Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 96


__ADS_3

Selepas kepergian Arman, Elia segera melanjutkan perjalanannya untuk menuju ke alamat yang diberikan oleh laki-laki itu.


Elia merasa sangat terharu karena dari sekian banyak orang jahat yang telah menyakitinya, ternyata masih ada orang baik yang dikirim Tuhan untuk menolongnya.


Dengan langkah sedikit riang, Elia menyusuri jalanan itu Seraya sesekali matanya menatap ke sekeliling. Memastikan, apakah ada kendaraan yang lewat atau tidak.


Senyumnya seketika mengembang saat di depan sana, terlihat ada sebuah pangkalan tukang ojek. dengan segera, langkahnya pun dipercepat.


"maaf Pak, bisa antarkan saya?"tanya Elia dengan sopan.


"bisa neng, mau diantarkan ke mana?"tanya pak tukang ojek itu.


Dengan segera Elia menyerahkan selembar kertas di tangannya itu. Dan dengan segera, diterima oleh si tukang ojek.


"ayo naik neng, ini tidak jauh kok dari sini."ucap laki-laki itu Seraya menyerahkan helm.


Elia menganggukkan kepala dan langsung menaiki motor tukang ojek itu. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua sesekali berbincang-bincang. hanya untuk melepas penat di antara mereka.


Tak terasa, akhirnya motor itu sampai juga di sebuah rumah kecil yang sepertinya sangatlah nyaman.


"ini rumahnya."ucap si tukang ojek itu. Elia menganggukkan kepala dan segera turun dari motor itu.


"terima kasih Pak, ini uangnya,"ucap Elia Seraya menyerahkan selembar uang berwarna biru.


Setelahnya, Elia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah itu. saat si tukang ojek itu, sudah tak terlihat di hadapannya.


"ini rumahnya?"tanya Elia seorang diri. gadis itu maju mundur di depan rumah sederhana itu.


Elia ingin sekali masuk ke dalam rumah itu. namun, gadis cantik itu juga merasa takut jika sampai salah masuk rumah.

__ADS_1


"oh iya, kenapa aku tadi nggak minta nomor kak Arman aja sih?"ujar Elia Seraya menepuk keningnya sendiri karena merasa bodoh dengan diri sendiri.


Akhirnya, Elia memutuskan untuk berdiam diri di depan rumah sederhana itu. tak apalah dia menunggu jam 05.00 nanti. yang pasti, saat ini dirinya sudah tidak merasa kepanasan lagi.


"neng, ngapain Di sini?"Elia tersentak kaget. saat mendengar, suara seseorang dari belakang tubuhnya.


"eh, Bu lagi menunggu seseorang."jawab Elia tersenyum canggung.


"menunggu siapa? rumahnya Arman kok," ucap ibu itu dengan tatapan penuh selidik.


"oh jadi ini benar rumahnya kak Arman? " gumam Elia pelan. namun masih terdengar oleh ibu-ibu paruh baya itu.


"Memangnya neng siapa?"tanya si ibu dengan raut wajah yang masih menunjukkan ketidaksukaan.


"saya Elia Bu, saya disuruh oleh kak Arman untuk menempati rumahnya,"ucap Elia memasang wajah sedikit takut.


Seketika itu pula, wajah si ibu segera berubah menjadi sedikit sumringah."Oalah nak Elia toh, kukira tadi siapa soalnya gerak-geriknya mencurigakan."ujar ibu itu Seraya menarik tangan Elia untuk masuk ke dalam rumah.


Elia yang mendengar itu, juga ikut tersenyum. karena di sini, bukan hanya ibu itu yang bersalah. tapi dirinya juga ikut merasa bersalah.


"nggak papa Bu, saya juga merasa bersalah kok,"ucap Elia tersenyum simpul.


Bu Ema segera membawa Elia masuk ke dalam rumah sederhana itu dan segera menunjukkan letak di mana kamarnya berada.


Menurut Bu Ema, rumah milik Arman ini, sudah hampir satu tahun tidak digunakan. karena menurut Arman, rumah ini terlalu kecil. dan akhirnya, Arman memutuskan untuk pindah.


"atas nama siapa ya Bu kalau boleh tahu?" tanya Elia penasaran.


"oh ini katanya atas nama,--"Bu Ema menggantungkan ucapannya dan dengan segera, meraih sebuah berkas yang ada di atas lemari.

__ADS_1


"atas nama Elia Tiara Dewi."ujar ibu itu dengan raut wajah sedikit sumringah.


Degh


Jantung Elia seakan ingin lepas dari tempatnya saat mendengar penuturan dari wanita paruh baya itu.


"ibu nggak salah membaca, kan?"tanya Elia dengan raut wajah tak percaya.


"tidaklah ibu mah masih bisa melihat dengan jelas. nggak mungkin, ibu salah baca."ujarnya Seraya tersenyum manis.


Elia yang mendengar itu, terdiam seribu bahasa. bahkan, gadis cantik itu, tetap diam saat ibu Ema pamit keluar dari rumah itu.


Otak kecilnya masih berusaha mencerna ucapan yang baru saja ia dengar itu.


****


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kantor milik Gavin, terlihat tiga laki-laki tampan tengah serius membicarakan sesuatu.


"kau serius?"tanya Justin yang hampir saja berteriak.


"sssstttt, pelankan suaramu."bisik Arman Seraya mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir.


Setelah merasa Justin tidak bereaksi lagi, Arman segera menceritakan semuanya.


"aku memang sengaja membeli rumah itu. karena selain harganya di bawah 10 juta, aku juga mempunyai tujuan lain."ucap Arman Seraya tersenyum.


"jangan bilang, kalau kau,--"ucapan Justin terhenti, saat mendapat anggukan kepala dari lawan bicaranya.


"kau gila Arman, bagaimana kalau Gavin,--"ucapan Justin lagi-lagi tak berlanjut.

__ADS_1


"aku nggak peduli,"ucap Arman cepat.


Menurutnya, sudah sepantasnya seorang wanita mendapatkan kebahagiaan. dan tidak lagi mendapatkan siksaan. karena pada hakikatnya, wanita itu diciptakan untuk mendapatkan kasih sayang bukan kekerasan. dan jika Elia tidak mendapatkan hal itu dari Gavin, maka dirinyalah yang akan memberikan semua itu


__ADS_2