Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 89


__ADS_3

Sore harinya, waktu yang ditunggu tunggu pun tiba. dan itu membuat Gavin, merasa sangat tidak sabar. pasti akan cantik sekali. begitulah pikiran laki-laki itu.


Karena saking merasa tidak sabarnya, Gavin sampai berjalan ke sana kemari dengan raut wajah tidak tenang. karena sudah dari tadi, dokter Jessie belum juga datang ke ruangan istrinya. tidak tahu kah dokter itu, jika saat ini, Gavin sangat berharap harap cemas terhadap kehadiran dokter itu. untuk segera membuka penutup mata milik istrinya.


" sabarlah Vin, kau terlihat tidak sabar ya," ucap Justin menggoda sahabat sekaligus Atasannya itu.


Namun, Gavin sama sekali tidak menggubris ucapan-ucapan yang keluar dari mulut para sahabatnya itu. yang ada di pikirannya saat ini, adalah rasa tidak sabar untuk melihat wajah cantik istrinya saat sudah bisa melihat.


Entahlah, mengapa dia masih bersikukuh bahwa tidak memiliki perasaan terhadap istrinya itu. Padahal, jelas-jelas laki-laki itu terlihat sangat antusias dari sorot matanya. Namun, tertutup oleh gengsi dan juga wajah datar laki-laki itu.


"Vin, kalau kamu memang masih mencintai dia, pernah Gengsi. atau kamu akan menyesal seumur hidup." ucap Justin Seraya menepuk pundak sahabatnya itu.


Gavin yang mendengar itu, hanya terdiam. karena dirinya sendiri pun, juga merasa bingung dengan hati dan pikirannya. karena seringkali, keduanya tidak sinkron. dan sering bertabrakan satu sama lain.


" maaf tuan saya terlambat," ucap seseorang dari arah belakang. dan tentunya itu membuat Gavin dan yang lain, seketika menoleh. dan mendapati dokter Jessie Tengah berdiri di belakang Gavin dan teman-temannya.

__ADS_1


" tidak masalah dok, lebih baik Segera lakukan. Saya tidak ada waktu lagi." ucap Kevin dengan ekspresi wajah datar. dokter Jessy segera melakukan kepala. dan dengan segera, langsung masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut. Diikuti Gavin dan yang lainnya.


" apa semua sudah siap?" Tanya Dokter cantik itu menatap ke arah Elia yang Tengah duduk dan bersandar di kepala ranjang rumah sakit itu.


Elia menganggukkan kepala." sudah Dok, saya sudah tidak sabar ingin melihat wajah tampan suami saya." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.


Dokter Jessie yang mendengar itu, seketika mengulum senyum karena merasa geli dengan ucapan dari wanita yang ada di hadapannya itu.


"ekhem," Gavin segera berdehem, saat mendengar penuturan dari istrinya itu. karena Entah mengapa, hatinya terasa berdesir saat mengetahui sebuah fakta. fakta jika istrinya, masih sangat mencintainya. Diam-diam, ada rasa bangga yang menyelinap masuk ke dalam hati laki-laki itu.


hingga membuat dokter Jessie, seketika menganggukkan kepala. dan dengan cekatan, kedua perawat yang berdiri di samping dokter itu, segera membuka perban yang ada di mata Elia.


Semua orang yang ada di sana, melihat dan menantikan itu, dengan perasaan yang tidak sabar yang cukup dominan. Apalagi, Gavin. karena laki-laki Tampan itu, sudah mulai lelah jika orang tuanya selalu menghina kekurangan yang dimiliki oleh istrinya itu. Dan sebentar lagi, semua akan berubah menjadi lebih baik.


Drrrtt

__ADS_1


Fokus Gavin, teralihkan saat mendengar bunyi nyaring yang berasal dari ponselnya. dan dengan segera, laki-laki Tampan itu memencet tombol berwarna hijau. saat tahu, siapa yang menelponnya.


" Halo mah, ada apa?" tanya Gavin dengan nada sedikit malas. karena laki-laki itu tahu. apa yang akan dibahas oleh Ibunya.


" segera kamu pulang, dan ajak Monalisa untuk fitting baju tunangan kalian." ucap Hesti dari seberang sana.


" nanti dulu ya mah, Gavin,--" belum sempat, laki-laki itu melanjutkan ucapannya, terdengar suara Hesty yang menggelegar dari seberang sana.


" Gavin, jangan banyak alasan segera datang ke sini atau kamu,-" sengaja, wanita paruh baya itu menggantung ucapannya. karena dirinya tahu, anak itu pasti akan langsung menurutinya.


" baik kalau gitu, Gavin pulang." ucapnya cepat. dengan segera, langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. setelah Panggil Itu dimatikan.


" tolong kalian Jaga Dia sebentar, Saya ingin pergi dulu." ucapnya dengan bahasa formal.


Justin dan Arman yang mendengar itu, menganggukkan kepala patuh. karena saat ini, Gavin Tengah berperan sebagai atasan mereka. bukan sebagai sahabat. dan mereka wajib untuk mengikuti semua perintah dari atasan mereka.

__ADS_1


Akhirnya, Gavin keluar dari dalam ruangan itu saat mendapatkan anggukan dari kedua sahabat sekaligus karyawannya itu. laki-laki Tampan itu, menyusuri koridor rumah sakit, dengan ekspresi wajah datarnya. dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


__ADS_2