Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 77


__ADS_3

Sepulang dari restoran, semua wajah yang ada di dalam mobil menjadi lesu dan murung. terutama Elia. Karena Wanita itu, baru saja diserang mentalnya berkali-kali. dan lebih parahnya lagi, yang nyerang itu adalah keluarganya sendiri.


Memang, ternyata benar apa kata pepatah. bahwa musuh terbesar itu bukanlah orang lain. Melainkan, adalah orang terdekat kita. atau bisa dibilang, keluarga sendiri.


Elia seketika memejamkan mata. Saat mengingat semua perkataan yang dilontarkan oleh Monalisa. tiba-tiba saja, wanita itu merasakan tangannya digenggam oleh seseorang.


Namun, dirinya enggan untuk membuka mata. toh percuma juga, dirinya masih belum bisa melihat. Rencananya, jadwal operasi itu akan dilakukan beberapa minggu ke depan. Karena Elia, dan Gavin, telah berkonsultasi dengan dokter ahli mata di kota itu.


" jangan pernah berpikir yang aneh-aneh. Anggap saja, ucapan Monalisa itu adalah angin lalu." bisik Gavin tepat di telinga Elia.


Membuat wanita cantik itu, menganggukkan kepala. Kemudian, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. memang, akhir-akhir ini, Elia seringkali bertingkah manja terhadap Gavin sang suami.


Tentu saja, hal itu membuat Gavin merasa sangat bahagia. Karena ternyata dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Mendapatkan, wanita yang tulus dan apa adanya Mencintainya. Tidak tersilaukan dengan harta yang ia miliki.

__ADS_1


Sementara itu di kursi depan, Hesti menatap sinis ke arah Elia melalui kata yang ada di tengah-tengah mereka.


" Nikmati saja kebahagiaanmu yang sesaat ini. Sebelum aku akan merenggut semuanya." ujarnya penuh dengan ancaman.


****


Sesampainya di rumah, mereka semua segera masuk ke dalam kamar masing-masing. Karena memang, waktu sudah larut malam. Karena keluarga Harsono, pergi ke restoran tepat pukul tujuh malam. dan sekarang, sudah hampir pukul 11.00 malam.


" Gavin, besok kamu kerja atau tidak?" tanya Hesti saat mereka akan berpamitan masuk ke kamar masing-masing.


" besok, Mama mau ngajak Elia untuk ke butik mama. Jadi, besok istrimu itu tidak usah bekerja." ucap Hesti Soraya tersenyum kecil.


Mendengar ucapan dari ibunya, membuat Gavin terdiam sejenak. laki-laki itu, sepertinya sedang mencerna semua kejadian yang terjadi di hari ini.

__ADS_1


" apa kedatangan Mona tadi, itu rencana mama kan?" tiba-tiba saja, Gavin bertanya demikian kepada ibunya.


tentu saja hal itu membuat Hesti yang mendengarnya, seketika terperanjat kaget." kamu nuduh mama?" tanya Hesti dengan raut wajah sedih dan mata berkaca-kaca." kamu memang benar-benar keterlaluan. memang dulu Mama sangat membenci Elia. tapi sekarang, Mama itu sudah berubah." ucap wanita itu langsung berlari ke arah kamar.


Sementara Kevin yang melihat itu, tertegun di tempatnya. laki-laki itu, sepertinya juga merasa kebingungan. Mengapa bisa menuduh ibunya sampai segitunya. Padahal, dulu Gavin adalah sosok laki-laki yang sangat penurut dan penakut apalagi jika berhadapan dengan ibunya. Tapi, Lihatlah sekarang. laki-laki Itu tampak seperti seorang anak yang durhaka kepada ibunya.


" Maaf Pah, Aku nggak bermaksud untuk menuduh nama seperti itu. hanya saja, firasat mengatakan kalau ini memang pekerjaan mama." ucap Gavin melirik ke arah Ivan.


Sementara itu, Ivan yang mendengar itu, hanya dapat menghela nafas panjang. Memang, yang dilakukan putranya itu beralasan. Karena, tidak mungkin terjadi kecurigaan jika tidak ada sebabnya.


Karena memang, perubahan Hesti itu sangatlah mendadak dan mencolok seperti langit dan bumi. malam seperti Devil, pagi seperti Dewa.


Akhirnya, Gavin mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar. karena memang, hari sudah semakin larut malam.

__ADS_1


" sebenarnya, mas tidak perlu mengatakan hal seperti itu. jangan sampai, membuat hati seorang ibu menjadi sakit seperti ini. Karena itu bisa membuat doa seorang ibu menjadi terkabul." ucap Elia bijak.


Gavin yang mendengarnya, tentu saja menjadi sangat terharu. dengan pemikiran istrinya itu. Walaupun, usianya masih terbilang sangat mudah, namun tidak dengan pemikirannya. sangatlah bijak. Gavin saja, hampir tidak percaya jika yang ada di hadapannya ini, adalah gadis berusia 18 tahun.


__ADS_2