
Hari demi hari pun berlalu dengan semestinya. dengan harapan, hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. dan esok, akan lebih baik dari hari ini. Begitupun dengan pengharapan yang dilantunkan oleh Elia. Gadis itu berharap, akan datang kebahagiaan dalam hidupnya. Walaupun dirinya tahu, Penantian itu akan lama.
Tak terasa, waktu yang di rundingkan bersama-sama itu, ini semakin dekat. dan tak terasa, sudah 2 bulan berlalu semenjak hari itu. dan sepertinya, belum ada tanda-tanda jika Elia akan hamil. tentu saja, Hal itu membuat Gavin mulai dilanda kecemasan.
Karwna sang Ibu mulai sering kali memperingatinya. dan Hal itu membuat Gavin mulai merasa gelisah. Karena dirinya, sudah mulai mencintai dan menyayangi istri kecilnya itu.
" Elia Kau sedang apa?" tanya Gavin Seraya melingkarkan kedua tangannya di perut ramping Elia.
Sementara Elia, wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya." waktu kita tinggal beberapa bulan lagi Mas. dan aku yakin, pasti Mama sudah mempersiapkan calon untukmu." ucapnya Terdengar sangat Sendu.
Seketika itu pula, Gavin segera membalikkan tubuh istrinya. hingga mereka berdua, kini saling berhadapan. walaupun salah satu di antara mereka, tidak bisa melihat wajah yang lainnya. Namun, Gavin meyakini, ini tak akan berlangsung lama.
" Apa kau mencintaiku?" tanya Gavin secara tiba-tiba. Tentu saja, itu membuat Elia yang mendengarnya, terkekeh pelan.
" Bukankah perasaan itu tumbuh dari mata turun ke hati, lalu Bagaimana ceritanya, aku kan tidak bisa melihat Mas." ucap Elia mengingatkan.
Gavin yang mendengar itu, seketika menghembuskan nafasnya dengan kasar." Ayo ikut aku. Sekarang, kita ke rumah sakit" ucapnya Seraya menarik tangan istri kecilnya itu.
Elia yang mendengar itu, hanya menurut saja. karena memang, Gadis itu sudah ingin sekali melihat warna-warni dunia. dan tidak terpaku dalam satu warna. yaitu kegelapan.
__ADS_1
****
" Kalian mau ke mana?" tanya Hesti. saat mereka berdua, sudah berada di lantai bawah rumahnya.
" kita mau ke rumah sakit. ada konsultasi dengan dokter Amel." ucap Gavin melirik sekilas ke arah ibunya.
Hesti yang melihat dan mendengar itu, seketika mendengus kesal. dengan tetapan, menatap ke arah tempat lain.
" huh masih saja berusaha. lebih baik, kau segera menikah dengan calon yang ibu pilihkan. tidak usah mengurusi wanita tak berguna yang ada di sampingmu itu." ucapnya dengan ada yang sangat sinis dan juga Ketus.
" mah jaga bicaramu!" tegur Ivan.
Sementara Gavin yang mendengar ucapan dari ibunya itu, memutar bola mata malas. karena laki-laki itu, sudah merasa sangat Jengah dengan perlakuan ibunya itu.
di sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya sama-sama terdiam. Karena tenggelam dalam lamunan masing-masing.
" mas, tidak apa-apa ya kalau kamu melawan seperti itu?" tanya Elia menoleh ke arah samping di mana suaminya berada.
Gavin yang mendengarnya, ikut menoleh dan menatap istri kecilnya itu." memangnya, kau tidak sakit hati? mama baru saja menghinamu Lho." ucapnya dengan jantung yang masih tidak aman.
__ADS_1
Elia yang mendengar itu, menggelengkan kepala." Aku tidak pernah sakit hati. karena apa yang mama katakan itu, semuanya adalah kenyataan." ujarnya Seraya mengulas senyum kecil.
Gavin yang mendengar itu, Malah semakin merasa kagum dan terharu dengan sikap istri kecilnya itu. tangannya terulur, mengelus kepala istrinya itu dengan rasa yang seperti baru saja tumbuh di dalam hatinya itu.
Entahlah. tapi yang jelas, Gavin sangat menyayangi tadi yang ada di sampingnya itu. Perasaan, yang selama ini belum pernah ada di dalam hatinya. dan akhirnya, Kevin menemukan Pelabuhan terakhir dalam hatinya.
Tak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai boleh Gavin, telah sampai di parkiran sebuah rumah sakit spesialis mata. dan dengan segera, turun dari dalam mobil Seraya menggandeng istrinya itu.
***
" sekarang, kita ke ruangan dokter Amel." ucap Gavin Seraya tersenyum dan menatap istrinya itu.
Elia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, mereka berdua menunggu di kursi ruang tunggu yang ada di depan ruangan spesialis mata.
" Nyonya Elia!" Panggil salah seorang perawat. dan dengan segera, Elia dan Gavin, memasuki ruangan itu.
Sesampainya di dalam ruangan dokter Amel, Elia dan Gavin segera duduk di bangku yang berhadapan langsung dengan wanita cantik itu.
" Ada apa kau kemari?" Tanya Dokter Amel dengan nada yang sedikit Ketus.
__ADS_1
" Hei sekarang ini aku pasien mu ya," tegur Gavin pada wanita yang memakai jas berwarna putih itu.
tentu saja, hal itu membuat Amel yang mendengarnya, memutar bola mata malas. Kemudian, beralih menatap Elia yang sedari tadi tidak berkedip sama sekali. Hal itulah yang membuat Amel seketika tersadar.