CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 92


__ADS_3

Akhirnya Radit sudah berhasil melamar Rara secara Resmi di depan semua keluarga. Maya dan juga Ibunya sudah menerima lamaran Radit, bagi mereka Radit adalah pria yang baik dan tepat untuk Rara, mereka percaya jika Radit bisa menjaga dan membahagiakan Rara.


Kedua pihak keluarga sudah menentukan tanggal dan tempat untuk melaksanakan pernikahan Rara dan Radit, mereka semua tampak bahagia dan antusias untuk mempersiapkan semuanya.


Terutama Dokter Diana yang memang sudah sejak lama ingin mempunyai menantu dan juga cucu, agar ia mempunyai teman di rumah nya, sebab kedua anak laki-laki nya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi setelah Rara pergi dari rumahnya, rumah nya menjadi semakin sepi. Maka dari itu ia sangat bahagia saat Adit mengatakan bahwa ia ingin menikah dengan Rara, apalagi ia juga sangat menyayangi Rara, sudah menganggap Rara seperti anaknya sendiri.


Raka juga sangat mendukung pernikahan adiknya, walaupun ia harus terlangkah, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu, baginya kebahagiaan adiknya nomor satu.


Diantara kebahagiaan dan dukungan yang mengalir bagi Rara dan Radit, Pasti ada saja orang yang iri dan juga dengki, siapa lagi kalau bukan Farel. Ia benar-benar geram saat mengetahui jika wanita pujaannya telah dilamar oleh orang lain dan akan segera menikah.


Tadinya Farel berpikir jika hubungan mereka akan hancur setelah apa yang ia lakukan waktu itu, tapi ternyata rencananya tidak berhasil. Padahal ia sangat yakin jika Rara tidak akan melanjutkan hubungannya dengan Radit, karena merasa tidak pantas untuk Radit, dan lebih memilih untuk kembali kepadanya. Ternyata dugaannya salah besar.


* *


Setelah acara lamaran selesai dan para tamu sudah pulang, Maya dan Alvian langsung kembali ke kamarnya untuk istirahat, sebab besok mereka harus melakukan aktivitas mereka seperti biasa.


Maya dan Alvian sudah bersiap untuk tidur, mereka berdua tengah duduk sambil bersandar ke sandaran tempat tidur, menyelimuti kaki mereka dengan selimut.


"Mas... kalau Rara sudah menikah, nanti dia pasti akan ikut dengan suaminya, rumah ini pasti bakalan sepi lagi" Ucap Maya tiba-tiba.


"Kalau gitu kita minta mereka tinggal di sini aja sayang" Jawab Alvian santai.


"Ya gak bisa gitu dong Mas... Mereka juga pasti ingin memiliki privasi sendiri, apalagi aku denger-denger kalau Radit sudah membeli rumah untuk mereka tinggali nanti." jawab Maya tidak setuju.


"Untuk apa repot-repot membeli rumah, rumah ini kan juga luas, masih cukup untuk di tinggali dua puluh orang lagi" Rumah Alvian memang sangat besar dan mewah seperti istana, bahkan ia harus memperkerjakan pelayan yang cukup banyak.


"Mereka pasti gak akan mau... mereka pasti akan lebih memilih untuk tinggal di rumah sendiri"jelas Maya


"Terus kamu mau nya gimana sayang, biar kamu gak merasa kesepian di rumah ini" tanya Alvian bingung


"Hmmmm bagaimana kalau kita adopsi anak dari panti asuhan untuk tinggal di sini, biar nanti kalau Alma kembali ke rumah ini dia memiliki teman bermain" Entah dari mana Maya mempunyai ide tersebut.


"Kamu yakin sayang mau mengadopsi anak"tanya Alvian ragu


"Ia mas... aku yakin" jawab Maya past


"Gimana kalau kita bikin adik aja buat Alma" goda Alvian.

__ADS_1


"Nggak mau, aku belum kepikiran untuk punya bayi lagi, aku ingin Fokus dulu cari Alma" tolak Maya.


"Ya sudah besok kita ke panti ya, nanti aku minta pengacara aku untuk menyiapkan surat-surat nya" Tidak ada yang sulit bagi Alvian.


"Makasih ya Mas... kamu selalu mengabulkan keinginan aku" ucap Maya seraya memeluk suaminya.


"Sama-sama sayang... aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu, bahkan kalau kamu mau, aku akan memindahkan panti asuhan ke rumah ini, biar rumah ini ramai, dan kamu gak kesepian lagi"


"Kamu terlalu berlebih-lebihan mas... satu anak aja sudah cukup"


"Ya sudah kalau begitu, gimana kalau sekarang kita buat adik dulu untuk Alma" Tiba-tiba saja Alvian membaringkan istrinya dan menindihnya dari atas seraya memberikan ciuman dan sentuhan-sentuhan manja.


**


"Nak... Ibu sudah mendaftarkan kamu ke sekolah, jadi mulai hari Senin kamu sudah bisa belajar di sekolah, ibu mau kamu melanjutkan sekolah kamu, agar kamu menjadi anak yang pintar" ucap Bu Marni.


"Ia Bu... Tapi Putri belum mempunyai seragam dan juga alat tulis" jawab Putri yang tidak lain adalah Alma.


"Kamu jangan khawatir nak... tadi bapak sudah memberi ibu uang untuk membeli seragam dan juga alat tulis, nanti siang kita belanja ke kota ya nak"


"Terimakasih Bu.. Alma janji Alma akan belajar dengan sungguh-sungguh"


"Tidak apa-apa Bu... yang penting putri bisa sekolah" Alma tampak bersemangat untuk bersekolah.


Keesokan harinya Bu Marni dan pak Joko mengajak Alma untuk pergi ke kota untuk mencari peralatan sekolah, sekaligus mengajak putri jalan-jalan, sebab selama ini putri tidak pernah pergi ke mana-mana selain ke kebun.


Putri tampak kagum melihat keramaian di kota dan juga gedung-gedung tinggi di sana. Tadi dia juga tampak gembira saat ia naik angkutan umum, walau sebelumnya mereka harus berjalan cukup jauh untuk sampai di jalan Raya.


Sebelum membeli peralatan sekolah, mereka juga mengajak putri untuk membeli bakso, mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.


"Put... kamu boleh pilih sepatu dan juga tas yang kamu sukai, biar ibu yang mencari buku dan alat tulis yang lain" ucap Bu Marni ketika berada di sebuah toko.


"Makasih Bu..." jawab Putri dengan senyum di bibirnya, ia sangat gembira sekali.


Setelah selesai memilih tas dan dan sepatu yang dia sukainya, Bu Marni meminta putri menunggu di luar toko bersama suaminya, karena ia harus mengantri untuk membayar


Setelah beberapa menit mengantri akhirnya giliran Bu Marni yang akan membayar semua belanjaan nya.

__ADS_1


"Total nya lima ratus ribu" ucap petugas kasir yang sudah menghitung semua belanjaan Bu Marni.


Bu Marni tampak terkejut saat mendengar total belanjanya, sebab uang nya tidak cukup, apalagi tadi ia sudah menghabiskan uang lima puluh ribu untuk membeli bakso dan es jeruk untuk mereka bertiga.


"Maaf Mba uang saya tidak cukup, hanya ada tiga ratus lima puluh ribu" ucap Bu Marni bingung.


"Kalau begitu ibu kurangi saja salah satu belanjaannya agar uang nya cukup" jawab Kasir tersebut.


"Tapi saya membutuhkan semua barang ini" jawab Bu Marni lagi, karena belanjaannya penting semua, tidak mungkin ia mengurangi salah satunya.


"Kalau begitu ibu tukar saja sepatu atau tas ini dengan merek atau model lain, karena sepatu dan tas ini harganya cukup mahal" Petugas kasir tersebut memberikan saran.


"Tapi anak saya sangat menyukai tas dan sepatu ini, dia sendiri yang memilih nya" Bu Marni tampak bingung.


"Lalu ibu mau nya bagaimana, jangan kebanyakan berpikir, antrian di belakang sudah panjang" Kasir tersebut tampak kesal dengan Bu Marni.


"Biar saya saja yang bayar semua belanjaan ibu ini" Tiba-tiba saja seorang perempuan cantik yang berada di antrian belakang menghampiri mereka. Ya, perempuan tersebut adalah Maya yang saat itu hendak membeli peralatan sekolah untuk anak-anak panti.


"Tidak usah neng... biar saya tukar saja tas dan sepatu nya" jawab Bu Marni merasa tidak enak.


"Jangan Bu... kasian anak ibu nanti, dia pasti bakalan sedih" jawab Maya yang mendengar ucapan Bu Marni kepada karyawan tersebut, ia merasa sangat iba.


"Kalau begitu, neng pegang dulu uang ibu, nanti sisanya ibu ganti kalau ibu sudah ada uang, neng kasih tau aja alamat neng" Bu Marni hendak memberikan uangnya kepada Maya.


"Tidak apa-apa Bu... lebih baik ibu simpan saja uang ibu untuk membeli keperluan yang lain" ucap Maya seraya mengepalkan tangan Bu Marni untuk memegang uangnya.


"Tapi neng... ibu jadi gak enak" Icao abu Marni merasa malu.


"Tidak apa-apa Bu...mungkin ini sudah rejeki ibu" jawab Maya ikhlas.


"Terimakasih banyak ya neng.." Bu Marni merasa berhutang Budi. Entah mimpi.apa dia semalam sehingga di pertemuan dengan orang baik.


"Sama-sama Bu"


Setelah membayar semua belanjaan Bu Marni dan juga belanjaan nya, Maya mendapatkan telpon dari rumah sakit untuk segera kembali ke sana, karena ada Pasien yang sedang darurat yang sedang membutuhkan pertolongan nya, Maya keluar dari toko tersebut dengan tergesa-gesa sambil menelpon, sehingga ia tidak sadar jika dompetnya terjatuh.


"Bu... dompetnya jatuh" ucap Putri yang kebetulan melihat dompet Maya jatuh. ia mengambil dompet tersebut dan mengejar pemilik nya yang saat itu sangat tergesa-gesa. ketika itu Maya sudah berada di depan mobilnya, sambil mencari kunci mobilnya di dalam tas.

__ADS_1


"Makasih sayang" ucap Maya seraya mengambil dompet tersebut tanpa melihat ke arah anak itu, apalagi saat itu ia masih berbicara dengan perawat melalui ponselnya. Maya langsung bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pergi ke rumah sakit.


__ADS_2