mau tanpa harus susah-susah cari uang" Rara tidak mengerti dengan jalan pikiran Farel, yang seenaknya saja meminta ia berhenti bekerja.
"Tapi kan kamu bisa kerja di tempat lain Ra" Farel berusaha meyakinkan Rara.
"Memangnya kamu pikir cari kerjaan itu gampang, apalagi untuk anak sekolah kaya aku yang belum punya pengalaman apa-apa"
"Udah lah El... aku capek berdebat sama kamu, harusnya kamu ngerti dengan posisi aku saat ini, karna dari awal kamu udah tau bagaimana perkejaan aku" Rara pergi meninggalkan Farel dengan raut wajah yang kesal, ia yakin setelah ini ia akan mendapat teguran dari atasannya.
__ADS_1