
hari ini, tepat sudah satu minggu Elia berada di rumah sakit. dan pagi ini pula, Wanita itu sudah diperbolehkan pulang. Namun, Gavin belum berani untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Elia. tentang kondisi yang dialami.
Walaupun tanpa diketahui oleh Gavin, Wanita itu sudah melihat dan sudah mendengar semuanya dari mertuanya.
Sakit?
Tentu saja itu sangat menyakitkan. Karena, bagi kaum hawa, dapat memberikan keturunan pada suami itu adalah suatu prestasi yang sangat Cemerlang. dan kini, semua angan-angan itu seketika lenyap. saat melihat diagnosa dokter dan juga penjelasan dari ibu mertuanya.
" kok diam aja, kenapa, kamu masih nggak enak badan?" tanya Gavin Seraya mengusap Bunda Elia dengan perasaan sedikit cemas.
Karena sedari tadi, Elia hanya terdiam Soraya sesekali menyeka air matanya yang hampir saja jatuh. mendengar pertanyaan dari Gavin, Elia dengan segera menggelengkan kepala.
" Enggak kok mas, aku nggak kenapa-napa. aku hanya terharu. Karena sekarang, aku sudah diperbolehkan pulang." bohong Elia.
Gavin yang mendengar itu, tak langsung mempercayai ucapan sang istri. Sejenak, laki-laki itu menatap dan memperhatikan gestur dan mimik wajah dari gadis yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" kamu nggak lagi bohongin Mas, kan?" tanya Gavin dengan tatapan mata yang menyelidik. Seakan, ingin mencari kebohongan yang berada di dalam mata itu.
Secepat mungkin, Elia segera menggelengkan kepala." aku nggak papa kok. Beneran deh." ucapnya Seraya mengangkat kedua tangan dan dua jari.
Gavin yang mendengar itu, hanya menyunggingkan senyuman tipis. dengan segera, menggenggam tangan istrinya. dan dengan segera, berjalan keluar dari ruangan.
" hari ini, Coba kita periksa ke dokter mata. yang kebetulan, rumah sakitnya tidak jauh dari rumah sakit ini." Gavin berkata dengan menelankan langkah kakinya.
membuat Elia seketika terdiam. dan hampir 5 menit, wanita itu menimbang-nimbang Langkah apa yang akan diambil setelah mendengar ucapan dari mertuanya.
Begitulah ucapan dari Hesti. sesaat, setelah Elia membuka mata., tentu saja, hal itu membuat Elia yang mendengarnya, merasa sangat Terpukul.
"hmm, Baiklah kalau begitu. Aku akan berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Lagi pula, dari awal hubungan ini kan, dilandasi sebuah rasa kasihan. jadi tidak ada masalah kan, kalau mereka harus berpisah? toh tidak ada rasa di antara mereka. pikir Elia.
Sementara Gavin yang melihat istrinya tampak terdiam dan murung, semakin merasa kebingungan. Karena memang dirinya tidak mengerti kode-kode yang diperlihatkan oleh seorang wanita.
__ADS_1
" Elia, Kau ini kenapa?" tanya Kevin Seraya menggenggam Tangan Mungil istrinya. Namun, jawabannya pun tetap sama. Gadis itu, menggelengkan kepalanya. pertanda, tidak ada yang ingin Ia katakan. Gavin yang melihat itu, tidak bisa berbuat apa-apa. yang dirinya lakukan, hanya terdiam. Sampai Nanti, wanita itu sendiri yang akan berbicara terhadapnya.
*****
" Gavin, mama mau bicara bertiga sama Papah kamu." ucap Hesti saat mereka sudah berada di dalam rumah.
Gavin yang mendengar itu, menganggukkan kepala." Iya Mah. tapi, aku antarkan Elia dulu ke kamar." ucapnya Seraya melangkahkan kaki untuk segera menuju ke kamar.
" sekarang, kamu istirahat ya," ujar Gavin Seraya merebahkan tubuh istrinya untuk berbaring diranjang untuk miliknya.
Elia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan setelahnya, mulai memejamkan mata. Sementara Gavin yang melihat itu, segera melangkahkan kaki untuk menuju pintu kamar.
selepas kepergian Gavin, Elia kembali membuka matanya. Dirinya, berbaring Seraya membelakangi pintu. Pikirannya, seakan melayang kemana-mana. Ada rasa Bimbang yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.
" Apakah Aku siap jika harus berbagi, Apa nasib hidupku akan terus seperti ini, berbagi dan selalu berbagi?" gumamnya Seraya berlinang air mata.
__ADS_1
Entahlah. Mengapa, dunia seperti tidak adil dan tidak ingin mengizinkannya bahagia. entah apa kesalahannya. hingga Tuhan menghukumnya seperti ini.