
Malam harinya, setelah Gavin mengantarkan Elia ke tempat yang lebih aman, Iya itu di Rumah Belakang. rumah di mana tempat para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Harsono berada.
Setelah mengantarkan Elia untuk beristirahat, Gavin segera melangkahkan kaki untuk menuju ke kamarnya. Namun, Baru beberapa langkah laki-laki Tampan itu berjalan, suara Bariton dari belakang, mampu membuat laki-laki itu berhenti.
dengan perlahan, Gavin menoleh dan mendapati sang ayah menatapnya dengan tatapan terluka. Gavin yakin, jika ayahnya itu sudah diberitahu oleh sang ibu tentang masalah yang ia hadapi.
Memang, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena apa yang dia lakukan itu adalah salah. yang dapat Gavin lakukan hanyalah menundukkan kepala dan menerima semua amarah yang nantinya pasti akan dilontarkan oleh laki-laki paruh baya itu yang ada di hadapannya itu.
" duduk!" ucapnya dengan nada datar namun begitu sangat kentara aura kecewa dan juga amarahnya. Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala.
Dengan perlahan-lahan, laki-laki Tampan itu duduk di samping sang ayah." Maaf Pah," ucapnya Seraya menundukkan kepala.
Ivan Harsono yang mendengar itu, masih belum mengeluarkan suara apapun. Tatapannya, masih saja datar entah menatap ke mana. yang jelas, tatapan seperti itu Menurut Gavin adalah Tatapan yang paling mengerikan.
" Kenapa kamu bisa melakukan hal itu?" tanya laki-laki paruh baya itu melirik sekilas ke arah sang Putra.
__ADS_1
Gavin yang mendengar itu, semakin menundukkan kepala karena perasaan bersalah yang menggelayud di dalam hatinya.
" Maafkan aku Pa, tapi percayalah sama Gavin, Gavin tidak sengaja melakukan hal itu." ucapnya dengan ekspresi wajah serius. dan juga mata yang tidak pernah bisa bohong.
Ivan Harsono yang melihat itu, seketika menghela nafas panjang." lalu, Apa tujuanmu sekarang?" tanya laki-laki paruh baya itu kepada sang Putra.
" Gavin akan bertanggung jawab." ucapnya dengan nada yang sangat mantap.
Ivan Harsono yang melihat itu, menatap lekat ke arah sang Putra." Memangnya kamu tahu Siapa gadis itu?" Tanya Ivan dengan ekspresi wajah penasarannya.
"apa?!!" tiba-tiba saja, seseorang berteriak dari arah belakang saat mendengar ucapan dari Gavin itu. dan seketika membuat Ivan dan juga Gavin yang mendengar itu, menoleh ke arah sumber suara.
" jadi gadis itu, bagian dari keluarga Wirawan? keluarga yang menolakmu secara mentah-mentah itu?" tanya Hesti dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.
" Iya Mah, bahkan, Elia adalah Putra kandung dari tuan Amar dan juga nyonya Sherly. istrinya terdahulu." ucap Kevin menjelaskan semuanya pada sang mama.
__ADS_1
Lesti yang mendengar itu, segera memasang wajah tenangnya. namun juga, dengan senyuman yang menyeringai. entah apa yang akan direncanakan oleh wanita paruh baya itu. Hanya Tuhan dan author yang tahu Hehehe.
" jadi Kapan kamu akan melamar dia? Papa tidak mau nama keluarga kita tercoreng hanya karena masalah seperti ini." ucap Ivan dengan nada yang sangat tegas.
" Pah apa ya Papa lakukan?" tanya Hesti mencoba menghentikan tindakan konyol suaminya itu.
" Nah kita tidak ada pilihan lain, apa mama mau kalau gadis itu terjadi apa-apa? bagaimanapun juga, Gadis itu mengandung cucu kita. darah daging kita mah," Ivan memberi pengertian pada sang istri.
" tapi Pah,..." Hesti masih ingin menyangkal perintah dari sang suami. Karena wanita paruh baya itu sangat merasa tidak Sudi untuk mendapatkan menantu seperti itu.
Walaupun, Elia adalah dari orang yang berada, tetap saja Gadis itu mengalami sesuatu yang tidak sempurna. dan itu sangatlah pantang untuk diterima menjadi mantu keluarga besar Hesti.
" Sudahlah mah, Jangan pernah membantah perintah papa." ucapnya dengan nada tegas tak terbantahkan.
Sementara Gavin yang mendengar itu, hanya menyunggingkan senyum karena merasa lega. dengan apa diperintahkan oleh sang papa.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu istirahat. dua hari lagi kita akan melamar ke keluarga Wirawan." ucap Ivan Harsono Seraya beranjak dari duduknya.