Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 112


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, keluarga Harsono semakin kelimpungan. terlebih lagi ratu di rumah itu yang tak lain adalah Hesti. wanita paruh baya itu semakin merasa frustasi. karena sampai sekarang, belum menemukan Di mana keberadaan Monalisa dan juga ibunya.


Tentu saja, hal itu membuat


Gavin dan juga Ivan menjadi keteteran sendiri. padahal kedua laki-laki berbeda generasi itu, telah memberikan nasehat dan juga saran pada wanita paruh baya itu, untuk mengikhlaskan semuanya.


Toh, jika itu memang rezeki mereka sertifikat itu akan kembali ke tangan pemilik aslinya.


Tapi alih-alih mendengarkan, Hesti malah melayangkan tatapan tajam terhadap putra dan suaminya itu.


"enak aja, Mama merintis dan membangun rumah ini dengan hasil kerja keras orang tua ya, sembarangan saja kalau ngomong!"ucap wanita paruh baya itu Seraya melangkahkan kakinya untuk segera pergi entah ke mana.


"sabar ya Gavin, sebaiknya kamu temui Elia,"ucap Ivan Seraya menepuk pundak putra tunggalnya itu.


Gavin segera menganggukkan kepala. karena laki-laki tampan itu, mengerti apa yang dimaksud oleh sang ayah.


"baiklah kalau begitu, Gavin pergi dulu,"ujar laki-laki tampan itu Seraya melangkahkan kakinya untuk menuju garasi untuk mengambil kendaraan pribadinya.


*****


"Elia, apakah kau masih bersikeras untuk tidak memaafkan ibumu?"tanya Arman dan Justin yang saat ini tengah duduk di samping gadis cantik itu.


Membuat Elia yang mendengar itu seketika menetap ke arah dua laki-laki tampan itu. "entahlah, rasanya masih sakit sekali."ujar gadis itu seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


"tidak masalah, jangan dipaksakan jika tidak berkenan di hatimu,"ujar Arman Soraya menepuk bahu gadis itu.


Tentu saja ucapan dari laki-laki gondrong itu, membuat Justin yang melihat dan mendengarnya, menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"kalau gitu aku mau ke dalam dulu Kak?"pacar Elia beranjak dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam kafe itu.


"lu suka ya sama dia?" tanya Justin to the point. karena laki-laki cengengesan itu, tidak pernah melihat sahabatnya selembut itu saat memperlakukan seorang wanita.


"mungkin,"ucap Arman tak acuh. dan dengan segera, berjalan mengikuti langkah Elia untuk membantu gadis cantik itu bersiap-siap untuk membuka Cafe.


"tapi kan dia milik Gavin? lu nggak takut tuh orang marah-marah lagi?"tanya Justin mencoba untuk mengingatkan sahabatnya itu.


Arman yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu, seketika menghentikan langkahnya dan langsung menatap Justin dengan tatapan yang tajam.


Dan tanpa disadari oleh siapapun, ternyata ucapan dari Arman itu, telah didengar oleh Gavin. laki-laki tampan itu awalnya ingin menghampiri Elia untuk mengajaknya menyelidiki dan menemukan Di mana letak keberadaan ibu tiri dan juga kakak tirinya.


Namun betapa kagetnya laki-laki tampan itu saat mendengar ucapan dari dua laki-laki yang pernah akrab dan dekat dengannya.


"aku akan mencoba untuk mendapatkan hati Elia kembali,"gumam laki-laki tampan itu masih dengan tekadnya yang kuat. kemudian, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kafe itu.


Tentu saja tindakan dari laki-laki tampan itu, membuat Justin dan juga Arman yang se dari tadi berdebat, seketika menghentikan kegiatan mereka dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Justin yang melihat itu, seketika membulatkan mata. sementara Arman, laki-laki gondrong itu menatap Gavin dengan tatapan datarnya.


"di mana Elia?"tanya Gavin tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"ada apa mencariku?"tanya Elia Seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Gavin yang melihat itu, seketika tersenyum kecil. dan langsung melangkahkan kakinya menghampiri wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.


"aku ingin bicara,"ujar Gavin saraya menarik tangan gadis kecil itu.


"mau bicara apa?"tanya Elia yang mencoba menepis tangan kekar milik Gavin.


Tentu saja pemandangan itu, membuat dua laki-laki yang sedari tadi berada di sana, seketika mengulum senyum.


"kita butuh waktu berdua,"ujar Gavin Soraya mencoba meraih tangan gadis itu kembali.


"kita bisa bicara di sini, lagi pula dua orang yang hampir saja bercerai, tidak baik untuk berdua saja."ucapnya dengan nada datar dan juga dingin.


Mendengar ucapan dari Elia, membuat Gavin seketika Manghela nafas panjang. "baik kalau begitu, aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk mencari keberadaan Monalisa dan ibunya."ujar laki-laki tampan itu Seraya menatap Elia dengan tatapan yang sangat serius.


Mendengar nama kakak tiri dan juga ibu tirinya disebut, membuat Elia seketika terdiam. dan setelah beberapa lama, akhirnya Elia mengangguk setuju.


"baik, besok kita akan cari mereka. nanti malam aku akan ke rumah papa untuk mencari suatu informasi. siapa tahu saja ada petunjuk."ujar Elia yang akhirnya menyanggupi permintaan dari laki-laki itu.


Setelah itu, Gavin memutuskan untuk segera kembali ke kantor. dan Elia pun kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.


"kamu yakin akan membantunya?"tanya Arman yang langsung menghampiri gadis itu. rasanya, laki-laki berambut gondrong itu merasa tidak terima jika Elia masih berdekatan dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Namun, dirinya menyadari bahwa tidak memiliki hak sama sekali untuk melarang Elia. karena memang mereka bukan siapa-siapa.


__ADS_2