
Farel menyuapi Maya dengan sangat telaten, ia terlihat sangat menyayangi Maya dengan tulus, terlihat dari cara dia memperlakukan Maya dengan sangat lembut, bahkan ia tidak mau meninggalkan Maya sedikitpun, padahal kelas kedua sudah di mulai tapi Farel lebih memilih menemani Maya di UKS, ia justru meminta Della dan Mita untuk kembali ke kelas mereka.
"Udah El... aku udah kenyang" Tolak Maya saat Farel hendak menyuapinya lagi.
"Tapi kamu baru makan sedikit May..." bujuk Farel memaksa Maya untuk makan lagi.
"Nggak, aku gak mau" ucap Maya menggelengkan kepalanya seraya menutup mulutnya.
"Ya sudah satu suap lagi ya, abis itu aku akan mengantar kamu pulang" Akhirnya Maya pun terpaksa membuka mulutnya lagi.
Saat ini wajah Maya sudah tampak jauh lebih segar, hanya saja memar di kening nya belum tampak memudar sama sekali, namun rasa nyeri di kepala nya sudah mulai berkurang.
"El... sebaiknya kamu kembali ke kelas, aku bisa pulang sendiri, aku udah baikan kok" ucap Maya saat mereka berdua keluar dari UKS.
"Gak May.... aku gak mungkin ngebiarin kamu pulang sendiri" ucap Farel seraya memapah tubuh Maya.
"Aku beneran udah gak apa-apa El... kamu juga gak perlu memperlakukan aku seperti ini, aku bisa jalan sendiri"
"Kamu masih lemes May, aku gak mau nanti kamu jatoh lagi, emang salah ya kalo aku merhatiin pacar aku sendiri" ucap Farel tampak masih sangat Khawatir.
"Bukan gitu El... aku gak enak di liatin sama orang-orang"
"Udah biarin aja May... kita gak usah peduliin mereka, mereka cuman sirik sama kita" jawab Farel tanpa menghiraukan orang lain, berbeda dengan Maya, kedekatan nya dengan Farel pasti akan menimbulkan pergunjingan lagi.
"El... udah ya sampe sini aja nganterinnya, kamu jangan ikut masuk, aku gak enak sama kakak kamu kalo kita berduaan di rumahnya di saat dia tidak ada di rumah" ucap Maya saat mereka baru saja sampai di depan rumah.
"Kamu yakin gak apa-apa di rumah sendirian" ucap Farel cemas.
"Gak apa-apa El... aku udah baikan kok, kamu gak usah khawatirin aku ya" ucap Maya meyakinkan Farel.
"Ya sudah kalau gitu, aku pulang dulu ya, kamu langsung istirahat " ucap Farel seraya mencium kening Maya dengan lembut.
Bukan Maya namanya kalau hanya berdiam diri saja di rumah, walaupun tubuhnya masih terasa lemas tapi ia tetap mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk memasak untuk Alvian, sebagai penebus kesalahannya tadi pagi karena ia tidak sempat membuat sarapan untuk majikannya itu.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore, Maya baru saja selesai menyajikan makanan di meja makan, karna sebentar lagi majikannya akan segera pulang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bel berbunyi, Maya segera membukakan pintu rumah tersebut.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan" ucap Maya setelah membuka pintu.
"Selamat sore May..."jawab Alvian sambil masuk ke dalam rumah dengan membawa tas kerjanya.
"Biar saya yang bawakan tas nya tuan" Maya hendak mengambil tas kerja Alvian dari tangannya.
"Tidak usah May... biar saya saja yang membawanya"
"Oia Maya dahi kamu kenapa memar gitu" Alvian baru menyadari jika dahi Maya terluka.
"Oh ini" ucap Maya sambil meraba dahinya.
"Tadi aku pingsan di kamar mandi, kayanya kepala aku terbentur tembok" jelas Maya.
"Pingsan... kenapa.kamu bisa pingsan May, kamu sakit?" ucap Alvian khawatir.
"Nggak tuan saya baik-baik aja, tadi badan saya cuman lemes aja mungkin karna tadi pagi gak sempet sarapan" jelas Maya lagi.
"Ya ampun May... kok kamu bisa sih melewatkan sarapan, tadi kan saya sudah mengingatkan kamu untuk sarapan dulu"
"Ia tuan... tadi waktunya mepet banget jadi saya gak keburu untuk sarapan"
"Ia tuan lain kali saya gak akan seperti itu lagi."
"Oia tuan, barusan saya sudah selesai memasak, apa tuan mau makan sekarang"
"Kamu ini gimana sih May... udah tau keadaan kamu lagi kaya gini, tapi kamu masih sempet-sempet nya masak buat saya, seharusnya kamu istirahat saja di kamar kamu" bukannya menjawab, Alvian malah mengomeli Maya.
"Tapi saya gak enak tuan, tadi pagi saya gak sempet masak, masa sekarang saya gak masak juga"
"Kan saya udah pernah bilang sama kamu, kamu gak perlu terlalu memaksakan diri untuk bekerja. sekarang kamu istirahat dulu, setelah itu kita makan sama-sama, kamu juga pasti belum makan kan" ucap Alvian lagi.
Seperti apa yang di katakan Alvian tadi, Setelah beristirahat beberapa saat, Alvian mengajak Maya untuk makan malam bersama, Awalnya Maya menolak namun, Alvian berhasil membujuk Maya.
"Gimana Dahi kamu May... apa masih sakit" Tanya Alvian saat tengah menikmati makanannya.
"Tidak tuan... sekarang sudah tidak terlalu sakit "
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, nanti saya akan memberikan kamu salep"
Makan malam mereka pun berlangsung dengan tenang, sesekali mereka bercerita satu sama lain tentang kegiatan mereka tadi siang.
Setelah selesai makan malam, Alvian langsung duduk di ruang keluarga untuk menonton pertandingan bola di televisi, ia sudah bersiap menunggu pertandingan tersebut di mulai.
"May sini May, temenin saya nonton sepakbola " ucap Alvian saat Maya lewat.
"Memangnya sudah di mulai tuan, saya kira masih lama"
"Belum May, sebentar lagi, memangnya kamu suka bola juga May" tanya Alvian penasaran.
"Ia tuan... saya sering nonton sama adek laki-laki saya di rumah."
"Bagus lah kalo gitu, saya jadi ada temennya, tadinya temen saya mau ke sini, tapi gak jadi karna ada acara mendadak" jelas Alvian.
"Kalo gitu saya ambilkan cemilan dulu ya, buat nemenin kita nonton" Ucap Maya tampak antusias.
"Ia May... tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu di mulai"
Akhirnya Maya dan Alvian menonton pertandingan sepak bola bersama-sama, mereka sangat khusuk menonton acara tersebut, tak jarang mereka berteriak dan mengumpat karna terbawa emosi.
"Goooooool" teriak Alvian dan Maya saat jagoan mereka membobol gawang, tanpa mereka sadari, mereka saling memeluk satu sama lain, saking senangnya.
Malam itu mereka benar-benar tertawa lepas, berteriak sesuka hati mereka, bersorak dan bertepuk tangan, seolah permasalahan hidup mereka hilang seketika, seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka, mereka berdua seperti teman dekat, bahkan bisa di bilang seperti sepasang kekasih yang tengah berbahagia.
Alvian dan Maya tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa hubungan mereka akan kembali membaik, bahkan lebih baik dari yang mereka bayangkan sebelumnya, tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam benak Maya, jika seorang pembantu dan seorang majikan bisa sedekat ini dan se akrab ini, ia benar-benar beruntung mendapatkan majikan seperti Alvian.
"Oia May luka di dahi kamu harus di olesin salep dulu, biar cepet sembuh" ucap Alvian setelah pertandingan sepakbola selesai.
"Oh ia Tuan .. nanti saya pake salep nya di kamar sebelum tidur"
"Sini saya bantu olesin, biar lebih merata, soalnya kalo pake sendiri suka gak rata pake nya, kalo salep kaya gini hari tipis-tipis pakenya" jelas Alvian.
"Tapi tuan..."
"Udah gak apa-apa May... kamu tahan sedikit ya, soalnya pasti sedikit perih" ucap Alvian sambil mendekat dan mulai mengolesi dahi Maya dengan salep tersebut dengan perlahan-lahan.
__ADS_1
"Awww" Maya Tampak meringis kesakitan.
"Perih ya May, tahan sebentar ya, bentar lagi selesai" ucap Alvian yang tengah pokus mengobati luka di dahi Maya, sambil meniupi dahi Maya dengan sangat lembut, agar mengurangi rasa sakitnya, tanpa terasa wajah mereka semakin dekat, bahkan bibir Alvian sedikit lagi menyentuh dahi Maya.