
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, tiga bulan sudah Maya dan Rara menjalani kehidupan mereka yang baru, atas pertolongan Dokter Diana.
Kini Maya sudah resmi menyandang status janda, ia dan Alvian sudah resmi bercerai secara hukum, sekarang Pernikahan mereka sudah benar-benar berakhir.
Meskipun Alvian sudah menyakiti hatinya berkali-kali, tetapi Maya tidak pernah benci sedikitnya dan menaruh rasa dendam kepada Alvin ataupun keluarganya. Saat proses perceraian pun, Maya selalu menyempatkan waktu untuk datang ke persidangan tersebut, namun Alvian justru tidak pernah hadir sekalipun, hanya di wakili oleh kuasa hukumnya saja.
Maya sudah ikhlas melepaskan Alvian, ia juga sudah berlapang dada menerima takdir yang sudah di gariskan padanya, menjadikan semua itu sebagai pelajaran hidup, dan membungkus rapat-rapat kenangannya bersama Alvian.
Beruntung Maya di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan peduli padanya, terutama Rara yang selau memberikan semangat dan kekuatan untuk kakaknya, begitupun dokter Diana yang sudah seperti ibu kedua bagi Maya, yang selalu merangkul Maya, dan jadi tempat bersandar untuk Maya, ia dan tak segan-segan memberikan nasihat kepada Maya agar Maya menjadi wanita yang tangguh.
Selain Rara dan Dokter Diana, Raka juga sangat berperan dalam memberikan semangat kepada Maya untuk bangkit dari keterpurukannya.
Selama ini Raka selalu turun langsung dalam melihat perkembangan anak-anak panti asuhan dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Hal tersebut secara tidak langsung membuat Raka dan Maya menjadi lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama di panti asuhan, termasuk menemani anak-anak bermain.
Di samping itu, Raka juga sering membantu Maya mengerjakan tugas kuliahnya, dengan mengoreksi kesalahan nya.
Sama halnya dengan Radit dan Rara, walaupun mereka sering bertengkar kecil, tapi sekarang mereka sudah terlihat akrab, saling membatu satu sama lain. Misalnya mengantar Rara ke pasar untuk berbelanja stok makanan di rumah dan pergi ke kamapus bersama-bersama.
Rara juga sering membantu Radit mengerjakan tugas kuliahnya, sebab Radit tidak pernah pokus dalam kuliah, ia lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temanya.
Rara melakukan semua itu bukan dengan cuma-cuma, ia selalu meminta imbalan kepada Radit, misalnya meminta Radit untuk nonton bioskop atau mentlaktir nya makanan.
Dan terkadang Raka pun selalu ikut menghabiskan waktu di rumah bersama Rara dan Radit dengan menonton film bersama, ataupun menonton pertandingan sepak bola, mereka bertiga tampak akrab dan juga kompak seperti kakak beradik, Rara bagaikan putri bungsu di rumah tersebut, tapi Rata tidak pernah melupakan tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
"Ra... bantuin gue nyuci mobil yuk" Ajak Radit. karna hari ini hari Minggu jadi Radit memutuskan untuk mencuci mobilnya di rumah.
"Ogah ah... gue udah mandi, nanti baju gue basah " Tolak Rara. Ia ingin bersantai karna ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Ayo dong Ra... biar cepet, soalnya nanti sore gue mau hang out sama temen-temen gue"
"Lagian lo juga kan sering nebeng mobil ini Mulu tiap hari" bujuk Radit.
Rara merasa tersindir dengan ucapan Radit
"Ya udah... tapi nanti beliin ice cream ya"
__ADS_1
"Perhitungan banget si Lo Ra jadi orang"protes Radit.
"Protes Mulu, mau gue bantuin apa nggak nih..." Ancam Rara.
"Yaudah ia... nanti gue beliin ice cream" Akhirnya Rara dan Radit pun bergotong royong mencuci mobil bersama-sama.
Ketika Radit dan Rara tengah asik mencuci mobil, Dokter Diana dan Raka pun keluar menghampiri mereka.
"Wah... lagi ada yang nyuci mobil nih"
"Sekalian ya Dit punya Mami juga" ledek Dokter Diana.
"Ia Dit sekalian mobil Kaka juga ya" Raka juga ikut menggoda Radit.
"Ogah... cuci aja sendiri"
"Lagian duit kalian kan banyak, bawa aja ke tempat steam" cicit Radit.
"Beneran nih gak mau"
"Nggak" jawab Radit singkat.
"Palingan cuman makan-makan di restoran"
"Ya udah kalau gak mau"
"Padahal tadinya Mami sama kakak kamu mau ajak kamu dan Rara liburan ke Paris" Ucap Dokter Diana pura-pura sedih karna tidak jadi jalan-jalan.
"Seriusan Mami mau ngajak kita jalan-jalan ke Paris" Tanya Radit tak percaya.
"Ia... memangnya kapan Mami pernah bohong"
"Kenapa Mami gak bilang dari tadi sih..."
"Ayo Ra... kita cuci mobil Mami sama Kakak sampai kinclong" Ucap Radit tampak bersemangat, begitupun dengan Rara.
__ADS_1
"Rara juga beneran dia ajak Bu..." tanya Rara tak percaya.
"Ia Ra... sama kakak kamu juga" jawab Dokter Diana lagi.
"Yeeeyyyyy " Rara berjingkrak senang.
"Makasih banyak Bu... makasih banyak..."
"Faris I,m coming....." Teriak Radit. Dokter Diana dan Raka sangat senang melihat Rara dan Radit tampak bahagia, mereka berdua mentertawakan tingkah lucu Radit dan Rara yang seperti anak kecil mendapatkan permen.
******
Walaupun berhasil menyingkirkan Maya dari kehidupannya , tapi pernikahan Bella dan juga Alvian tidak pernah terlihat harmonis, sebab pikiran Alvian masih selalu di bayang-bayangi dengan kenangannya bersama Maya, Alvian juga sering membanding-bandingkan Bella dengan Maya, dan hal itu selalu memicu pertengkaran hebat di antara mereka.
Alvian membanding-bandingkan Bella dan Maya bukanlah tanpa sebab, melainkan sifat dan kebiasaan buruk Bella semakin menjadi-jadi. Bella terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri sehingga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Bukan hanya itu, Bella juga sudah berani membawa pacar nya ke rumah, di saat Alvian sedang bekerja. apalagi saat ini asisten rumah tangga mereka sudah mengundurkan diri, karna tidak kuat dengan sikap Bella yang selalu semena-mena, tidak seperti Maya yang selalu ramah kepada pembantu, dan tidak pernah terlalu mengandalkan pembantu.
Setelah selesai pemotret, Bella mengajak kekasihnya untuk pulang ke rumahnya, lebih tepatnya rumah Alvian. Kebetulan saat itu masih siang, jadi ia bisa leluasa menghabiskan waktu berduaan di rumah bersama pria itu.
Bella langsung membawa kekasihnya itu ke dalam kamar, kamar dirinya dengan suaminya.
Tanpa merasa berdosa sedikitpun, mereka berdua menjadikan kamar tersebut tempat untuk bercu*bu, memadu kasih dengan penuh gai*ah, mengisi kamar tersebut dengan suara des*ahan-des*ahan manja, di sertai dengan kucuran keringat yang membasahi tubuh keduanya, hingga mereka berdua terkapar lemas tak berdaya.
Hal tersebut sudah berulang-ulang kali mereka lakukan tanpa di ketahui oleh Alvian.
Pernah suatu hari Alvian mendapati istrinya bersama laki-laki lain berada di rumahnya hanya berdua saja, tapi Bella berhasil meyakinkan Alvian bahwa mereka berada di sana hanya sebatas berdiskusi tentang pekerjaan saja. Dan Alvian pun percaya begitu saja tanpa merasa curiga sedikitpun, mungkin karna ketidak pedulian nya terhadap Bella membuat Alvian tidak terlalu memikirkan akan hal itu, ia memang tampak acuh tak acuh terhadap Bella, ia tak terlalu menghiraukan apa yang Bella lakukan.
Tapi kali ini sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepada Bella, sebab siang ini Alvian tiba-tiba saja pulang ke rumahnya untuk mengambil berkas yang ketinggalan.
Awalnya Alvian tampak biasa-biasa saja saat melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya, sebab ia sudah tau bahwa mobil tersebut merupakan mobil milik rekan kerja Bella yang waktu itu pernah datang ke rumahnya, ia juga berpikir bahwa Bela dan rekan kerjanya itu tengah berdiskusi tentang pekerjaan mereka.
Namun ketika ia masuk kedalam rumah, Alvian tampak heran karna tidak melihat keberadaan Bella dan juga rekan kerjanya itu di ruang tamu, tapi Alvian masih tetap berpikiran positif thinking, mungkin istrinya itu sedang berada di ruang keluarga yang berada di lantai atas.
Tanpa rasa curiga sedikitpun Alvian pun naik ke lantai atas, namun ia mendengar suara istrinya dan pria tersebut tengah berbincang sambil tertawa, tapi asal suara tersebut bukan dari ruang keluarga, melainkan dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Ia mencoba mendekat ke arah kamar nya secara diam-diam, untuk melihat apa yang tengah di lakukan oleh istrinya dan juga rekan kerjanya itu di dalam kamarnya. Dan kebetulan pintu kamar tersebut sedikit terbuka, sepertinya Bella lupa tidak menutup pintunya rapat-rapat.