
Beberapa hari setelahnya, setelah insiden itu, Gavin dan Elia marah semakin renggang. tentu saja hal itu membuat Hesti, tersenyum penuh kemenangan.
Karena akhirnya, wanita paruh baya itu bisa menyingkirkan Elia di dalam hati putranya." akhirnya, semua akan berjalan mulus sesuai Rencanaku." ujarnya tersenyum miring.
Kemudian, dengan segera Hesti berjalan menghampiri putranya yang masih berkutat dengan masalah kantor.
" sayang, besok kamu akan menikah dengan Monalisa, Apa kau sudah siap?" tanya Hesti pada putranya itu.
Gavin yang mendengar itu, menganggukkan kepala." aku sudah siap Mah. aku ikut sama Mama saja." ucapnya Seraya kembali menatap ke arah laptop yang ada di hadapannya itu.
Di saat mereka Tengah berbincang-bincang, tiba-tiba saja, Elia dan Ivan masuk ke dalam ruangan itu. membuat Hesti yang melihatnya, seketika mendengus kesal.
" untuk apa Papa membawa orang lain masuk ke sini?" tanya Hesti penuh dengan sindiran.
Ivan yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah orang yang dimaksud oleh istrinya itu." dia masih menantu kita mah, jaga bicaramu." tegur laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari suaminya, membuat testi memutar bola mata malas." Terserah Papa saja, mama capek mau istirahat." ucapnya Seraya beranjak dari duduk.
Elia memperhatikan itu semua dengan senyuman kecut yang tersungging di bibirnya." sabar Elia, yang kau lakukan hanyalah berjuang sekali lagi. jika masih tidak diinginkan, kau harus rela melepaskan cinta yang bersifat semu itu." ucapnya dalam hati. menguatkan dirinya sendiri.
Ivan juga ikut menatap kepergian istrinya itu dengan perasaan yang berkecamuk." andai saja Papa bisa bersikap sedikit tegas kepada Mamamu, semuanya pasti tidak akan seperti ini." ujar laki-laki paruh baya itu untuk sedikit menenangkan menantunya itu.
Memang, Ivan sudah menganggap Elia seperti putrinya sendiri. bukan lagi seperti menantunya. dan Hal itu membuat Elia, merasa sangat terharu. karena pada akhirnya, di dunia yang kejam ini, dirinya masih menemukan orang yang sangat tulus menyayanginya tanpa pamrih.
" ingat Vin, penyesalan itu datangnya di akhir cerita. maka dari itu, pikirkan baik-baik sebelum hari penyesalan itu terjadi. karena semuanya tidak akan ada gunanya jika penyesalan itu telah menghampirimu." ucap Ivan Seraya beranjak dari duduknya.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Gavin sama sekali tidak memperdulikan keberadaan istrinya yang masih berada di sampingmu itu.
" Mas memerlukan sesuatu?" tanya Elia yang berdiri tepat di samping Davin.
" tidak perlu," ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
__ADS_1
Elia mulai menggigit Bibir bawahnya karena mendengar ucapan dari suaminya. yang semakin lama, semakin tampak dingin dan kaku.
" please lah Mas, izinkan aku untuk mengabdi kepadamu sebagai istri yang baik. sebelum aku menyerah dan tidak akan pernah kembali lagi." gumamnya dengan nada yang sangat Lirih.
Sontak saja, Gavin menatap Elia dengan Tatapan yang sulit diartikan." Apa kau akan menyerah?" tanya laki-laki itu.
" mungkin," ujar Elia dengan masih menunjukkan kepala.
Gavin yang mendengar itu, segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Elia yang masih berdiam diri di tempatnya. Sebenarnya, laki-laki Tampan itu masih memiliki rasa terhadap istri kecilnya itu. Namun, semua itu tertutupi karena ego yang masih terlalu tinggi.
Apalagi, situasi saat ini, dirinya sering mendapatkan hasutan hasutan kecil dari sang ibu. dan Ditambah lagi dengan bukti yang ia dapat dari ibunya.
" Aku ingin kopi yang tidak terlalu manis." ucapnya Seraya kembali duduk di kursi kebesarannya itu.
Elia yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala. dan dengan segera, Elia melangkahkan kaki menuju ke arah dapur untuk membuat pesanan suaminya itu.
__ADS_1
" Kau pasti bisa Elia, Ayo berjuang. jika perjuanganmu tidak dihargai, Barulah kau harus pergi Sejauh Mungkin." Elia berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah selesai membuatkan kopi untuk suaminya, Elia kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.