
Kini, wanita paruh baya itu ikut menunggu Elia yang memang belum sadarkan diri. dan sedari tadi pulang, wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menatap sini ke arah sang menantu. Dengan mulut yang sesekali berkomat-kamit. Seperti, seorang dukun yang tengah membacakan mantra.
" Bagaimana kata dokter Vin?" Tanya Ivan kepada putranya. saat mereka Tengah duduk di sofa ruangan itu. dan tentunya, saat tidak ada sang Baginda ratu di antara mereka.
"hmmm, kata dokter, Elia mengalami kerusakan pada dinding rahimnya dan kata dokter, Elia susah memiliki anak." ucapnya Seraya menundukkan kepala.
Jelas saja, Kevin merasa begitu terpuruk tentang apa yang diketahui dari istrinya itu. dia saja seterpuruk ini. apalagi Elia, saat nanti, wanita itu tahu tentang kondisi tubuhnya.
Ya semoga saja, Elia akan kuat menghadapi cobaan dari sang Maha Pencipta itu. dan Kevin berjanji, akan menjaga dan menemani Elia sampai kapanpun. Karena, laki-laki itu sudah mulai menaruh harapan akan kelangsungan rumah tangganya bersama Elia.
Yap. benih-benih cinta milik Gavin, sudah mulai tumbuh subur di dalam hati laki-laki itu. Hingga membuatnya, tidak ingin kehilangan gadis itu. apapun kondisinya.
__ADS_1
Ivan yang mendengar ucapan dari putranya itu, hanya dapat menghela nafas panjang. Bagaimana kondisi rumah tangga anaknya nanti, saat istrinya tahu tentang semua ini. Bisa-bisa Gavin akan langsung disuruh pisah saat itu juga dengan Elia.
" kita akan berusaha mencari pengobatan yang terbaik untuk istrimu." ucap Ivan Seraya menepuk pundak Gavin. hingga membuat laki-laki muda itu, seketika menoleh ke arah sang ayah.
" Iya Pah, Gavin akan berusaha mencari pengobatan yang terbaik untuk Elia. lagi pula, sebentar lagi Elia akan mendapatkan pertolongan tentang penglihatannya itu." ucapnya tersenyum tipis.
Ivan yang mendengar ucapan dari putranya itu, hanya mengangguk-anggukkan kepala." Lakukan yang terbaik. Papa berdoa, agar semua diberi kelancaran. supaya istrimu bisa segera sembuh." ucapnya sembari menatap ke arah menantunya yang masih belum sadarkan diri.
Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala lirih. Kemudian, mereka kembali berbincang-bincang selayaknya seorang laki-laki. Apalagi jika bukan soal pekerjaan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengarkan obrolan mereka. dan Sepasang Mata, yang melihat ke arah kedua pria berbeda usia itu dengan Tatapan yang sulit diartikan.
Siapa lagi orangnya jika bukan Hesti. wanita paruh baya itu, Sudah dari tadi, mendengarkan obrolan dari dua orang laki-laki yang berbeda generasi itu. Setelahnya, Hesti memutuskan untuk bersikap seperti biasa saja. Karena Wanita paruh baya itu, memiliki rencana lain terhadap nasib gadis Malang itu.
__ADS_1
" Gavin, Bagaimana kabar tentang orang yang telah mencelakai Elia?" tanya Hesti. saat wanita itu, masuk ke ruangan VVIP tersebut.
Seketika itu pula, Gavin gelagapan dibuatnya. "eeeuumm, belum ada kabar Mah. Mungkin sebentar lagi." ucap laki-laki itu dengan sikap yang salah tingkah.
Benar saja, tak lama berselang, ponsel miliknya pun berbunyi. dan dengan segera, Gavin mengangkat panggilan itu. yang memang benar, panggilan itu adalah panggang dari anak buahnya.
" Halo, ada apa," tanya Gavin Seraya meloadspeaker panggilannya. agar kedua orang tuanya, dapat mendengar ucapan dari seseorang yang ada di seberang sana.
" tuan, kami sudah berhasil menemukan pelaku yang mencelakai Nona Elia." Ucap orang itu terdengar sangat girang. karena memang, Kevin menjanjikan sejumlah uang kepada anak buahnya yang berhasil mendapatkan pelakunya secara hidup-hidup.
" Baiklah kalau begitu, Aku akan segera ke sana." ucapnya Seraya memutuskan sambungan telepon itu.
__ADS_1
" kau sama papamu Pergi Saja. temui pelaku itu. biar mama yang menunggu istrimu." tiba-tiba saja, tidak ada angin tidak ada hujan, Hesti berkata seperti itu.
Trntu saja hal itu membuat Gavin dan Ivan yang mendengarnya, seketika Saling pandang.