
Akhirnya, setelah mengambil surat pemecatan dari ruang HRD, kedua laki-laki tampan itu, segera keluar dari area gedung perkantoran itu.
"terus gue kerja apa ini?"tanya Justi mendesah pelan. Seraya pandangannya, menatap nanar ke arah surat pemecatan yang baru saja diberikan oleh bagian HRD.
"nanti kita berjuang sama-sama, loe tahu kan bahwa takdir Tuhan itu tidak pernah salah?"tanya Arman mencoba menguatkan sahabatnya itu.
"iya Man, gue tahu. tapi masalahnya, gue ada tanggungan. yaitu, menghidupi wanita yang paling berharga di hidup gue,"ucap Justin dengan raut wajah yang masih murung.
"bukan cuma loe yang mempunyai beban, gue juga harus ngebiayain adik gue yang masih sekolah."ucap Arman Seraya menatap nanar ke arah belakang tubuhnya.
"atau kalau nggak, gue aja yang keluar loe nggak usah."Arman berbalik badan hendak menuju ke ruang HRD.
Namun, dengan segera, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari Justin. "nggak usah Man, lebih baik gue cari kerjaan di tempat lain aja. percuman juga gue di sini, pasti gue juga akan mendapatkan siksaan batin dari Gavin."
Mereka akhirnya, memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"loe mau ke mana Man?"tanya Justin saat mereka sama-sama memasang helm ke kepala masing-masing.
"mau mengecek keadaan Elia,"ujar Arman Seraya mulai melajukan motornya. Dan akhirnya, Justin pun memutuskan untuk mengikuti sahabatnya itu.
Kedua lelaki tampan itu, akhirnya berkendara dengan beriringan. dengan kecepatan sedang. karena memang, hari masih lah siang. jadi kendaraan belum lah terlalu padat.
****
__ADS_1
Sementara itu, di lain tempat, terlihat Elia tengah terduduk lesu di ruang tamu. "aku harus mencari pekerjaan yang lain,"ujarnya Seraya beranjak dari duduk.
Dengan perlahan, gadis cantik itu melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah sederhana itu.
Ceklek
Tepat di saat Elia membuka pintu, gadis cantik itu melihat dua orang berhenti tepat di depan rumah. membuat gadis cantik itu, seketika terdiam.
"kak Arman, kak Justin, kok kalian udah pulang? bukannya jam pulang kantor adalah jam 05.00 ya? " ujar tanya Elia dengan serentetan pertanyaan. saat kedua laki-laki tampan itu, baru saja membuka helm masing-masing.
Sontak saja pertanyaan dari Elia itu membuat Arman dan Justin seketika saling pandang. kemudian, tersenyum ke arah gadis cantik itu.
"eh, ditanya kok malah ketawa?"tanya Elia yang memanyungkan bibirnya karena merasa sebal.
Elia yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera, melaksanakan perintah dari Arman. tak lama berselang, Elia datang dengan 3 gelas yang berisi teh manis.
"silakan diminum,"ujar Elia Seraya duduk di seberang dua laki-laki itu.
Justin dan Arman yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala dan langsung menyambar minuman hangat itu.
Setelah dirasa cukup tenang, kedua lelaki tampan itu segera menceritakan semuanya pada Elia membuat gadis cantik itu, seketika membuka mulutnya. karena merasa sangat terkejut bercampur rasa bersalah.
"maafkan aku kak, seharusnya kalian berdua nggak usah nolongin aku. kalau gitu, aku pergi. aku nggak mau,...."ucapan Elia menggantung di udara saat mendengar perkataan dari Arman.
__ADS_1
"nggak Elia, ini bukan salah kamu kok. Gavin aja yang masih kekanak-kanakan. dia itu cemburu tidak jelas "
"iya Elia, udah nggak usah dipikirin. kita juga sudah merasa tidak nyaman kok, lebih baik keluar daripada bekerja dengan orang yang membuat kita tidak nyaman,"ucap Justin menimpali.
"tapi kalian mau kerja apa?"tanya Elia dengan raut wajah sedih bercampur bingung. karena, keadaan kedua lelaki itu menjadi pengangguran, tak lepas dari campur tangannya.
Andai saja mereka tidak membantunya, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi.
"sudahlah, enggak usah dipikirin. nanti kita cari kerja bareng-bareng,"ucap Justin penuh dengan semangat.
Membuat Elia dan juga Arman yang mendengarnya seketika tersenyum tipis. "gimana kalau kita buat usaha kecil-kecilan aja?"ucap Arman memberikan usul.
"boleh juga tuh, nanti aku akan mencoba membuat sesuatu hal yang beda."sahut Elia penuh dengan semangat.
Ucapan dari Elia itu, mendapat anggukan dari kedua laki-laki itu.
******
Sementara itu di tempat yang lain, terlihat seorang laki-laki tengah mengamuk seperti orang yang tidak waras.
"aarrrrggghh! Sialan!"makinya dengan wajah merah padam menahan amarah.
"berani kalian mengganggu dia, nasib kalian akan hancur!"ujar orang itu yang tak lain adalah Gavin. dengan tangan terkepal hebat karena menahan amarah yang luar biasa.
__ADS_1
Gavin merasa, apa yang ia miliki saat ini, tidak boleh disentuh oleh orang lain. dan pastinya, Gavin akan membuat orang-orang yang mengusik barang miliknya, akan bernasib sengsara.