Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 67


__ADS_3

Sementara itu di dalam ruangan rawat, tampak Elia dan Gavin, Tengah terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Setelah hampir 15 menit saling diam, akhirnya Elia memutuskan untuk membuka suara.


" Mas Gavin, Aku ingin bicara." ucap gadis itu Seraya mengangkat wajahnya menghadap ke arah laki-laki itu.


Tentu saja, Hal itu membuat Gavin seketika menoleh ke arah istri kecilnya itu. dan dengan segera, menatap Elia yang sesekali tampak gelisah. Kemudian kedua tangannya terangkat dan menangkup kedua wajah wanita itu.


" Ada apa Elia, Kamu mau bicara apa?" tanya Gavin Soraya menggenggam jemari lentik istrinya itu yang terasa sangat berkeringat itu.


" jika Mas Gavin ingin mencari wanita lain lagi untuk dijadikan istri, Aku ikhlas kok. lagi pula, aku,.." belum sempat, Elia melanjutkan ucapannya, tangan Gavin, sudah terlebih dulu bertengger di bibir wanita itu.

__ADS_1


"sssttt, kau ini bicara apa sih, tidak ada yang ingin menikah lagi. prinsipku adalah, jika sudah menemukan pendamping hidup, maka aku akan menjaganya sampai akhir hayatku." ucapnya. dan dengan segera, laki-laki itu memeluk tubuh mungil Elia.


Hampir 10 menit mereka berpelukan seperti itu. hingga terdengar, suara ketukan dari arah luar kamar rawat ini. Segera, Elia melepaskan pelukannya. walaupun mereka sudah menjadi suami istri, tetap saja malu jika ada orang lain yang melihat kegiatan mereka itu.


Karena menurut Elia, hal-hal seperti ini termasuk dalam hal-hal intim. Walaupun, hanya berpelukan dan mengelus kepala. itu semua menurut Elia, tidak pantas dipertontonkan oleh orang banyak. cukup mereka dan Tuhan saja yang tahu.


Setelah dokter selesai memeriksa Elia, keadaan dalam ruangan itu, kembali sunyi. karena baik Elia maupun Gavin, sama-sama terdiam di tempatnya masing-masing.


Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, kembali menutup pintu kamar rawat itu. Kemudian, kembali menghampiri Elia.

__ADS_1


Walaupun tanpa sepengetahuannya, Elia mendengar samar-samar ucapan dari dokter itu. Tentu saja hal itu membuat Elia merasa sangat Terpukul dan hancur. Karena menurutnya, kesempurnaan seorang wanita adalah saat mereka memiliki keturunan. dan kini, dirinya sendiri akan sulit mendapatkan itu.


" Kok nangis, ada apa?" tanya Gavin dengan ekspresi wajah kebingungan. Sementara Elia yang mendapat pertanyaan itu, menggelengkan kepala Seraya kembali berbaring di tempat tidur.


Sementara Gavin yang melihat itu, hanya dapat menghembuskan nafasnya kasar. Karena laki-laki itu bingung dan Bimbang. Bagaimana cara untuk memberitahu tentang kenyataan ini pada istrinya itu.


" apa yang harus aku lakukan Tuhan?" tanya laki-laki itu Seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Kevin harus sesegera mungkin mencari solusi. tidak mungkin kan, dirinya menyembunyikan semua ini dari Elia, karena serapat-rapatnya seseorang menutupi bangkai, pasti baunya akan kecium juga.


Akhirnya Gavin memutuskan untuk memejamkan mata. Karena memang hari Sudahlah sangat larut. dan itu, mengharuskan dirinya untuk beristirahat.

__ADS_1


*****


Pagi harinya, Hesti dan Ivan kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak dan menantunya. ralat, memang Ivan ingin melihat kondisi anak dan menantunya. Namun, tidak dengan Hesti. wanita paruh baya itu hanya ingin melihat keadaan Putra tercintanya. dan akan mencoba untuk mempengaruhi laki-laki itu. Agar Gavin mau menuruti keinginannya.


__ADS_2