
Lima tahun kemudian
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi kebanyakan orang pada umumnya, tetapi tidak bagi Alvian, baginya waktu tersebut terlalu singkat untuk menata kehidupannya yang baru , apalagi tidak ada Maya di sisinya, hal itu membuat hari-harinya terasa semakin berat.
Perginya Maya dari kehidupannya membuat kehidupan Alvian berantakan, seperti kehilangan semangat dalam hidupnya. Tidak seperti Alvian yang dulu, Alvian yang selalu berambisi menjadi pengusaha yang hebat yang bertekad untuk memperluas jaringan bisnisnya.
Sangat berbeda dengan Alvian yang sekarang, yang tidak mempunyai tujuan hidup, bahkan ia sering tidak Fokus dalam bekerja, sehingga ia sering mendapatkan komplain dari beberapa Client. selain itu ia selalu mengabaikan pekerjaan yang di berikan oleh Papinya, sehingga Papinya sendiri yang harus turun tangan. mungkin semua itu merupakan bentuk protes atas apa yang telah dilakukan Papinya kepada Maya dan membuat rumah tangganya hancur. semenjak saat itu Alvian tidak pernah mau mendengarkan ucapan Papinya lagi.
Begitupun dengan Farel, semenjak kejadian waktu itu, ia semakin tak bisa di atur, tak pernah mau mendengarkan ucapan Papi ataupun kakaknya, tak pernah betah berada di rumah, bahkan ia tidak pernah fokus dengan kuliahnya sehingga ia di DO dari kampusnya.
Apalagi ia sudah benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk kembali lagi dengan Rara, sebab dulu ia sempat pernah bertemu dengan Rara, dan meminta maaf kepadanya, tapi Rara sama sekali tidak mau memaafkannya, ia sudah benar-benar benci kepada Farel, Rara bukan tipe orang yang mudah memaafkan begitu saja seperti Maya, ia tipikal wanita yang keras kepala, menjunjung tinggi harga dirinya, sekali ia di kecewakan, selamanya ia akan membenci orang tersebut, apalagi jika sudah menyangkut dengan keluarganya.
Hubungan Alvian dan keluarganya menjadi terpecah belah, tak ada kehangatan sama sekali di dalam keluarga mereka, Alvian dan Farel seperti kehilangan respect kepada Papinya sendiri, atas perbuatannya selama ini, yang selalu bersikap angkuh dan selalu memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya.
Semua hal itu berbanding terbalik dengan kehidupan Maya dan Rara, mereka semua sudah berhasil melewati masa-masa sulitnya, dan bangkit dari keterpurukan.
Maya sudah berhasil meraih impiannya sejak dulu. Ia sudah menjadi seorang Dokter yang hebat, yang sudah tidak di ragukan lagi kemampuannya, bahkan namanya sudah banyak di kenal di kalangan para Dokter, tak sedikit dari mereka yang kagum dengan kemampuannya, padahal ia masih terbilang muda.
Kini namanya sudah di kenal oleh banyak orang, sebab selain cantik dan juga ramah, Maya juga sangat rendah hati, ia selalu menolong orang-orang yang tidak mampu dengan memberikan pengobatan gratis kepada mereka.
Sama hal nya dengan Rara, kini ia sudah menjadi wanita karir yang sukses, ia bekerja di sebuah perusahaan besar, ia menjabat sebagai Direktur, dan gaji yang ia terima sangatlah tinggi, apalagi ia selalu berhasil mendapatkan tender yang besar, dan tentunya ia mendapatkan bonus yang tak kalah besar.
Meskipun saat ini mereka sudah menjadi wanita yang hebat, tapi Maya dan Rara tak lantas membuat mereka menjadi orang yang sombong, dan meninggalkan orang yang sudah sangat berjasa kepada mereka.
Sampai saat ini Maya masih tinggal di panti asuhan dan merawat anak-anak, membagi waktu dengan tugasnya di rumah sakit. begitupun dengan Rara yang masih tinggal di rumah Dokter Diana, mengerjakan semua pekerjaan rumah, sebelum ia berangkat ke kantor. Walaupun sebenarnya Dokter Diana tidak pernah meminta mereka melakukan hal itu, Dokter Diana tidak pernah keberatan jika mereka ingin meninggalkan rumahnya dan tinggal di rumahnya sendiri, tapi Maya dan Rara tidak mau melakukan hal itu, mereka sudah merasa nyaman berada di tempat tersebut, apalagi Maya yang merasa berat Jika harus meninggalkan anak-anak panti, terutama alma, bayi yang ia besar kan sejak kecil dan ia jaga sepenuh hati dengan kasih sayang yang tulus, yang kini sudah tumbuh besar dan menjadi anak yang sangat lucu, pintar dan menggemaskan.
Jauh sebelum itu, Rara dan Maya juga sudah memberitahu ibu mereka tentang perceraian Maya dan Alvian, mereka memberitahu ibu nya dengan sangat hati-hati, agar Ibunya tidak Shock, mereka tidak mau merahasiakan hal tersebut lebih lama lagi, sebab lambat laut kebohongan pasti akan terbongkar.
Walaupun Ibunya cukup terkejut dan tidak percaya, tapi tidak sampai mempengaruhi kesehatannya, perlahan Ibunya bisa mengerti dan menerima kenyataan itu.
****
__ADS_1
Ketika Alvian tengah berada di kantor, tiba-tiba ia mendapatkan telpon dari asisten rumah tangganya."Ada apa bi..." tanya Alvian heran, karna tidak biasanya asisten rumah tangganya itu menghubunginya.
"Mas... cepetan pulang Mas... bapak pingsan, kepeleset di kamar mandi" ucap bibi panik.
Akhir-akhir ini p6api Alvian dan Farel memang sering sakit-sakitan, dan mengeluhkan kepala pusing, mungkin karna selama ini ia terlalu banyak pikiran, stres memikirkan pekerjaanya, dan memikirkan kedua anaknya yang menjadi pemberontak.
"Apa ? Papi pingsan"
"Trus sekarang bapak di mana" ucap Alvian cemas.
"Sekarang bibi sedang di perjalanan ke rumah sakit, tadi bibi langsung telpon ambulan" jelas Bibi.
"Ya sudah kalau gitu nanti bibi share lock alamat rumah sakitnya"
"Saya langsung berangkat ke sana sekarang"
"Nanti saya juga akan kabarin farel" Alvian segera bergegas meninggalkan kantor nya.
Sambil mengemudikan mobilnya, Alvian juga mencoba menghubungi Farel menggunakan earphone.
"Kamu dimana sekarang El"
"Cepetan ke rumah sakit sekarang" ucap Alvian tanpa basa basi.
"Gue lagi di rumah temen"
"Ngapain gue harus ke rumah sakit" jawab Farel lagi.
"Papi pingsan, kepeleset di kamar mandi"
"Sekarang bibi lagi bawa Papi ke rumah sakit"
__ADS_1
"Kita ketemuan di sana"
"Nanti kakak share lock alamat rumah sakitnya"jelas Alvian.
"Ia Bang... gue kesana sekarang" Walaupun mereka masih kesal kepada Papinya, tapi mereka sangat panik mendengar Papinya jatuh sakit, karna walau bagaimanapun dia tetaplah orang tua mereka satu-satunya, yang mereka punya saat ini.
Sesampainya di rumah sakit, Alvian dan Farel langsung pergi mencari ruangan papi mereka.
Kebetulan saat itu, ada Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Papi.
"Dok... gimana keadaan Papi saya" Tanya Alvian dan Farel cemas.
"Tuan Bahar mengalami struk, karna tensi darah nya sangat tinggi"
" sebelah tangan dan kakinya mengalami kelumpuhan"
"Dan bibir nya pun sulit untuk bicara"
"Sepertinya beliau mengalami stres yang berlebihan" jelas Dokter.
"Dok tolong sembuhkan Papi saya"
"Saya akan bayar berapapun biayanya" ucap Alvian lagi.
.
"Ia pak... kami akan berusaha semaksimal mungkin"
"Tapi kalian juga harus memberikan semangat kepada pasien, agar pasien semangat untuk sembuh, jangan memberikan beliau beban pikiran yang terlalu berat" pesan Dokter tersebut.
"Baik Dok..."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" pamit Dokter.
.