CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN

CINTA TERLARANG DENGAN SANG MAJIKAN
Episode 68


__ADS_3

Hari ini Maya kembali melakukan aktifitas nya seperti biasa, memeriksa para pasien yang selalu banyak setiap harinya.


Setelah selesai praktek, ia melanjutkan tugasnya dengan melakukan visit kepada pasien rawat inap, memeriksa perkembangan kesehatan mereka satu persatu.


Dan terakhir ia melakukan kunjungan ke ruangan Papi Alvian.


Ketika masuk ke dalam ruangan tersebut, ada Alvian yang sedang menjaga Papinya, namun raut wajah Alvian tidak seperti biasanya, ia tampak dingin dan acuh melihat kedatangan Maya. Maya pun menyadari akan hal itu, namun ia lebih memilih untuk tidak menghiraukannya dan bersikap profesional.


"Selamat siang pak... gimana keadaan anda sekarang" tanya Maya ramah.


"Si_ang D_dok"


"Sa_ya su_dah me_ra_sa le_bih ba_ik se_ka_rang" jawab Papi Alvian yang saat ini sudah mulai bisa berbicara walaupun masih terbata-bata.


"Syukurlah kalau begitu, tapi anda harus tetap minum obat yang teratur dan jangan memikirkan hal lain dulu ya, fokus saja dengan kesehatan anda, anda harus tetap semangat untuk sembuh"


"Saya juga akan meminta suster untuk melakukan terapi untuk anda" ucap nya kemudian.


"Ba-ik Dok" jawab Papi Alvian patuh.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu" pamit Maya setelah memeriksa keadaan Papi alvian, namun ketika hendak pergi, Papi Alvian meraih tangan Maya dengan sebelah tangannya yang masih bisa di gerakan.


"Te_ri_ma_ka_sih Dok...."


"Sa_ya min_ta ma_af a_tas per_bu_atan sa_ya"


"Sa_ya me_nye_sal" ucap Papi Alvian.


"Saya sudah melupakan kejadian itu"


"Tanpa Anda minta pun saya sudah memaafkan anda jauh sebelum Anda minta maaf" ucap Maya seraya menepuk-nepuk punggung tangan Papi Alvian sambil tersenyum.


Alvian masih tetap dengan mode diamnya, sampai Maya selesai melakukan pemeriksaan pun Alvian sama sekali tidak menyapa Maya, ia malah pura-pura sibuk dengan laptopnya, tak menghiraukan keberadaan Maya sama sekali.


ketika Maya selesai visit, ia memutuskan untuk kembali ke ruangan nya, namun beberapa saat kemudian datang seorang perempuan yang merupakan perawatan baru di rumah sakit tersebut.


Namun perawat tersebut tampak terkejut saat melihat wajah Maya.


"Maaf Dok... saya perawat baru di rumah sakit ini, saya di tugaskan untuk menjadi pendamping Dokter"


"Perkenalkan nama saya Nina" ucap Nina mengulurkan tangannya kepada Maya.


"Dokter Maya" ucap Maya seraya menjabat tangan Nina.


"Semoga kamu betah ya dengan tempat kerja kamu yang baru." ucap Maya ramah. namun Nina seperti tak menyimak ucapan Maya.


"Wanita ini kan... orang yang anaknya aku buang ke panti asuhan waktu itu" Gumam suster Nina dama hati.


"Kenapa aku harus ketemu sama dia di sini"

__ADS_1


"Sus... kok malah bengong" ucapan Maya membuyarkan lamunan Nina.


"Ng-nggak Dok..."


"Saya tadi cuma lagi mikirin sesuatu" Jawab Nina bohong.


"Tapi kok aku kaya pernah ketemu kamu Sebelumnya"


"Tapi di mana ya" Maya seperti mengingat sesuatu.


"Mungkin cuma perasaan Dokter saja" ucap Nina berusaha mengalihkan pikiran Maya.


Semenjak kejadian waktu itu, Nina langsung berhenti bekerja di rumah sakit tempatnya bekerja waktu itu, agar tidak ada yang mencurigainya, sebab ia takut perbuatan nya akan di ketahui oleh orang lain


Dan sekarang ia memutuskan untuk bekerja kembali, tapi siapa sangka, ia bertemu dengan Maya di sini, wanita yang telah ia pisahkan dari anaknya.


"Dok ini data-data pasien hari ini" Nina memberikan beberapa berkas kepada Maya


"Makasih Sus..." ucap Maya langsung mengambilnya dan memeriksa berkas tersebut.


"Oia sus... kamu sudah menikah tau masih gadis" tanya Maya di sela-sela memeriksa berkas-berkasnya.


"Saya sudah menikah Dok..."


"Tapi wajah kamu kelihatan masih gadis ya"


"Kamu sudah punya anak berapa"


Dulu uang yang ia dapatkan dari Bella, ia gunakan untuk menikah dengan lelaki yang ia cintai, dan ia juga gunakan uang tersebut untuk biaya sehari-hari, tapi sekarang uang nya sudah habis, dan Suaminya pun sekarang sudah menjadi seorang pengangguran karna di pecat dari pekerjaannya, maka dari itu ia memutuskan untuk bekerja kembali seperti dulu, untuk menghidupi kehidupannya sehari-hari.


"Mungkin belum saatnya Sus..."


"Nanti kalau waktunya sudah tiba, kamu juga pasti bakalan punya anak"


"Ia Dok..."


"Kalau boleh tau Dokter sudah punya anak berapa" Nina mencoba mengorek kehidupan Maya.


Wajah Maya tiba-tiba murung mendengar pertanyaan itu, ia langsung menyimpan berkas nya.


"Dulu saya sempat melahirkan satu orang anak, tapi... anak saya meninggal" jawab Maya lirih.


"Bahkan saya belum sempat melihat wajah anak saya sama sekali"


"Maaf ya Dok... saya gak bermaksud membuat Dokter sedih" Ucap Nina merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Sus..."


"Saya sudah mengikhlaskan semuanya" "mungkin ini memang yang terbaik untuk saya"

__ADS_1


"Sebab kalau anak saya ada pun dia pasti akan sedih menyaksikan orangtuanya berpisah"


"kami pasti akan memperebutkan hak asuh anak kami". jelas Maya.


"Jadi Dokter Maya sudah bercerai" tanya Nina penasaran.


"Ia Nin... Saya dan mantan suami saya bercerai karna suatu keadaan" jelas Maya.


Setelah mendengar semua cerita Maya, membuat Nina merasa kasihan dan sekaligus merasa bersalah, ia tidak menyangka jika kehidupan Maya akan sedramatis itu. Maya harus mengalami hal yang menyakitkan, di tinggalkan oleh anak sekaligus suaminya sendiri. Hal itu terjadi karna keserakahannya terhadap uang, hingga ia menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang.


Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Maya.


***


Saat tengah menjaga Papi nya di rumah sakit, tiba-tiba Alvian mendapatkan telpon dari sekertaris nya, bahwa ia harus segera datang ke kantor karna ada Client penting yang menunggunya di kantor.


Ia tampak tergesa-gesa saat meninggalkan rumah sakit, bahkan ia tidak sempat menunggu farel yang masih di perjalanan menuju rumah sakit, untuk bergantian menjaga Papinya. hingga akhirnya ia menitipkan papinya kepada suster.


Namun di tengah perjalanan menuju kantor, Alvian hampir menabrak seorang anak kecil yang tengah mengambil bola di pinggir jalan, untung saja saat itu mobil Alvian masih bisa menghindar, hingga ia tidak sampai menabrak anak kecil itu.


Alvian segera turun dari dalam mobil untuk melihat keadaan anak tersebut.


"Nak... kamu gak apa-apa" tanya Alvian saat menghampiri anak tersebut, anak itu tampak shock dan matanya berkaca-kaca.


"Ng_ngak om..." wajah anak itu yang sudah hampir menangis.


"Beneran kamu gak apa-apa"


"Ada yang luka gak" Anak itu menjawab pertanyaan Alvian dengan menggelengkan kepalanya.


"Maafin om ya, tadi om gak liat kalau ada kamu"


"Kamu kenapa main di jalan nak..." Alvian juga terlihat masih shock, takut terjadi sesuatu kepada anak itu.


"A_ku tadi mau ambil bola Om..."


"Soalnya bola nya menggelinding ke sini"jelas anak itu


"Tapi lain kali kamu harus hati-hati ya"


"Soalnya banyak kendaraan yang lalu lalang di sini"


"Oia nama kamu siapa nak"


"Rumah kamu yang mana" Tanya Alvian, ia ingin mengantarkan anak ini kepada orangtuanya.


"Nama aku Alma om..."


"Aku tinggal di panti asuhan ini" jelas Alma.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu... ayo om antar kamu ke dalam" Alvian menggendong Alma untuk mengantarkan nya ke panti asuhan, sebab Alma terlihat masih lemas


__ADS_2