
Berapa hari setelah kejadian pelabrakan itu, Elia menjadi sedikit murung dan tak bersemangat. dan hal itu membuat Arman dan Justin yang menyadari itu, mencoba untuk menghiburnya
"Elia, kau ini kenapa sih?"tanya Justin Seraya duduk di samping gadis itu. membuat Elia yang mendengarnya seketika menoleh ke arah laki-laki itu.
"aku nggak papa kok Kak, nggak usah khawatir."ujar Elia Seraya berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya.
Justin yang mendengar itu seketika tersenyum tipis. "kalau kamu memang belum siap untuk bercerita, tidak apa-apa. tapi nanti kalau kamu udah siap, kamu boleh bercerita pada kami,"ujarnya Seraya melirik ke arah Arman.
Elia yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala saja. dan mereka bertiga kembali untuk ke pekerjaan masing-masing. karena memang, sepertinya cafe yang baru mereka buka ini sudah mulai banyak pengunjung yang datang. sehingga mereka bertiga mulai kewalahan untuk menghandle semuanya.
"Elia, sepertinya kita membutuhkan satu pegawai lagi untuk membantu kita dalam mengurus kafe ini," ujar Arman saat mereka sama-sama telah terdiam cukup lama.
"euuummm, kakak bener juga kita memang sepertinya membutuhkan satu pegawai untuk membantu kita,"ujarnya Seraya tersenyum kecil.
"mendingan kita buat poster aja terus kita sebar di sosial media,"ujar Justin memberikan usul. dan hal itu langsung mendapatkan anggukan persetujuan dari Elia dan juga Arman.
"kalau begitu, biar aku saja yang membuat semuanya. kalian tinggal mempromosikan saja nanti di sosial media,"ujar Justin penuh dengan semangat.
__ADS_1
Akhirnya ketiga orang itu memutuskan untuk segera membuat poster yang akan mereka gunakan untuk bahan promosi di sosial media.
"ternyata mereka semakin lama semakin kompak," ucap Gavin yang terlihat mengintai kegiatan ketiga orang itu dari balik pohon yang ada di seberang jalan. namun begitu, Gavin merasa sedikit gengsi untuk sekedar menyapa ketiga orang itu.
"kenapa aku bisa seperti ini sih, apa yang sebenarnya terjadi pada hatiku?"tanya laki-laki tampan itu pada dirinya sendiri. dan setelah cukup lama mengamati kegiatan Elia dan yang lain, Gavin memutuskan untuk melangkah pergi dari tempat itu. karena memang laki-laki tampan itu hanya ingin mengecek semuanya apakah telah baik-baik saja atau tidak.
*****
"sialan apa yang harus aku lakukan?"tanya Gavin Seraya memukul stir mobil miliknya. saat laki-laki tampan itu, sudah berada di perjalanan.
Rasa gengsinya yang setinggi langit, membuat Gavin tidak ingin mengakui jika dirinya masih memiliki rasa pada Elia.
sesampainya di depan pintu rumah mewah itu, Kevin segera membuka pintu utama. namun dengan segera, kegiatannya itu terhenti saat mendengar percakapan dari seseorang yang berada di dalam sana.
"jadi, Mama yang menjebak Elia supaya seperti sedang berselingkuh dengan laki-laki itu?"samar-samar Kevin mendengar ucapan Monalisa berbincang-bincang dengan sang ibu.
"iyalah sayang, Mama yang membuat skenario itu. dan beruntungnya, Gavin mempercayai semuanya. dan akhirnya impian Mama untuk memiliki menantu idaman terlaksana juga berkat rencana itu,"ujar Hesti Seraya tersenyum simpul.
__ADS_1
ceklek.
"oh jadi ini semua rencana dari mama?"tanya Gavin saat laki-laki tampan itu membuka pintu dan langsung menghampiri dua wanita berbeda usia yang tengah asik berbincang itu.
Tentu saja, kedatangan Gavin yang sangat tiba-tiba itu, membuat Hesti seketika terkejut dan dengan segera, berdiri untuk meraih tangan laki-laki tampan itu.
"Gavin tolong dengarkan mama dulu nak, Mama ngelakuin ini hanya untuk,--"ucapan Hesti terhenti saat mendengar sahutan dari putranya itu.
"Mama benar-benar keterlaluan! setelah ini, aku tidak ingin mendengar mama berurusan lagi dengan Elia,"ucap Gavin Seraya beranjak dari tempatnya berdiri.
Namun, seketika terhenti dan langsung berbalik badan menatap dua wanita yang masih terlihat pucat pasti karena ketahuan itu.
"aku akan berusaha kembali Dengan istriku. dan jika itu berhasil, aku akan pindah dari sini. aku sudah tidak perduli lagi dengan kalian, sudah cukup aku mengikuti ucapan Mama yang ternyata adalah salah,"ucap laki-laki itu dengan tatapan terluka.
"tidak, kau tidak boleh pergi meninggalkan mama. kamu adalah satu-satunya pewaris kekayaan mama. jika kamu pergi lalu siapa yang akan mewarisi ini semua?"tanya Hesti Seraya mencoba meraih tangan putranya.
"minta tolong saja sama menantu kesayangan mama,"ujar Gavin Seraya melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
Laki-laki tampan itu tidak menghiraukan teriakan dan tangisan sang ibu yang tengah meraung-raung mengharap dirinya untuk kembali. rasa sakit di hatinya, telah mencapai batas wajar. sehingga membuat laki-laki tampan itu, mengacuhkan keadaan sekitar.
Padahal biasanya, Gavin adalah sosok laki-laki yang tidak akan pernah tega untuk melihat kesedihan di wajah ibunya. namun saat ini, mungkin Gavin harus belajar menjadi orang yang sangat cuek.