CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 51


__ADS_3

Setelah pergi dari rumah Farel, Rara langsung pergi ke rumah Alvian untuk menemui kakaknya, namun saat sampai di sana, asisten rumah tangga Alvian mengatakan bahwa Maya di bawa ke rumah sakit karna mengalami pendarahan.


Rara segera bergegas ke rumah sakit yang di sebutkan oleh bibi tadi, ia sangat mencemaskan keadaan kakaknya.


"Rara... kamu tau dari mana kalo kakak ada di sini" Ucap Maya terkejut sekaligus senang melihat kedatangan adiknya.


"Tadi aku ke rumah kakak, tapi katanya kakak di rumah sakit, jadi aku langsung kesini"


"Kakak kenapa bisa seperti ini, bukannya kandungan kakak baru delapan bulan" tanya Rara penasaran sekaligus curiga.


"Tadi_ tadi kakak kepeleset Dek" jawab Maya bohong.


"Serius kakak kepeleset sendiri, atau...." ucap Rara seraya melirik ke arah Alvian yang sejak tadi tidak berkomentar apapun, Rara bisa merasakan bahwa hubungan Maya dan kakaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Ia dek.... kakak kepeleset sendiri" jelas Maya lagi.


Beberapa saat kemudian, Suter yang membatu persalinan Maya tadi, datang keruangan tersebut.


"Maaf Bu..Pak... ada sesuatu yang mau saya sampaikan" ucap Suster tersebut.


"Ada apa sus..."Jawab Alvian.


"Maaf pak... Bu... Bayi Ibu Maya, baru saja meninggal dunia, karna ada kelainan di paru-paru nya" jelas suster. Seketika Maya Alvian dan Rara pun langsung terkejut.


"Nggak sus... suster pasti bohong kan, anak aku pasti baik-baik saja" Maya sangat Shock mendengar kabar tersebut.


"Ia sus... kenapa tiba-tiba seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi" tanya Alvian


"Untuk lebih jelasnya, nanti Dokter akan menjelaskan langsung kepada bapak dan ibu, saya permisi dulu ya pak... Bu..." Pamit suster tersebut.


Saat itu Maya langsung histeris, ia menangis sejadi-jadinya atas kepergian putrinya, buah cintanya dengan Alvian.


"Kenapa kamu harus pergi secepat ini nak... padahal ibu belum sempat menggendong kamu" ucap Maya sambil menangis.


"Kakak yang sabar ya... Kakak jangan seperti ini, kasian bayi kakak, dia pasti akan sedih jika melihat ibunya seperti ini, aku yakin kakak pasti kuat" ucap Rara berusaha memberikan kekuatan untuk Maya.


Alvian pun tak kalah terpukul seperti Maya, ia harus merasakan kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi di saat yang bersamaan.


Menjelang sore hari Papi Alvian dan juga Farel menyusul Alvian kerumah sakit, mereka sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi dengan anak Maya dan juga Alvian.


Saat masuk ke dalam ruang perawatan Maya, Farel dan Rara pun otomatis bertemu di sana, berada di satu ruangan yang sama, namun keduanya tidak ada yang saling menyapa, ataupun saling menatap wajah satu sama lain, mereka berdua bagaikan orang asing yang tidak pernah saling mengenal.


"Bang... gua turut berdukacita ya atas kepergian Bayi lu" ucap Farel.


"Makasih El..."


"Ia Al... kamu yang sabar ya, mungkin ini memang yang terbaik untuk kamu" Sambung Papi.


"Sepertinya bayi kamu tidak sudi mempunyai ibu seorang pembunuh"


"Wanita ini memang pembawa sial"

__ADS_1


"Sekarang sudah tidak ada alasan lagi bagi kamu untuk tetap bersama perempuan ini"


"kamu ceraikan saja perempuan ini"


"Jaga bicara anda, anda gak pantas berbicara seperti itu sama kakak saya" Rara sangat tidak terima mendengar perkataan Papi.


"Kakak kamu memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu"


"kita semua sudah tertipu dengan keluguan nya Selama ini, padahal hatinya busuk"ucap Papi lagi.


"Saya bilang cukup" bentak Rara.


"Ucapan anda sudah benar-benar keterlaluan"


"Berani-beraninya kamu membentak saya"


"Kamu tidak tau siapa saya"


"Ternyata adik dan kakak sama saja, sama-sama tidak tau diri"


"Kalian berdua sengaja kan mengincar anak-anak saya agar derajat kalian biasa naik, agar kalian bisa hidup enak dan menguasai harta saya"


"Ia kan"


"Kami memang orang miskin, tapi kami gak serendah itu, kami bukan lah orang yang gila dengan harta dan juga kemewahan"


"Tidak seperti anda yang sudah di budakkan oleh harta, yang selalu membanding-bandingkan derajat seseorang, yang selalu mengukur semuanya dengan uang"


"Dan selalu menganggap rendah orang lain"


"Kamu_" Papi Alvian hendak menampar Rara.


"Pih udah Pih... Papi tidak boleh bersikap kasar kepada perempuan" ucap Alvian menghalau tangan Papi nya.


"Ayo Al, sekarang kita pergi dari sini"


"Sekarang juga kamu talak perempuan ini"


"Dan segera urus perceraian kamu"


"Jangan pernah lagi berhubungan dengan dia ataupun keluarganya" ucap Papi lagi.


"Tapi Pih..." Alvian memang marah dan kecewa kepada Maya tapi ia tidak pernah terpikir untuk menceraikan Maya, apalagi saat ini Maya juga masih terpukul atas kepergian bayi mereka.


"Mulai sekarang kamu harus nurut dengan ucapan Papi, Mami kamu pasti sedih kalo melihat kamu masih tetap berhubungan dengan orang yang udah membunuh nya"


"Atau kamu mau, kalo Papi jadi korban berikutnya"


"Pih... aku bukan pembunuh Mami Pih..."


"Tolong percaya sama aku"

__ADS_1


"Mas... tolong jangan lakuin ini sama aku"


"Aku tidak bersalah" Maya masih berusaha meyakinkan mereka kalau dia memang tidak bersalah.


"Diam kamu"


"Sudah untung kamu tidak masuk penjara"


"Kalo saja saya punya cukup bukti, saya pastikan kamu akan membusuk di penjara"


"Ayo Al, kita pergi dari sini" ucap Papi


"Mas... aku mohon mas... jangan tinggalin aku"


"Aku cinta sama kamu"


"Aku butuh kamu di sisi aku" mohon Maya.


"Kak udah kak... untuk apa kakak mengemis-ngemis sama dia"


"Biarkan aja dia pergi"


"Gak ada gunanya Kaka mohon-mohon sama laki-laki yang jelas-jelas gak percaya sama kakak"


"Kalo dia memang sayang sama kakak, dia pasti akan percaya sama kakak" ucap Rara berusaha menenangkan kakak nya.


"Tapi Ra..."


"Udah kak, biarkan aja dia pergi"


"Aku gak mau kalo kakak terus di hina dan di rendahkan sama mereka"


"Kita memang orang miskin, tapi kita juga punya harga diri" jelas Rara lagi.


"Dan untuk kalian" ucap Rara menatap ke arah Alvian Farel dan juga Papinya.


"Terimakasih atas perlakuan kalian kepada kakak saya"


"Saya tidak akan pernah melupakan ucapan dan juga perbuatan kalian yang sudah menghina dan mencampakkan kakak saya begitu saja"


"Ingat baik-baik ucapan saya, suatu saat nanti kalian pasti akan menyesal dengan apa yang pernah kalian lakukan" ancam Rara.


"Dasar bocah ingusan, berani-beraninya kamu ngancam kami"


"Ternyata walaupun kamu orang miskin tapi kamu bisa sombong juga ya"


"Saya gak takut dengan ancaman kamu"


"Ayo Al... kita pergi dari sini"


"Percuma kita dengerin omong kosong mereka" Papi mengajak Alvian dan Farel untuk keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Maya hanya dapat menangis meratapi kepergian Alvian yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya. yang begitu patuh kepada Papi nya. Ia benar-benar tidak menyangka jika pernikahannya akan berakhir dengan cara seperti ini. Rara memeluk Maya yang tangah menangis untuk memberikan kekuatan kepada kakak nya itu. walaupun saat ini hatinya pun sedang hancur atas perlakuan Farel, farel sama sekali tidak membelanya sama sekali saat Papinya merendah Rara.


Tapi Rara berusaha terlihat tegar, untuk memberikan semangat kepada kakaknya, Wanita mana yang tidak hancur ketika ditinggalkan oleh suaminya di saat ia sedang terpuruk atas kepergian anaknya, yang seharusnya memberikan kekuatan kepadanya. Saling menguatkan satu sama lain.


__ADS_2