
Sesampainya di restoran yang diinginkan oleh Hesti, mereka semua segera masuk ke dalam restoran itu. dan dengan segera, wanita paruh baya itu menggandeng tangan menantunya. Menuntun, agar Gadis itu lekas duduk di kursi Meja Bundar, yang memang sudah dipersiapkan oleh wanita itu.
Melihat hal itu, sontak saja Ivan dan juga Gavin, ketika Saling pandang. dengan raut wajah yang berbeda-beda. jika Ivan bereaksi dengan wajah berbinar-binar, itu tidak berlaku untuk Gavin. Karena laki-laki itu, malah merasa aneh dengan ibunya. yang menurutnya, sangatlah berlebihan.
" Semoga saja tidak," gumam laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya menghampiri ibu dan istrinya.
" ayo semua, pesan, pesan apa saja yang kalian mau." ucap Hesti dengan wajah berbinar-binar.
Gavin yang mendengar itu, untuk sesaat terdiam. laki-laki Tampan itu mencoba meneliti lebih dalam ekspresi yang ditunjukkan oleh ibunya. Karena, dirinya benar-benar tidak nyaman dengan sikap Hesti yang dirasa cukup berlebihan.
Tak berapa lama, akhirnya seorang pelayan restoran datang menghampiri keluarga itu dengan membawa makanan yang telah mereka pesan.
" Silakan dinikmati, Tuan, nyonya." ucap pelayan itu Seraya tersenyum tipis. mereka semua menganggukan kepala. dan setelah itu, mulai menyantap makanan yang telah mereka pesan. ralat lebih tepatnya, dipesan oleh Hesti. Entah mengapa, wanita paruh baya itu, memesankan banyak sekali makanan.
Namun Saat ditanya, alasannya cukup simple dan masuk akal." *Elia Harus makan yang bergizi. jangan sampai, anak menantu Mama ini kekurangan gizi. apalagi, dia ini dalam masa-masa subur."
Begitulah kira-kira ucapan dari* wanita paruh baya itu. tentu saja hal itu membuat Ivan, sang suami, merasa begitu senang. karena mengira, jika istrinya itu sudah berubah total.
__ADS_1
Tidak tahukah mereka, jika wanita paruh baya itu Tengah merencanakan sesuatu hal yang besar, setelah selesai, menyantap makanan, Hesti berpamitan kepada semua orang yang ada di sana untuk pergi ke kamar mandi.
" Ya sudah kalau begitu, Mama mau ke belakang dulu, kebelet." ujarnya Seraya terkekeh pelan. Seraya bangkit dari kursi yang sedari tadi ia duduki.
Setelah kepergian dari sang ibu, Gavin mendekati sang papa." Pah ini yang aneh banget tau nggak, masa iya, Mama berubah secepat ini? dan sekarang, Kevin malah merasa tidak tenang." ucap laki-laki itu dengan raut wajah yang sangat serius.
Memang, kekhawatiran Gavin itu ada alasan yang kuat. Yaitu, perubahan ibunya yang begitu drastis dan mendadak. Mana mungkin, seseorang dapat berubah hanya dalam hitungan jam. Seperti tidak masuk akal.
Elia yang mendengar itu, mencoba untuk menenangkan suaminya. gadis itu segera berdiri dari duduknya. Namun, tiba-tiba saja,
Brugh
" Elia!" seru Gavin dan Ivan secara bersamaan. Kemudian, pasangan ayah dan anak itu segera membantu Elia untuk berdiri kembali.
" kamu nggak papa, Apanya yang sakit?" tanya Gavin dengan raut wajah yang sangat panik.
Sementara yang ditanya, hanya tersenyum kecil. mendengar nada kekhawatiran dari suaminya itu. membuatnya sedikit bahagia. Karena, ternyata Gavin memang sudah memiliki rasa terhadap dirinya.
__ADS_1
" aku tidak apa-apa. Tenanglah," ujarnya Seraya masih mengulas senyum kecil di bibirnya.
Kemudian, laki-laki itu membantu Elia untuk duduk di tempatnya semua. Setelahnya, melayangkan tatapan tajam, ke arah orang yang baru saja menabrak istrinya itu.
" Hai Nona, apakah kau tidak memiliki mata, sehingga menabrak istriku!" ucapnya setengah membentak.
"haish, istri tidak berguna saja kau bangga-banggakan! cuih," orang itu meludah di samping Gavin. Seakan, seperti baru saja melihat sebuah kotoran.
" jaga bicaramu nona, Untunglah. anakku tidak jadi menikah denganmu. Ternyata kau memang minim etika." ucap Ivan Seraya melayangkan tatapan tajam ke arah gadis yang ada di hadapannya itu.
Yap. dia adalah Monalisa. tentu kedatangannya kemarin tidak semerta-merta hanya karena kebetulan. Melainkan, karena undangan dari si pemilik keluarga itu. siapa lagi jika bukan Hesti.
Wanita paruh baya itu, sengaja Mengundang Monalisa untuk Datang kemari dan mempermalukan Elia di depan umum. ya semuanya sudah direncanakan dengan rapi.
" bagaimana, apa semua sudah sesuai rencana?" tanya Hesti saat mereka bertemu di toilet restoran itu.
" Semua beres tante, Aku akan terus menyerang mentalnya. agar dia sendiri yang menyerah." ucap Monalisa Seraya tersenyum jahat.
__ADS_1
Hesti yang mendengarnya, juga ikut tersenyum licik." Bagus kalau begitu. tante juga akan mempengaruhi Gavin dengan kondisi istri tak bergunanya itu." ucap Hesti dengan ekspresi wajah datar.