Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 99


__ADS_3

Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Gavin memutuskan untuk menemui Elia dan memberinya satu peringatan kelas. agar tidak berdekatan dengan kedua laki-laki itu.


Gavin memanglah contoh laki-laki yang ingin menangnya sendiri dan juga egois. kenapa dirinya bisa mendapatkan dua wanita sekaligus. namun akan marah jika Elia didekati oleh orang lain? itu tidak adil namanya. apalagi, ibunya sendiri telah menyuruhnya berkali-kali untuk segera menceraikan Elia.


Itu artinya, diantara dirinya dan Elia akan tidak ada lagi hubungan. dan di antara mereka, akan kembali asing seperti dulu. harusnya itu membuat Gavin merasa lega bukan malah mengamuk tidak jelas seperti ini.


"sudahlah lebih baik aku cari saja Elia," ucapnya Seraya beranjak dari kursi kebesarannya. dan dengan langkah tergesa-gesa, Gavin segera melangkah keluar dari gedung perusahaannya itu.


Untung saja, laki-laki tampan itu mengetahui di mana rumah Arman sebelumnya. karena memang mereka adalah sahabat.


Tak butuh waktu lama, Akhirnya kini Gavin telah sampai di depan rumah milik Arman yang tampak sangat asri itu. dan dengan langkah yang lebar, laki-laki tampan itu segera masuk ke dalam pekarangan rumah Arman. dan dengan segera, mengetuk pintu.


Tak berapa lama, terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam. dan dengan segera muncullah sesosok wanita cantik dari balik pintu.


Seketika itu juga, mata mereka sama-sama membelalak lebar. dengan prasangka masing-masing.


"Elia,"

__ADS_1


"Mas Gavin,"


"untuk apa kamu di sini?"tanya kedua orang itu dengan pertanyaan yang sama dan juga hampir bersamaan.


"seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?untuk apa kau berada di rumah Arman atau jalan-jalan,-"ucapan Gavin menggantung di udara. saat melihat gelengan kepala dari wanita yang ada di hadapannya itu..


"tidak jangan pernah menuduhku seperti itu. karena aku tidak seperti apa yang kau pikirkan."ucap Elia dengan nada yang tegas.


Bukannya takut atau merasa bersalah karena telah memfitnah Elia, Gavin justru malah menatap sinis Seraya tersenyum miring.


plak


Seketika itu pula, wajah Gavin tertoleh cukup kuat ke arah samping saat mendapatkan tamparan keras dari Elia.


"jaga ucapan mu Mas, kalau kamu datang ke sini hanya untuk mengacaukan semuanya, lebih baik kau pergi saja dari sini!"ucap Elia dengan nada yang sangat lantang.


Hingga membuat Gavin seketika terdiam di tempatnya. karena dia tidak menyangka, jika Elia si gadis polos yang membuatnya jatuh cinta, dapat berubah sesangar ini.

__ADS_1


Padahal, Gavin tidak tahu saja jika seseorang dapat berubah menjadi orang lain bahkan tidak dikenali oleh orang sekitar akibat satu hal. yaitu apabila hatinya disakiti. apalagi orang yang menyakitinya itu, adalah orang yang di harapkan akan menjadi pelindung.


Namun kenyataannya, malah menjadi pembunuh mental terbesar dan terkuat nomor satu untuk orang itu.


"kau memang telah berubah Elia, aku bahkan tidak mengenali siapa dirimu saat ini."ucap Gavin tersenyum hambar.


Membuat Elia yang mendengar itu, seketika tersenyum sinis."justru aku merasa kecewa denganmu Mas, bisa-bisanya aku berpikiran seperti itu."ucap dengan sorot mata yang sangat terluka.


"semua itu bisa saja terjadi Elia, sekarang logikanya saja, mana ada orang berbeda lawan jenis dalam satu ruangan tidak melakukan apapun, itu namanya mustahil!"


"itu hanya pikiranmu saja, saya tidak pernah melakukan hal itu wahai tuan Gavin Harsono yang terhormat. terserah anda jika anda tidak percaya. lebih baik sekarang Anda pergi saja dari sini."ucap Elia balik badan dan bersiap untuk melangkah masuk ke dalam rumah.


Namun, langkahnya kembali terhenti dan membuat Elia membalikkan badannya menatap ke arah laki-laki yang masih terdiam di tempatnya itu.


"oh ya, satu hal lagi Tuan Gavin Harsono, saya dan kak Arman itu tidak ada apa-apa. terserah anda jika anda tidak mempercayai hal itu,"tepat setelah mengatakan hal itu, Elia benar-benar menutup pintu rumah itu.


"sialan!!"maki Gavin saat laki-laki itu baru tersadar dari lamunannya. dan dengan segera, kembali menuju mobil yang terparkir di halaman rumah itu. dan setelahnya, segera melajukan kendaraan itu menjauh dari rumah sederhana yang ditempati oleh Elia.

__ADS_1


__ADS_2