CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
episode 88


__ADS_3

Pak Joko dan juga bu Marni memutuskan untuk membawa Alma pulang ke rumah mereka. mereka mengganti pakaian Alma yang basah kuyup dan mengobati lukanya dengan dedaunan yang di percaya akan cepat mengeringkan luka. mereka juga memeriksa tas punggung Alma untuk mencari tahu identitas Alma, tapi mereka tidak menemukan petunjuk yang berarti, di dalam nya hanya ada satu stel pakaian.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Alma pun siuman.


"Nak... kamu sudah siuman"Tanya Bu Marni yang tampak lega melihat Alma membuka matanya, tapi Alma tampak kebingungan melihat pak Joko dan Bu Marni.


Bu Marni membantu Alma untuk duduk dengan perlahan, tampaknya Alma masih merasa Kepalanya sakit, sebab ia terus memegangi kepalanya dan meringis.


"Pelan-pelan nak"


"Nak... nama kamu siapa, kenapa kamu bisa terjatuh ke bawah jurang, orang tua kamu dimana" Tanya bu Marni.


"Mana aku..... nama aku..." Jawab Alma bingung, tampak nya ia lupa dengan dirinya sendiri.


"Coba di ingat pelan-pelan nak... mungkin kamu masih pusing, nanti setelah kamu membaik, ibu akan mengantarkan kamu kerumah orang tua kamu, kamu tau gak alamat rumah kamu"tanya nya lagi.


"Rumah... ?" jawab Alma bingung.


"Aku gak tau bu... aku juga gak ingat siapa nama aku" jawab Alma lemas.


"Coba kamu ingat-ingat lagi pelan -pelan siapa nama kamu " ucap Pak joko mulai khawatir.


"Nama aku.... aww... kepala aku sakit " Alma meringis kesakitan.


"Ya sudah nak jangan di paksakan dulu, sebaiknya kamu sekarang makan dulu, biar gak lemes" ucap Pak joko lagi.


"Pak bagaimana ini pak... sepertinya dia hilang ingatan, dia gak inget sama namanya sendiri, bagaimana kita mengantarkan nya pulang " Tanya bu Marni bingung.


"Ia bu bapak juga bingung, apalagi kita gak punya uang buat bawa dia ke Rumah sakit, biayanya pasti mahal" Pak joko hanya seorang petani yang penghasilannya pas-pasan

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita lapor polisi aja bu..." ucap pak Joko lagi.


"Jangan pak... nanti malah kita yang di tangkap, ibu takut jika polisi mengira bahwa kita yang menculik anak itu, apalagi anak itu tidak ingat apa-apa" jawab Bu Marni.


"Ibu bener juga, lalu kita harus bagaimana "


"Bagaimana kalau kita membiarkan anak itu tinggal di sini untuk sementara waktu, sampai dia bisa mengingat lagi, lagi pula kita kan juga gak punya anak Pak. Kalau dia tinggal di sini rumah ini gak akan sepi lagi, kita gak akan kesepian lagi, mungkin ini semua jawaban dari Allah atas doa-doa kita selama ini" ucap.Bu Marni


"Ia bu... Bapak setuju sama ibu"


Mereka berdua kembali lagi ke kamar untuk menemui Alma dan berbicara kepadanya.


"Nak... untuk sementara waktu kamu tinggal di sini dulu ya sama ibu sama bapak, Sampai ingatan kamu pulih, setelah itu Bapak sama ibu pasti akan mengantarkan kamu ke rumah orang tua kamu" Alma yang masih lemas dan bingung hanya dapat mengangguk.


"Untuk sementara, kami akan memanggil kamu putri, kamu gak keberatan kan" Lagi-lagi Alma mengangguk, ia masih lemas untuk berbicara.


***


Semenjak Alma menghilang, Maya selalu murung, ia hanya berdiam diri di kamar sembari memandangi Foto Alma, bahkan ia sudah tidak mempunyai selera makan, sehingga Alvian harus bersusah payah untuk membujuknya makan, tapi Maya hanya mampu menghabiskan satu sampai dua suap makanan saja, rasanya ia begitu sulit untuk menelan makanan.


"Mas... kenapa nasib kita seperti ini, di saat kita sudah mengetahui anak kita masih hidup, tapi dia justru menghilang. Aku sangat merindukannya mas, aku ingin memeluk nya" Ucap Maya sedih.


"Kamu sabar dulu ya sayang.. anak kita pasti akan segera di temukan. Sebaiknya sekarang kamu makan dulu ya sayang" Alvian berusaha menenangkan istrinya.


"Gimana aku bisa makan mas kalau anak kita belum di temukan, bagaimana kalau dia kelaparan dan kedinginan, dia pasti sekarang sedang ketakutan. Bagaimana kalau di bertemu dengan orang jahat dan......" Maya memikirkan hal buruk yang bisa saja menimpa Putrinya.


"Sayang.... kamu gak boleh berbicara seperti itu, kamu harus yakin kalau anak kita baik-baik saja, lebih baik sekarang kita shalat dan berdoa kepada Allah agar anak kita di lindungi dari segala macam bahaya dan segera di temukan" Alvian mengajak Maya untuk shalat bersama.


Karna khawatir dengan keadaan Maya, akhirnya Alvian meminta Rara untuk tinggal di rumahnya, untuk menemani kakaknya dan menghiburnya.

__ADS_1


Setelah mendengar hal tersebut akhirnya Rara pun mengikuti ucapan Alvian untuk pindah ke rumah Alvian, karna ia juga sangat khawatir dengan kakak nya. Dengan berat hati ia pun berpamitan kepada Dokter Diana Raka dan juga radit untuk meninggalkan rumah tersebut, rumah yang sudah bertahun-tahun ia tinggali, rumah yang mempunyai banyak kenangan indah untuk nya, meninggalkan orang-orang yang selalu memperlakukan nya dengan baik, mungkin memang audah saatnya ia pergi.


Dokter Diana dan kedua anaknya pun dengan berat hati harus merelakan Rara pergi, wanita yang sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri, yang pasti akan mereka rindukan karna merasa kehilangan, rumah tersebut pasti akan terasa sepi tanpa canda tawa Rara.


"Ra lo serius mau pegi dari sini" tanya Radit saat ia hendak mengantarkan Rara ke mobil, setelah sebelumnya berpamitan terlebih dahulu kepada Dokter Diana dan juga Raka dengan penuh haru, Saat itu Rara di jemput oleh sopir pribadi Alvian dengan mobil mewahnya.


"Ia Dit... makasih ya atas kebaikan lo selama ini, kalian udah memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk gue, maaf kalo selama ini gue selalu ngerepotin lo, dan bikin lo kesel"


"Gak sama sekali Ra, justru gue yang selalu bikin lo kesel, gue selalu minta lo buat bikinin sarapan, gue pasti bakalan kangen sama masakan lo" tSi antara mereka bertiga Radit lah yang akan paling merasa kehilangan, sebab mereka berdua sangat dekat, walaupun selalu di warnai dengan perdebatan.


"Lo jangan khawatir Dit... gue pasti akan sering-sering maen kesini dan bawain makanan kesukaan lo"


"Beneran ya... lo bakal sering-sering maen kesini bawain gua makanan. ya... walaupun makanan nya suka keasinan" ledek Radit.


"Masa Sih... tapi kok Lo makan nya lahap banget ya, malah gak pernah nyisa sedikit pun" Rara tidak terima dengan ucapan Radit.


"Ya itu karena gue gak mau bikin lo tersinggung kalo gua gak abisin masakan lo" Jawab Radit


"Oh gitu... ya udah gue gak mau lagi masakin buat lo" ucap Rara kesal.


"Nggak nggak ra... gue becanda. Masakan lo enak kok, enak banget malah" Radit meralat kembali ucapannya.


"Nah gitu dong... biar gue jadi semangat buat masak lagi"


"Yaudah gua pamit dulu ya... kasian supir nya udah lama nunggu "


"Sekali lagi makasih ya dit..." tiba-tiba saja Rara memeluk radit cukup lama. Hal itu membuat perasaan Radit menjadi semakin sulit untuk melepaskan Rara pergi.


"Sampai ketemu laginya Dit..." ucap Rara sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Tunggu Ra... ada sesuatu yang mau gue bicarain sama lo" Radit menggenggam tangan Rara untuk mencegahnya pergi.


__ADS_2