
Sementara itu Gavin masih terlihat berdiam diri di tempatnya. sepertinya, laki-laki tampan itu berusaha untuk mencerna kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu.
"aku akan mendapatkanmu kembali, apapun yang terjadi kau memang akan menjadi milikku." ujar Gavin Seraya melangkah pergi dari sana.
Tak lama berselang, setelah kepergian laki-laki tampan itu, dua orang gadis datang dan memasuki Cafe itu.
"di mana dia?"tanya seorang gadis Serayamengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. seperti seseorang yang tengah mencari sesuatu.
"mungkin dia ada di dalam,"ujar gadis lainnya seraya menunjukkan ke arah dalam ruangan itu.
Di saat kedua gadis itu tengah fokus menatap ke arah lorong ruangan itu, tiba-tiba saja suara seseorang, membuat kedua gadis itu merasa sangat terkejut.
"permisi, kalian mau cari siapa?"tanya dua laki-laki tampan itu secara bersamaan.
Sontak saja kedua gadis cantik itu seketika menoleh Seraya mundur satu langkah karena merasa terkejut.
"astaga! kaget gue,"ujar gadis itu Seraya mengusap dadanya yang terasa berdenyut karena rasa terkejut itu.
"emm, apa benar Elia bekerja di sini?"tanya gadis yang satunya Seraya menatap Arman dan juga Justin secara bergantian.
"oh Elia, dia berada di belakang sana sedang membuat sesuatu inovasi baru untuk dihidangkan di menu utama kami,"ujar Justin menatap gadis itu dengan tak berkedip.
"apa boleh kami masuk?"tanya kedua gadis itu meminta izin.
"boleh sih, tapi kalian ini siapa ada hubungan apa dengan Elia?"tanya Justin bertubi-tubi. hingga membuat kedua gadis itu, seketika saling pandang.
"kami ini teman Elia,"ujarnya Seraya mengulurkan tangan kepada kedua laki-laki tampan yang ada di hadapannya itu. "perkenalkan, gue Sonya. dan ini temen gue namanya Marsha,"
Justin yang mendengar itu segera menyambar tangan milik Sonya dan menjabatnya. "gue Justin. gue juga temennya Elia kok,"ucapnya Seraya tersenyum tipis.
Sonya dan juga Marsha yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. "boleh kan kami bertemu sama Elia?"tanya gadis itu.
"boleh biar aku panggilkan,"ujar Arman yang sedari tadi hanya diam dan menatap datar ke arah 2 gadis yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Entahlah, Arman merasa tidak ada ketertarikan melihat dua gadis yang ada di hadapannya itu. yang ada di dalam hatinya saat ini, hanyalah nama seorang gadis yang diam-diam, telah mengisi seluruh ruang hati milik laki-laki yang bernama Arman Hendrawan itu.
*****
tok tok tok
"Elia, apa kamu di dalam?"tanya Arman saat laki-laki tampan itu baru saja menginjakkan kakinya di depan sebuah pintu toilet.
Terdengar dari dalam sana, suara seseorang yang tengah menangis sesenggukan. tentu saja, itu membuat Arman yang mendengarnya merasa panik.
Takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Elia, dengan segera Arman mendobrak pintu itu.
Brak
Tepat saat pintu itu terbuka lebar, terlihat Elia tengah terduduk di lantai dengan menangis sesenggukan. tentu saja, hal itu membuat Arman yang melihatnya, segera berlari dan menghampiri Elia yang masih bercucuran air mata.
"apa ini karena Gavin?"tanya Arman yang langsung ke inti permasalahannya. membuat Elia yang mendengarnya, seketika mendogak menatap mata tegas milik sahabat suaminya itu. dan tiba-tiba,..
Brughh
"menangislah yang kencang. jika hanya menangis yang membuatmu bahagia dan juga tenang. maka lakukanlah!"ujarnya Seraya mengusap kepala gadis kecil itu.
Setelah puas menangis, Elia segera melerai pelukan itu."maaf tidak seharusnya aku menangis dalam pelukan laki-laki lain,"ujar Elia menundukkan kepala.
"tidak masalah Elia, aku siap menjadi sandaranmu jika kau tengah gundah gulana seperti ini."Arman mengusap air mata yang masih membasahi pipi gadis itu.
"ayo kita keluar, ada teman-temanmu di depan sana,"ucapnya Seraya menarik tangan Elia untuk segera keluar dari kamar mandi itu.
"siapa, sepertinya aku tidak pernah mendapatkan teman?"tanya Elia dengan raut wajah kebingungan.
"nanti kamu juga tahu kok,"ujarnya Seraya masih menarik tangan Elia untuk menuju ke ruangan depan cafe itu.
*****
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, terlihat Gavin yang tengah mengobrak-abrik barang-barang yang ada di ruangan kerjanya.
"aarrgggghhh!! Sialan!"
bugh,..
srek,..
prang,..
Terlihat laki-laki tampan itu tengah mengobrak-abrik semua barang yang ada di ruangan kerjanya itu.
"aku harus bagaimana agar kamu bisa percaya? hmm,"tanya Gavin Seraya mencengkeram sebuah foto kecil yang ada di tangannya.
"aku memang benar-benar laki-laki bodoh! maafkan aku Elia, maafkan aku!"ujarnya Seraya mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.
Drrttt,..
drtt,..
Di saat pikirannya tengah kalut, suara ponselnya berhasil membuat pikiran Gavin terhenti. dan dengan segera menyambar benda pipih itu.
"halo, ada apa?"
"halo tuan, nyonya besar pingsan."terdengar suara di seberang sana yang begitu panik.
"kenapa bisa pingsan?"tanya Gavin dengan nada yang sangat datar.
"saya tidak tahu tuan, sebelum pingsan Nyonya sempat berteriak dan memanggil nama Nyonya Monalisa."ujar pelayannya.
"ya sudah kalau begitu, saya akan segera pulang"
Tut,..
__ADS_1
Setelah memutuskan sambungan telepon, laki-laki tampan itu segera melangkah dengan sedikit tergesa-gesa. walaupun hatinya masih merasa kecewa dengan sikap wanita paruh baya itu, namun Gavin tidak menginginkan sesuatu terjadi pada wanita paruh baya yang telah membesarkannya itu.