
" mungkin Memang Mas Gavin mencintaiku apa adanya." lirihnya Seraya menundukkan kepala. sementara Hesti yang mendengar itu, melayangkan tatapan tajam.
" berani kamu ya," ujarnya Seraya mengangkat tangan hendak melayangkan satu tamparan ke arah gadis itu. Namun, pergerakannya terhenti saat mendengar suara ketukan di pintu utama.
" awas aja kau ya," ucap Hesti Soraya melangkahkan kakinya untuk menemu i orang yang tengah mengetuk pintu rumahnya itu.
karena kebetulan, para asisten rumah tangga saat ini, tengah libur karena memang sengaja diliburkan oleh Hesti.
Sementara Elia yang melihat kepergian dari mertuanya itu, segera mengangkat wajahnya. kemudian menghela nafas lega." syukurlah sudah pergi." gumamnya dalam hati Soraya mulai mengusap air matanya yang mengalir deras seperti air sungai yang tampak bendungan.
Setelah semuanya selesai, Elia segera menuju ke kamarnya. yang ada di ruang belakang. karena Gadis itu yakin, kamarnya ada di antara kamar para pembantu di rumah ini.
" pasti ini kamarnya," ucapnya dengan tersenyum kecil. setelah itu, gadis cantik itu segera membuka handle pintu. dan seketika, senyumnya mengembang. saat mengetahui, tebakannya tidaklah salah.
" benarkan ini kamarnya," ucap Gadis itu seorang diri. dengan segera, mulai memasuki ruangan kecil itu. Kemudian, mendudukkan dirinya di kasur lantai kamar itu.
" aku akan mulai mempercantik diriku sendiri. agar bisa, merebut hati suamiku kembali." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Setelahnya, Elia mulai membersihkan diri dan juga mempercantik dirinya dengan alat make up seadanya. Tentunya, Elia tampak sangat cantik. Karena pada dasarnya, Gadis itu memang sudah cantik alami.
"perfect," gumamnya dalam hati seraya memutar tubuhnya, di depan cermin. senyum Elia seketika mengembang. saat membayangkan wajah tampan suaminya.
Padahal, gadis cantik itu belum mengetahui seperti apa wajah suaminya itu. Tapi, dirinya sudah dapat menebak Jika suaminya itu sangatlah tampan.
" aku harus menemui mereka," gumam Elia Seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar. Yap, gadis cantik itu sempat mengintip ke arah ruang tamu. Dimana di sana, Elia melihat ibu mertuanya, Tengah berbincang-bincang dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan. dan Elia yakin, itu adalah suami dan kakak tirinya.
Langkah Elia, seketika terhenti. saat mendengar ucapan dari ibu mertuanya." bagaimana, Apa kalian sudah mendapatkan cincin untuk Hari Istimewa kalian?" tanya Hesti antusias.
Ada rasa sakit dan sesak di dalam diri Elia. saat gadis itu, mendengar ucapan dari kakak tirinya itu. Namun, sekuat tenaga Gadis itu mencoba untuk mengatur semua yang ada dalam dirinya agar tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.
" boleh aku gabung?" tanya Elia yang saat ini berdiri samping kursi yang tengah diduduki oleh ibu mertuanya itu.
Tentu saja, hal itu membuat atensi ketiga orang itu, seketika teralihkan. dan serempak, menatap ke arah Elia dengan Tatapan yang berbeda-beda. jika Hesti menatapnya dengan tatapan Jengah, berbeda dengan Gavin dan juga Manohara. mereka menatap dengan tatapan tak percaya.
Apalagi Gavin, mata laki-laki itu, seketika menatap Elia dengan tatapan yang sulit diartikan. dan sejenak, kedua mata itu saling bertemu dan mengunci satu sama lain.
__ADS_1
" Ih ngapain kamu gabung di sini? lebih baik, kau segera ke belakang buatkan kami minuman." ucap Monalisa dengan nada yang sangat Ketus.
Elia yang mendengar itu, seketika hanya tersenyum simpul. dan dengan segera, langsung melangkahkan kakinya menuju ke belakang untuk membuatkan minuman. sesuai dengan arahan Kakak tirinya.
Elia dengan segera menuangkan beberapa minuman ke dalam beberapa cangkir yang ada di hadapannya. dan tak sengaja, matanya seperti melihat sesuatu.
" obat perang*sang? sepertinya ini cocok," gumam Gadis itu penuh dengan senyuman licik." maafkan aku suamiku, aku akan membuatmu tidak bisa lepas dariku. dan nantinya, dengan sendirinya kau akan pergi meninggalkan Kakak tiriku." entah apa yang terjadi pada Elia. Mengapa Gadis itu menjadi licik seperti ini? apakah karena sakit hati yang ia rasakan, hingga membuatnya berubah 180 derajat? Entahlah. ini hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, Elia segera membawa ketiga Cangkir itu dengan senyuman manis di wajah cantiknya.
" Silakan diminum semuanya, kalau gitu, aku pamit undur diri." ujar Elia Seraya melangkah menjauh dari mereka. sesaat setelah, gadis itu menyerahkan ketiga Minuman itu kepada pemilik pemiliknya.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, mereka bertiga segera meminum minuman itu. dan tak lama berselang, ketiga Minuman itu, mengeluarkan reaksi masing-masing.
Jika Gavin mengalami reaksi sedikit panas. karena reaksi dari obat perang*sang itu, berbeda dengan kedua wanita berbeda usia itu.
Lesti dan Monalisa ketika tak sadarkan diri. karena memang, Elia memberikan obat penenang. agar rencananya dapat berjalan mulus tanpa hambatan.
__ADS_1