
Setelah selesai urusan dengan para pelaku yang telah membuat istrinya celaka itu, Gavin segera menuju ke rumah sakit untuk menemui sang istri. di sepanjang perjalanan, Gavin tak henti-hentinya merutukin nasibnya yang begitu sial.
Memang benar apa kata pepatah. Terkadang orang jahat itu bukanlah orang lain. Melainkan, orang yang akrab dengan kita. Karena musuh sesungguhnya dalam hidup ini adalah orang-orang terdekat yang mengetahui Sisi lemah dan juga kekurangan dari diri kita masing-masing.
" Gavin masih tidak menyangka, bahwa pelakunya adalah Nella. orang yang Gavin anggap yang paling tulus Setelah Papa sama Mama." ucap laki-laki itu Seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
Sepertinya, laki-laki itu masih syok dengan kenyataan yang baru saja dia temui. Karena menurutnya, Nella adalah sosok wanita yang sangat baik. bahkan kebaikannya sering dijuluki sebagai titisan dewa oleh teman-teman waktu sekolah dulu.
Namun, Mengapa sekarang seperti ini. Sifat aslinya tidak lebih dari sesosok iblis yang mengerikan." Aku melakukan ini, karena aku merasa cemburu dan marah kepadamu Gavin. Kenapa kau malah memilih dia, bukannya aku hah?!" itulah sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Nella sesaat sebelum wanita itu dikirim ke kantor polisi.
__ADS_1
Sementara Ivan, laki-laki paruh baya itu juga masih terdiam di tempatnya. Karena Ivan juga sama seperti Gavin. merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Karena memang, dulu Nella sering berkunjung ke rumahnya saat tengah menjalin hubungan dengan Gavin. dan setahu dirinya, Nella adalah sosok wanita yang sangat lembut dan juga baik. Namun ternyata, ungkapan pepatah yang mengatakan "Don't judge people by the cover" itu adalah benar adanya.
Karena terlalu memikirkan masalahnya, hingga Gavin tak menyadari, jika dirinya sudah sampai di depan rumah sakit tempat istrinya berada. dan dengan segera, laki-laki Tampan itu turun dari dalam mobil.
" Apa kau akan mengatakan kejujuran ini pada Elia?" Tanya Ivan pada Sang putra saat mereka berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit.
Gavin yang mendengar itu, sekilas menoleh dan menatap ke arah sang ayah dengan Tatapan yang sendu." Entahlah Pah, Gavin juga bingung. Bagaimana cara mengatakan ini semua pada Elia." ucap Gavin Seraya menundukkan kepala karena merasa frustasi dengan masalah yang melanda kehidupannya itu.
Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar perawatan istrinya. yang kebetulan, berada di lantai tiga.
__ADS_1
Ceklek
Saat pintu kamar dibuka oleh Gavin, mata laki-laki itu seketika berbinar. saat mendapati, Elia sudah tersadar dari tidurnya. Gegas, laki-laki itu berjalan dengan cepat untuk menghampiri Elia.
" syukurlah kau sudah bangun. Aku takut sekali." ucapnya Seraya memeluk tubuh mungil istrinya. dan tanpa sadar, sesekali Gavin mengecup kepala gadis itu.
tentu saja, interaksi laki-laki itu, tak luput dari pantauan seorang wanita paruh baya. siapa lagi jika bukan Hesti. Seketika itu pula, ekspresi wajah wanita paruh baya itu berubah 180 derajat.
" dasar menyebalkan!" gerutunya. kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang rawat itu.
__ADS_1
Hesti Merasa sangat kesal saat melihat interaksi yang ditunjukkan oleh anak dan menantunya itu. Padahal, mereka sama-sama halal karena memang sudah resmi menjadi suami istri. Mengapa Hesti bisa bersikap seperti itu. apa karena kebencian wanita itu, sudah mendarah daging? dan tak tahukah Hesti, bahwa benci dan sayang itu setipis benang sutra, yang sewaktu-waktu bisa berubah sejalan dengan kehendak Tuhan? Entahlah mungkin istri melupakan hal itu.
Padahal, hati manusia tidak akan pernah bisa ditebak. jika hari ini A, tidak ada yang tahu, esok hari hati akan berubah B. Maka dari itu, Janganlah pernah membenci orang terlalu dalam karena dapat menjadi bumerang bagi kita sendiri.