CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 98


__ADS_3

Setelah selesai memeriksa kesehatan warga desa, Maya menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah pak Joko dan Bu Marni, sembari menunggu para panitia dan petugas medis lainnya untuk beristirahat dan membereskan peralatan medis mereka.


Pak Joko dan Bu Marni tampak senang karna Maya mau menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke rumahnya.


"Maaf ya Dok... rumah kami sempit dan berantakan, pasti Dokter gak nyaman berada di sini" ucap Bu Marni merasa malu dengan keadaan rumah nya.


"Nggak Kok Bu... rumah ini nyaman banget, udaranya sejuk. Saya lebih suka suasana seperti ini dari pada di Kota, karna saya dulu juga berasal dari desa" jawab Maya.


"Oalah... Ibu Pikir Dokter Maya dari kecilnya sudah tinggal di Kota " ucap bu Marni tak percaya.


"Nggak Bu... saya juga sama anak Kampung" jelas Maya.


"Oh ia Dok... silahkan di makan Singkong dan ubi rebus nya mumpung masih hangat" Mereka hanya bisa menjamu Maya dengan makanan seadanya, hasil dari dari kebun.


"Ia Bu... saya udah lama banget gak pernah makan makanan ini, padahal dulu waktu di kampung saya sering banget makan singkong sama ubi " ucap Maya seraya mengambil satu potong ubi dari piring.


"Ibu kira Dokter gak suka sama makanan seperti ini" Bu Marni merasa heran karna seorang Doi seperti Maya mau memakan makanan kampung.


"Saya suka banget Bu..." jawab Maya seraya menikmati makanan tersebut, makanan yang jarang ia temukan


"Oia anak ibu belum pulang ?" tanya Maya yang tidak melihat keberadaan putri mereka.


"Belum Dok, Anak saya pulangnya sore terus, soalnya sekolahannya jauh, apalagi dia jalan kaki"jelas Bu Marni


"Ya ampun kasihan sekali... anak ibu pasti cape banget, jalan dari sini kan lumayan jauh " Jawab Maya iba.


"Memangnya putri ibu gak punya sepeda?" tanya Maya lagi.


"Kami belum bisa membelikannya sepeda Dok, penghasilan bapak hanya cukup untuk makan sehari-hari " jelas Pak Joko.


"Kalau begitu nanti saya kirim sepeda ya kesini untuk anak ibu" ucap Maya tanpa berpikir panjang.


"Jangan Dok... Dokter sudah terlalu banyak membantu kami " tolak Bu Marni.


"Tidak apa-apa Bu... biar anak ibu lebih semangat lagi sekolah nya" jawab Maya tulus. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan anak mereka, tapi ia merasa sudah dekat dengan anak tersebut.


"Terimakasih Banyak Dok.. semoga Dokter dan keluarga Dokter selalu di beri kebahagiaan " jawab Pak Joko


"Amin..."


"Oh ia Dok... Dokter sudah punya anak berapa" tanya Bu Marni penasaran.


"Saya baru punya anak satu..." jawab Maya dengan rasa sesak di dadanya jika mengingat putrinya.


"Oh Baru satu. Laki-laki atau perempuan ?" tanya nya lagi.


"Perempuan Bu" jawab Maya berusaha menahan rasa sesak tersebut.

__ADS_1


"Usianya berapa tahun Dok" tanya Bu Marni masih penasaran


"Usianya 7 tahun" jawab Maya lagi.


"Kalau begitu sumuran dengan Anak saya Dok"


"Nanti kapan-kapan ajak anaknya liburan ke sini Dok, di Desa ini juga ada vila yang di sewakan, pemandangannya bagus banget" ucap Bu Marni.


Seketika Raut wajah Maya berubah, Ia terdiam tanpa menjawab perkataan Bu Marni, ia semakin teringat dengan Alma.


Tampak nya Bu Marni sudah menyadari perubahan raut wajah Maya. " Dokter kenapa, apa ucapan ibu ada yang salah"


"Ng_nggak Bu... saya hanya sedang teringat dengan Anak saya, sebab anak saya sudah lama hil___"


"Assalamualaikum..." ucap Salah seorang perawat yang hendak menjemput Maya.


"Waalaikumsalam" jawab mereka bertiga.


"Maaf Dok... semua orang sudah bersiap untuk pulang, semuanya sedang menunggu Dokter" ucap perawat tersebut.


"Oh baiklah kalau begitu" jawab Maya seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Pak Bu... saya pamit dulu ya, terimakasih atas jamuan nya" pamit Maya.


"Sama-sama Dok... kapan-kapan mampir kesini lagi ya sama anak dan suami dokter" jawab Bu Marni


"Ia Bu Nanti saya sampaikan " Jawab Bu marni.


"Oh Ia kalau perlu apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya, atau datang ke rumah saya, kalian masih menyimpan kartu nama suami saya kan"


"Ia Dok... terimakasih banyak" pak Joko dan Bu marni merasa sangat bersyukur di pertemukan dengan orang baik seperti Maya.


* * *


Sesampainya di kantor, Radit melihat kotak makan yang berada di sebelahnya, ia hendak membiarkan kotak bekal tersebut di dalam mobil, tetapi tiba-tiba saja ia mengambil kotak tersebut dan ia bawa ke ruangan nya.


Setelah ia sampai di ruangannya, ia menyimpan kotak tersebut di atas meja, tetapi ketika itu ia merasa lapar, sebab ia belum memakan apapun di rumah, lagi-lagi ia melirik kotak bekal tersebut, dan kemudian ia membukanya dengan ragu-ragu.


Di dalam Kotak makan tersebut berisi makanan kesukaannya yang di masak oleh sang istri, perut Radit semakin keroncongan melihat makanan tersebut yang terlihat lezat. Tanpa berpikir panjang Radit langsung melahap semua makanan tersebut, ia makan dengan cepat seperti orang kelaparan.


Benar saja, makanan tersebut memang sangat lezat, rasanya ia tidak mau berhenti mengunyah. Masakan yang sebenarnya sangat ia rindukan, tapi ia malu untuk mengakui nya.


"Ting" Radit mendapatkan pesan dari Rara


"Dit... jangan lupa di makan ya bekalnya" isi chat Rara.


"Sudah aku berikan kepada satpam " jawab Radit singkat, ia tampak gengsi untuk mengakui bahwa bekal nya sudah habis tak tersisa sedikitpun.

__ADS_1


"Oh ya sudah tidak apa-apa, tapi kamu jangan telat makan ya, nanti sore aku masakin lagi makanan kesukaan kamu untuk makan malam" balas Rara.


**


"Pagi..." Sapa Farel ketika ia masuk ke ruang meeting. ketika itu Rara sudah tiba terlebih dahulu bersama tim yang lain. Hari ini mereka akan membahas tentang proyek yang sedang mereka kerjakan.


Rara sama sekali tidak menghiraukan sapaan Farel, ia justru Fokus dengan berkas yang ada di hadapannya.


Selama meeting berlangsung, Farel melihat Rara cenderung lebih banyak diam, ia hanya berbicara seperlunya saja. Benar-benar bukan Rara yang Farel kenal, Rara yang selalu ceria, bawel, galak dan semangat dalam bekerja. ya, semua itu memang atas ulahnya sendiri, ia lah yang telah menyebabkan Rara seperti ini, tapi bukan ini yang Farel inginkan, ia hanya ingin Rara kembali kepadanya seperti dulu lagi.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini, Rara segera bergegas untuk pulang, namun sebelum ia Memesan taxi online, ia memutuskan untuk menunggu Radit selama beberapa menit, siapa tau Radit berubah pikiran dan bersedia menjemputnya nya, ia juga sudah mengirimkan pesan kepada Radit bahwa ia akan segera pulang.


Cukup lama Rara menunggu tapi Radit tak kunjung datang, pesannya pun tidak di balas. Farel memperhatikan dari kejauhan, ia merasa kasihan melihat Rara yang sejak tadi berdiri sendiri di depan kantor, hingga akhirnya Farel memutuskan untuk menghampiri Rara.


"Suami macam apa yang membiarkan istrinya menunggu seperti ini" sindir Farel.


Rara menatap wajah Farel dengan sinis "bukankah ini yang kamu mau " bentak Rara dengan sedikit menahan suaranya, karna saat itu mereka sedang berada di area kantor, apalagi Farel merupakan atasannya.


"Puas Lo melihat gue seperti ini" sambungnya lagi.


"Gue hanya ingin Lo kembali sama gue Ra" Lagi-lagi kata-kata itu yang keluar dari mulut Farel.


"Sakit Lo El, gue udah gak tau lagi gimana caranya bikin Lo sadar" ucap Rara kesal kemudian ia hendak pergi meninggalkan Farel.


"Tunggu Ra" ucap Farel memegang tangan Rara agar tidak pergi.


"Kalian sedang apa di sini" Tanya Alvian yang baru saja tiba. Farel segera melepaskan tangan Rara.


"Aku cuma sedang menemani Rara menunggu suaminya, ia kan Ra" jawab Farel bohong.


"Benar begitu Ra" tanya Alvian memastikan, ia merasa curiga dengan mereka berdua, apalagi tadi Farel sempat memegang tangan Rara, dan Raut wajah Rara terlihat sedang kesal


"I_ia ka" jawab Rara gugup.


"Kakak mau apa kesini" tanya Farel mengalihkan pembicaraan.


"Kakak mau membahas soal proyek kita yang di Kalimantan" jawab Alvian.


"Oh... kalo gitu kakak duluan aja ke ruangan aku, bentar aku nyusul, laporan nya udah aku catat di laptop" Ucap Farel lagi.


Setibanya di ruangan adiknya, Alvian langsung membuka laptop yang tergeletak di atas meja untuk memeriksa laporan yang di katakan Farel tadi. Tapi Alvian tidak sengaja membuka sebuah file yang berisi foto-foto adiknya bersama Rara sedang tidur bersama.


Alvian benar-benar terkejut melihat hal tersebut, kenapa adiknya masih menyimpan foto-foto tersebut, bahkan foto tersebut bukan hanya foto lama saja, ada juga foto yang belum lama di ambil.


Kecurigaan alvian tadi semakin kuat setelah melihat Foto-foto tersebut, ia semakin yakin jika ada sesuatu di antara mereka.


"Apa maksud semua ini, apakah selama ini Farel masih berhubungan dengan Rara ?" Gumam Farel, ia menduga-duga atas apa yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2