Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 110


__ADS_3

Kini, Elia tengah duduk di samping ranjang sang ayah. dengan mata, yang masih menatap datar ke arah laki-laki paruh baya itu.


Sementara Amar, laki-laki paruh baya itu menatap Elia dengan tatapan yang sangat sendu. namun, Amar sama sekali tidak berani untuk menyentuh gadis itu. karena memang, kesalahan di masa lalu terlalu fatal sehingga tidak akan mudah untuk mendapatkan Maaf dari gadis itu.


"Ayah bagaimana keadaannya?"tanya Elia mencoba untuk tetap tersenyum kepada laki-laki paruh baya itu. walaupun, perasaan gadis itu saat ini sangatlah berkecamuk.


Perasan marah, benci, kecewa, semua bercampur menjadi satu. membuat rasa sesak dan nyeri di ulu hati. membayangkan, bagaimana perlakuan ayahnya dulu pada Elia yang tidak pernah bisa melawan.


Apalagi saat kedatangan anggota keluarga baru. ayahnya itu malah semakin mengacuhkan dirinya. tentu saja itu tidak akan pernah lupa dan menghilang dari alam bawah sadar gadis itu.


"maafkan ayah Elia,"tiba-tiba saja lamunan Elia buyar saat mendengar ucapan dari pria paruh baya itu. apalagi saat tangan kekarnya, menggenggam tangan mungil Elia. membuat gadis itu, seketika langsung merubah ekspresi wajahnya. yang awalnya sendu, berubah menjadi datar kembali.


"Ayah cepat sembuh, Elia mau kembali bekerja lagi."ujarnya Seraya beranjak dari tempat duduknya. dan dengan segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. karena Elia tidak ingin, hatinya semakin rapuh saat melihat keadaan laki-laki paruh baya itu.


Bagaimanapun juga keadaannya, tetaplah Ayah kandungnya. yang harus dirinya hormati dan juga sayangi. namun untuk saat ini, Elia mengaku belum siap untuk memaafkan perbuatan laki-laki paruh baya itu.


Elia sangat membenci situasi seperti ini. situasi di mana seorang anak, tidak boleh membalas perbuatan kejam orang tuanya. padahal menurutnya, ada sebab pasti ada akibat. semut saja pasti akan menggigit jika selalu diinjak. tapi mengapa manusia harus selalu memaafkan jika disakiti? ini tidaklah terlalu adil untuknya.


Gadis cantik itu berjalan dengan sangat cepat tanpa menghiraukan suara ayahnya yang memanggil namanya dari belakang sana. dadanya terasa sangat nyeri sampai ke ulu hati.

__ADS_1


Sesampainya di teras rumah sang ayah, Elia barulah menangis tersedu-sedu."aaakkkhhh! aku benci situasi seperti ini!"teriak Elia seorang diri.


Gadis itu seketika luruh ke lantai dengan posisi berlutut dengan tangisan yang masih menggema di teras rumah itu. membuat salah satu art-rumahnya, seketika berlari dan langsung memeluk gadis itu dengan erat.


” non Elia tidak apa-apa?"tanya bi Wati Seraya mengusap punggung gadis cantik itu.


"Mbok, aku membenci situasi ini!"ucapnya menangis terisak Seraya sesekali menyentuh dan memukul-mukul dadanya.


Wanita paruh baya itu segera mengeratkan pelukan pada anak majikannya itu. dirinya tahu apa yang dimaksud oleh Elia.


"sabar, bibi tahu apa yang kamu rasakan, sabarlah pasti semua akan indah pada waktunya."ucap Bi Wati Seraya terus mengusap punggung gadis itu. mencoba untuk menenangkan perasaan dari anak majikannya yang mungkin tengah meledak-ledak.


Tanpa disadari oleh Elia, sedari tadi ucapan dan juga semua yang dilakukan oleh gadis itu, telah disaksikan oleh sang ayah. Amar yang mendengar itu, mengepalkan tangannya kuat-kuat. dirinya menjadi Ayah yang sangat brengsek karena tega menelantarkan dan malah tidak memperdulikan darah dagingnya. hanya karena, suatu hal yang tidak disengaja.


"maafkan ayah sayang, seharusnya Ayah tidak berhak untuk memintamu datang kembali ke sini,"ucap laki-laki paruh baya itu Seraya mengusap ujung matanya dengan ibu jari.


Kemudian, Amar berjalan kembali menuju ke kamarnya. tadi sewaktu Elia melangkah dengan cepat tanpa menghiraukan ucapannya, laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk menyusul putrinya. namun kenyataan pahitlah yang ia dapatkan. kenyataan pahit yang menyadarkannya bahwa Amar tidaklah pantas disebut sebagai seorang ayah.


Karena laki-laki paruh baya itu, merasa sangat gagal menjadi pelindung Putri satu-satunya itu.

__ADS_1


*****


Kini Elia telah sampai di depan cafe yang tengah ya kelola bersama dengan sahabat-sahabat suaminya itu. sebelum masuk, gadis cantik itu mengusap air matanya terlebih dahulu. supaya tidak mencurigakan bagi yang lainnya.


Tepat di saat gadis itu menggeser pintu masuk, pandangan matanya seketika mengembun. saat mendapatkan sesuatu yang membuat ia terkejut yang saat ini berada tepat di depan matanya.


"sayang, ini mama."ucap wanita paruh baya Seraya berjalan untuk mendekatinya.


Sementara Elia, gadis cantik itu masih saja terdiam di tempatnya dengan tatapan mata yang sangat hampa. tiba-tiba saja sebuah tepukan, membuat gadis cantik itu tersadar.


"Maaf apa kita saling mengenal?"tanya Elia dengan nafas yang naik turun. menandakan bahwa gadis itu sangat-sangat emosi saat ini.


"ini mama sayang, apa kamu lupa dengan wajah mama?"tanya wanita paruh baya itu yang melangkahkan kaki dan mencoba untuk menyentuhnya.


"Maaf nyonya, saya tidak mengenal Anda."ujar Elia melangkahkan kakinya Seraya menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan kebencian yang sepertinya telah mendarah daging.


Membuat wanita paruh bayar yang melihat itu, seketika langsung tersadar. jika ternyata, Elia bukanlah lupa dengan wajah ibunya. melainkan, mencoba melupakan.


"maafkan Mama sayang, Mama menyesal."ujar wanita paruh baya itu yang mengetahui maksud dari putrinya.

__ADS_1


__ADS_2